Ada 1.800 Anak Tidak Sekolah di Kota Probolinggo, Wali Kota: Ini Tanggung Jawab Kolektif

Alvi Warda
Tuesday, 03 Mar 2026 11:45 WIB

Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin saat peluncuran Gerakan Sahabat ATS di Jrebeng Lor. (Foto: Humas Pemkot Probolinggo)
PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Jumlah anak tidak atau putus sekolah (ATS) di Kota Probolinggo terhitung masih tinggi. Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo menyebut jumlah ATS mencapai 1.800. Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi pemerintah kota.
Data Disdikbud Kota Probolinggo yang mencatat 1.800 anak tidak sekolah ini telah divalidasi secara by name by address. Angka ini menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan Kota Probolinggo.
Di Kelurahan Jrebeng Lor saja, ditemukan 66 anak ATS, terdiri dari 9 anak Lulus Tidak Melanjutkan (LTM); 32 anak Belum Pernah Bersekolah (BPB); 15 anak putus sekolah (drop out).
Wali Kota Probolinggo dr Aminuddin mengatakan pengentasan Anak Tidak Sekolah (ATS) harus dilakukan. Sebab, akan memengaruhi IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Kota Probolinggo. Menurutnya, masa depan ribuan anak yang putus sekolah harus dipikirkan Pemkot Probolinggo.
"Tidak boleh kandas hanya karena persoalan administratif maupun ekonomi. Masa depan mereka tidak boleh terhenti karena kendala administratif atau ekonomi. Ini tanggung jawab kolektif. Semua jajaran harus bekerja terukur agar anak-anak ini kembali merasakan suasana belajar," katanya saat dikonfirmasi, Selasa (3/3/2026) siang.

Penyebab anak putus sekolah tersebut beragam, mayoritas karena kurangnya ekonomi. Pemkot melakukan pendekatan mulai dengan pendataan serta penanganan personal melalui tahapan identifikasi dan asesmen.
“Tidak semua anak siap secara mental. Itulah mengapa kami melibatkan psikolog serta dukungan perangkat RT/RW untuk melakukan pendekatan yang humanis,” ujar Aminuddin.
Anak-anak yang masih dalam usia sekolah akan diarahkan kembali ke sekolah formal sesuai jenjangnya. Sementara itu, bagi mereka yang telah melewati usia sekolah, pemerintah memfasilitasi jalur pendidikan non-formal melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dengan program Kejar Paket A, B, dan C.
"Kami meluncurkan Gerakan Sahabat ATS, kemarin perdana di Jrebeng Lor. Langkah ini diharapkan menjadi jembatan kedua bagi anak-anak yang sempat terhenti pendidikannya, terutama mereka yang putus sekolah akibat tekanan ekonomi keluarga," tutur Wali Kota. (alv/why)


Share to
 (lp).jpg)



