Mochammad Angga


Wartawan Tadatodays.com | 2021-03-30 16:19:20

Aisyah Faradila, Disebutkan Alami Epilepsi dan Gangguan Saraf Otak Setelah Imunisasi

BUTUH BANTUAN: Sholehatin, tetap sabar menemani Aisyah yang hanya terbaring di tempat tidur karena menderita penyakit epilepsi dan saraf otak.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Aisyah Faradila, adalah bocah berusia 9 tahun, warga Jl Sunan Ampel RT 3 RW 10, Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. Ia menderita penyakit epilepsi. Karena penyakitnya itu, hari-harinya hanya dihabiskan dengan tidur dan tak bisa bermain seperti anak seusianya.

Anak dari pasangan suami istri (pasutri) Suyitno, 51, dan Sholehatin, 41, disebutkan menderita penyakit itu setelah mengikuti imunisasi Difteri, Pertusis dan Tetatus (DPT) saat ia berumur 6 bulan. Aisyah merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Sementara kakak laki-lakinya yaitu Muhammad fauzul Albar, 16 dan adiknya yaitu Muhammad Rafi, 7, tidak menderita penyakit seperti yang dialaminya.

Setelah disuntik vaksin DPT, tubuhnya justru mengalami kejang. Orangtuanya pun khawatir dengan kondisi Aisyah, dan membawanya ke Puskemas Wonoasih. Akan tetapi, fasilitas Puskesmas Wonoasih tak memadai disana. Aisyah pun dirujuk ke RSUD Mohamad Saleh. Ketika dirawat di ruang Intensif Care Unit (ICU), Aisyah mengalami koma selama seminggu.

Petaka pun terjadi. Saat Aisyah tersadar, tubuhnya yang semula terlahir normal tiba-tiba tak dapat digerakkan. Suyitno yang bekerja sebagai buruh selep padi itu, sontak tak kuasa menahan kesedihannya dan seakan tak menerima kondisi anaknya itu.

Hari berganti, ketika Aisyah mengalami demam, orangtuanya kembali membawanya ke RSUD Mohamad Saleh dengan biaya pas-pasan. Keluarga Aisyah sebenarnya sudah terdaftar sebagai peserta BPJS, namun sudah lama tak membayar iuran karena tak punya uang. "Ke RS sudah ada sekitar 15 kali. Tapi untuk melunasi BPJS saya tak membayar karena tak memiliki uang," kata Sholehatin saat ditemui di rumahnya.

Karena keterbatasan ekonomi itulah, pengobatan bocah 9 tahun itupun dilakukan secara tradisional. Sesekali, Sholehatin membawa anaknya itu ke bidan terdekat karena biaya pemeriksaannya murah. "Bayar hanya 10.000. Alhamdulillah, baru 1 tahun lalu Aisyah bisa melihat tapi tetap kondisi tubuhnya tak dapat gerak," katanya.

Tahun pun berganti. Saat Aisyah berumur 7 tahun, orangtuanya mencoba memeriksakannya ke dr. Momy, seorang dokter spesialis saraf di Probolinggo. Saat itulah, sang dokter menyebut bahwa Aisyah memiliki penyakit saraf di otak kirinya.

Selain divonis penyakit saraf otak, Aisyah juga disarankan untuk sekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB). Akan tetapi Sholehatin tidak  menyekolahkannya, dengan alasan karena Aisyah tidak bisa menggerakkan tubuhnya. “Duduk pun tidak bisa," ujar perempuan yang hanya sebagai ibu rumah tangga itu.

Menurut Sholehatin, setiap hari anaknya itu hanya minum air gula dan sedikit nasi bubur. Tapi setiap disuapi, Aisyah selalu menolak karena kesulitan menggerakkan mulutnya.

Kini, keluarga bocah malang itu berharap ada bantuan untuk pengobatan Aisyah. Hanya pihak Kelurahan Jrebeng Lor saja yang memberikan bantuan 10 kilogram beras, 1 pak pempes dan susu, Senin, (29/3/2021). (ang/don)