Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2020-10-26 17:29:39

6 SD dan 6 SMP di Kabupaten Probolinggo Lakukan Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka

DIBATASI: Jumlah siswa SD yang masuk dalam uji coba pembelajaran tatap muka ini dibatasi. Sehingga hanya ada 50 persen siswa saja yang ikut belajar hari itu. Sisanya, tatap muka esoknya.

PROBOLINGGO, TADATODASY.COM - Pemkab Probolinggo melakukan uji coba pembelajaran tatap muka di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan (SMP) pada Senin (26/10/2020). Namun tidak semua SD dan SMP melakukan uji coba pembelajaran tatap muka. Diketahui hanya ada 6 kecamatan saja yang menggelar uji coba tersebut.

Fathur Rozi, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo menyampaikan bahwa pembelajaran yang dilakukan pertama kali ini sudah lancar dan sesuai dengan apa yang diharapkan. Setiap kecamatan, ada satu SD dan satu SMP yang melakukan uji coba.

Baca Juga : Uji Coba Pembelajaran SD-SMP di Enam Kecamatan Kabupaten Probolinggo Dinilai Sukses

"Alhamdulilah berjalan baik, bukan hanya guru, siswa juga patuh mematuhi protokol kesehatan. Ada dua sekolah ada satu SD dan satu SMP jadi semua ada 12 sekolah," sampainya, pada Tadatodays.com.

Baca Juga : Pemkab Probolinggo Bakal Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka

Enam kecamatan yang dimaksud antara lain adalah Kecamatan Lumbang yang uji cobanya dilakukan di SDN Lumbang 2 dan  SMPN 1 Lumbang. Kecamatan Kuripan di SDN Sumber Kedawung 1 dan SMPN 1 Kuripan, Kecamatan Sumber di SDN 1 Sumber dan SMPN 1 Sumber. Kemudian Kecamatan Wonomerto di SDN Sepuh Gembol 1 dan SMPN 1 Wonomerto, Kecamatan Krucil di SDN Bremi 1 dan SMPN 1 Krucil. Serta Kecamatan Tiris di SDN Segaran 1 dan SMPN 1 Tiris.

Dari masing-masing sekolah, siswa hanya dibatasi 50 persen saja. Jadi ketika ada sekolah yang dalam satu kelasnya berisi 28 siswa, maka yang diperbolehkan masuk hanya 14 siswa. Sedangkan 14 siswa lainnya masih belajar di rumah dan akan masuk pada keesokan harinya. Begitu seterusnya secara bergantian. Guru yang mengajarpun hanya guru yang bertempat tinggal di zona hijau atau kuning saja.

"Nanti kalau tidak di buat shift begitu, malah terjadi kerumunan, kita kan menghindari kerumunan. Sama seperti  model shift orang berkerja, pasti ketemu nanti itu," tuturnya.

Untuk waktu jam belajar juga tidak lama, hanya empat jam saja. Yakni masuk pada pukul 07.00 sampai pukul 10.00 WIB, dan tidak ada waktu istirahat di luar kelas. Hanya saja pembelajaran tidak monoton di dalam ruangan saja. Melainkan  juga diperbolehkan belajar di halaman sekolah asal tempatnya aman dan nyaman untuk siswa. Inisiatif ini dilakukan agar siswa tidak merasa jenuh. Dan siswa juga diwajibkan untuk membawa bekal sendiri.

"Kita kan evaluasi terus, baik protokol kesehatan, pembelajaran hingga evaluasi zona di setiap kecamatan. Nanti kalau konsisten kita lakukan perluasan. Tapi yang pasti ke zona yang hijau atau kuning," tutupnya. (zr/hvn)