Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2020-11-09 22:14:33

Aktivitas dan Jejaring Kader Postaklim Desa Binor, Kecamatan Paiton, Rutin Bantu Bayi Kurang Gizi, Produksi Snack dari Sayuran untuk Kemandirian

MANDIRI: Selain Posyandu, anggota Postaklim juga dilatih wirausaha dengan memproduksi snack sehat yang disupport PJB.

Belasan kader Posyandu dan PKK di Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo punya seabrek kegiatan. Tak hanya memantau perkembangan balita dengan menyediakan asupan bagi bayi kurang gizi, mereka punya kegiatan wirausaha. Yakni memproduksi snack berupa stick dengan bahan sayuran.

ZAINUL RIVAN, Wartawan Tadatodays

Baca Juga : Kiprah IKM Batik Ronggomukti dalam Menghasilkan Batik Tulis Kualitas Nasional, Kreatif di Masa Pandemi, Berdayakan Warga Sekitar Jadi Pengrajin

DERETAN snack dengan kemasan menarik berjejer di meja warna cokelat. Ada yang berwarna hijau kombinasi merah, hijau tua kombinasi hijau muda, merah, merah kombinasi hitam, maupun cokelat. Dari kemasan itu pula diketahui bahan-bahan snakc tersebut. Ada yang berasal dari sawi, seledri, maupun jagung ketan.

Baca Juga : Aktivitas dan Jejaring Kader Postaklim Desa Binor, Kecamatan Paiton, Rutin Membantu Bayi Kurang Gizi, Produksi Snack dari Sayuran untuk Kemandirian

“Itu produksi dari anggota Postaklim,” kata Hostiningsih, warga Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo saat ditemui di rumahnya, Minggu (8/11/2020). Postaklim yang ia maksud adalah Posyandu Berketahanan Iklim yang diketuai oleh dirinya.

RUTIN: Postaklim Desa Binor, Kecamatan Paiton, yang berada di bawah binaan PJB Paiton memberikan bantuan susu bagi anak kurang gizi.

Postaklim sendiri menurut perempuan kelahiran 3 November 1977 ini merupakan gabungan dari anggota Posyandu dan PKK di Desa Binor. Total ada 16 orang yang terlibat dalam Postaklim. Jika di Posyandu fokus mereka memantau kesehatan balita, tidak demikian dengan Postaklim.

Menurut Hostiningsih, Postaklim dibentuk 2017 lalu. “Dulu kami hanya memantau kondisi kesehatan balita, sekarang kami juga berwirausaha,” katanya sembari menunjuk snack-snack yang ada di atas meja. Wirausaha yang mereka jalani sebagai bagian dari kemandirian anggota.

Memulai wirausaha bukanlah hal yang sulit. Mereka mengumpulkan modal dari anggota. Modal itulah yang kemudian digunakan untuk membeli bahan maupun operasional produksi. Meski modalnya terbatas, namun semangat yang diusung ibu-ibu ini patut diacungi jempol.

PANTAU KONDISI: Anggota Postaklim rutin melakukan pemeriksaan kesehatan balita dengan bantuan peralatan dari PJB.

Menariknya, bahan baku pembuatan stik tersebut berasal dari Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) desa setempat. “Kami berjejaring dengan KRPL untuk penyediaan bahan baku,” katanya. Dengan begitu, ada kerjasama saling menguntungkan antara KRPL dan Postaklim.

Lantas, bagaimana dengan kegiatan utama Posyandu? Hostiningsih mengaku, aktivitas memproduksi makanan ringan itu tak mengganggu tugas utama memantau kondisi balita di desa setempat. Bahkan ia menyebut, dua kegiatan tersebut saling mendukung. Apalagi, produksi snack mereka lakukan dua pekan sekali. Biasanya, produksi stik tersebut baru habis setelah dua pekan.

Aktivitas Postaklim ini didukung penuh PT. Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) Paiton. Ya, PJB Paiton punya peran aktif membangun kesadaran bersama dalam kemandirian ekonomi maupun kesehatan warga sekitar. “Kami mendapat pelatihan maupun sarana dan prasarana lainnya dalam pengembangan produksi snack ini,” jelasnya.

Tak hanya itu, PJB juga membantu proses pengepakan maupun pemasaran. Jika Postaklim memasarkan produksi stik melalui tempat wisata dan pesanan yang masuk, PJB memanfaatkan produksi stik tersebut untuk oleh-oleh tamu perusahaan. Termasuk memfasilitasi jika ada tamu maupun kolega yang hendak memesan.

SEHAT: Snack berupa stik sayuran hasil produksi anggota Postaklim tak hanya dipasarkan dengan cara konvensional, melainkan juga memanfaatkan pasar online.

Harga stik itu pun terjangkau. Rata-rata Rp 15 ribu setiap kemasan. Memang, sementara ini laba dari penjualan baru sebatas bisa mengisi kas organisasi. Namun, Hostiningsih yakin jika produk olahannya bisa menghidupi anggota. “Sementara baru untuk pesan seragam maupun kas Postaklim,” jelasnya.

Karena itu, ia dan anggotanya berupaya agar produksi tersebut terus berjalan. Baik ketika didukung PJB, maupun nanti ketika benar-benar mandiri. “Kami harus tetap berproduksi walaupun nantinya dilepas oleh CSR. Kami tidak mau ketika tidak ada dana dari CSR, kemudian macet. Kami tidak mau begitu," tuturnya.

Sama halnya dengan memantau serta memperhatikan kondisi balita yang rentan kurang gizi. Keberadaan Postaklim sangat terasa karena mereka terlibat aktif dalam penyediaan asupan gizinya.

Hostiningsih menyebut, tercatat ada 233 balita yang dalam pemantauan Postaklim. Hingga saat ini, ada 15 bayi kurang gizi yang sudah ditangani Postaklim. Lagi-lagi, kegiatan tersebut didukung penuh PJB. Jika balita yang sehat mendapatkan asupan gizi sebulan sekali, lain halnya dengan balita kurang gizi.

 “Kami beri asupan gizi selama sebulan,” kata ibu empat anak ini. Setidaknya, setiap anak yang mengalami kurang gizi, mendapat bantuan tambahan asupan gizi dengan nominal Rp 25 ribu sehari. Dan itu semua juga berasal dari bantuan PJB Paiton. “Kami tinggal mengajukan proposal saja,” imbuhnya.

Kegiatan itu menurut Hostiningsih mendapat respons positif dari warga, termasuk anggota Postaklim sendiri. Dengan begitu, target menekan angka stunting di kabupaten bisa terwujud. Pun demikian dengan kemandirian anggota bisa terealisasi. Karena itu, Postaklim menurutnya sangat berterima kasih dengan keterlibatan PJB memaksimalkan peran warga setempat. (zr/hvn/ap)