Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2021-01-10 15:33:37

11 Tahun Kota Kraksaan, Bangun Sumberdaya Manusia dan Tingkatkan Kesejahteraan

IKON: Alun-alun Kraksaan menjadi salah satu penanda kota. Saat ini alun-alun yang berada di tengah kota ini semakin cantik dengan sejumlah fasilitas.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Kota Kraksaan telah berdiri 11 tahun sejak ditetapkan 5 Januari 2010 silam. Kini, Kota Kraksaan terus berkembang. Baik pembangunan infrastrukturnya, perekonomiannya, bahkan sumber daya manusianya. Tentu, masih banyak yang perlu dibenahi, menyesuaikan dengan perkembangan zaman. 

Perkembangan Kota Kraksaan diakui oleh Camat Kraksaan Ponirin. Menurutnya, muara dari perkembangan kota adalah naikknya perekonomian warga setempat. “Sehingga membuat warga sejahtera,” katanya saat ditemui tadatodays.com.

Baca Juga : Gempa di Malang Rusakkan 5 Bangunan di Kecamatan Sumber Probolinggo

Sektor perekonomian memang menjadi salah satu arah pembangunan Kraksaan. Pihak kecamatan menurut Ponirin, terus berkoordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Di antaranya Bappeda, Disporaparbud, Dinkop UKM, maupun Disperindag.

Baca Juga : Dokter Mia: Kegiatan Filantropi Menjadi Candu, Bersyukur Didukung Keluarga

Harapannya, selain memperkuat sektor perekonomian yang sudah tumbuh sebelumnya, juga menumbuhkan sektor baru. Terutama memanfaatkan potensi masyarakat. Misalnya melalui UMKM.

Membangun ekonomi masyarakat menurut Ponirin juga seiring sejalan dengan pembangunan manusianya. “Karena itu, harus ada sinergi antara pemerintah dan masyarakat agar Kraksaan semakin berkembang,” jelasnya.

Merujuk pada jumlah penduduk yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018, jumlah penduduk di Kraksaan mencapai 67.768 orang. Terdiri dari 34.158 perempuan dan 33.940 laki-laki. Tentu angka ini bisa bertambah atau berkurang ketika merujuk data terbaru. Hanya saja, belum ada data resmi yang dikeluarkan BPS.

Jumlah penduduk ini menurut Ponirin memberi nilai tambah, dengan catatan semuanya bisa berdaya dan memberdayakan. Sejauh ini, mayoritas warga Kraksaan bekerja sebagai pedagang. Mata pencaharian selanjutnya yang dipilih adalah buruh tani, petani, dan PNS.

Perekonomian warga menurut Ponirin juga ditunjang dengan program baru, terutama di bidang pariwisata. Seperti halnya di Desa Asembagus, ada wisata bahari yang perlu terus didukung promosinya. Semakin banyak pengunjung, maka peluang warga memanfaatkan wisata dengan menyediakan fasilitas pengunjung terbuka.

 “Fasilitas-fasilitas umum ini tentunya disamping disediakan pemkab, juga dari desa. Partisipasi untuk membuat taman-taman kecil agar desanya lebih indah, contohnya di Desa Bulu yang nantinya mungkin akan ditiru oleh desa lain-lain,” jelasnya.

Pelibatan masyarakat penting menurut Ponirin. Karena itu, SDM warga juga perlu dibenahi. Hal itu ditunjang dengan berbagai lembaga pendidikan mulai pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi yang tersedia. Selain pendidikan formal, juga ada nonformal.

SELAMAT DATANG: Pintu masuk Kota Kraksaan juga menjadi lokasi yang dipercantik untuk memudahkan pengendara yang melintas, bahwa mereka sudah memasuki ibu kota kabupaten.

Selain pendidikan, sektor Kesehatan juga tak boleh diabaikan. Sebagai ibukota, maka fasilitasnya menjadi rujukan warga dalam kabupaten maupun luar kabupaten. Saat ini ada tiga rumah sakit besar di daerah tersebut.

Mulai RSUD Waluyo Jati Kraksaan, RS Sehat, dan RS Fatimah. Bahkan di masa pandemi, RSUD Waluyo Jati Kraksaan menjadi rumah sakit rujukan.

Kondisi pandemi menurut Ponirin memang sangat berdampak pada masyarakat. Terutama yang menggantungkan perekonomiannya di sektor perdagangan dan industri. Sejauh ini, pihak kecamatan terus memberi dukungan setiap program pemkab.

Termasuk program pemerintah pusat. Pembatasan aktivitas menurutnya perlu dilakukan, semata-mata menjaga kesehatan warga. (zr/sp)