Mochammad Angga


Wartawan Tadatodays.com | 2020-09-02 11:20:12

Alami Gangguan Psikis, Nenek di Pasuruan Enggan Pindah dari RTLH di Dekat DAS

TEMAN HIDUP: Miyati tinggal di rumah tak layak huni bersama kucing peliharaannya. Selama ini, ia tak mau diajak pindah dari tempat tersebut.

PASURUAN, TADATODAYS.COM - Puluhan tahun Miyati, 70, hidup menyendiri di rumah berkuran 6x2 meter di dekat Daerah Aliran Sungai (DAS) Kota Pasuruan. Di rumah yang dibangun di atas lahan milik negara itu, Miyati tinggal bersama kucingnya.

Saat tadatodays.com berkunjung ke rumahnya, Miyati tampak bercengkerama dengan hewan peliharaannya itu. Rumah yang ada di Kelurahan Krampyangan, Kecamatan Bugilkidul itu bisa dikategorikan tidak layak. Menggunakan atap asbes, rumah itu lantainya tanpa semen dengan dinding mengelupas di sana-sini.

Baca Juga : Komunitas Arek-arek Tambaan Kota Pasuruan, Sulap Tempat Kumuh jadi Taman Bacaan Terpadu

Rumah yang ada di sisi timur sungai di Jl. Patiunus tersebut, Miyati menghabiskan waktunya sehari-hari. Sepanjang mata memandang, tak ada barang berharga di rumah tersebut. Sejumlah perabotan makan juga berserakan dengan debu tebal.

Baca Juga : Komunitas Arek-arek Tambaan, Kota Pasuruan, Sulap Tempat Kumuh jadi Taman Bacaan Terpadu

Sekilas kondisinya terlihat normal. Namun belakangan diketahui jika Miyati mengalami gangguan psikis. Kepada tadatodays.com, Miyati mengaku tak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Pun demikian, Miyati yang sudah terganggu penglihatannya dimakan usia itu mengaku tak punya keluarga.

Sejumlah pertanyaan wartawan media online ini, hanya soal nama dan usia yang dijawab dengan baik. Lainnya tidak ia jawab dengan jelas. “Nama saya Miyati, umur 70an tahun,” katanya.

Sementara itu, Khusnul Khatimah tetangganya mengatakan, Miyati sudah lama tinggal di rumah tersebut. Karena memiliki gangguan psikis, Miyati menurut perempuan yang akrab disapa Khotim ini, menolak dibawa pihak keluarga maupun ditempatkan di hunian yang layak.

Karena bersikukuh tinggal di rumah tersebut, maka satu-satunya jalan yang dilakukan pemerintah maupun keluarga membiarkannya. Namun, kebutuhan dasar Miyati yang mudanya dulu bekerja sebagai petani itu dipenuhi. Baik makan maupun kesehatannya.

“Dia juga punya anak 3, tapi diajak tidak mau. Pernah mau, tapi balik pulang sendiri dengan jalan kaki. Pernah dikasih makan tetangga, tapi malah dibuang ke sungai,” jelasnya. 

Hal senada disampaikan Lurah Krampyangan, Makhmud. Pihaknya kerap disorot terutama oleh netizen, gara-gara disebut membiarkan ada warga tidak mampu hidup berkesusahan tanpa perhatian.

“Ngupload di FB, intinya di dunia modern ini kenapa masih ada orang terlantar. Kenyataannya orang itu (Miyati, Red) selalu diperhatikan. Baik keluarga, tetangga, maupun pemerintah,” jelasnya.

Pihak kelurahan juga sudah mencari tahu keluarga. Akhirnya ditemukan salah satu keluarganya. Miyati ternyata punya 3 anak yang tinggal di Probolinggo dan Pasuruan. Makhmud juga sudah mengumpulkan pihak keluarga. Solusinya, Miyati harus dipindah ke tempat yang layak huni.

Namun, solusi yang disepakati pemerintah dan keluarga kandas. Miyati tak mau pindah. Pihak keluarga menurut Makhmud juga sudah berulang kali membujuk. Namun, Miyati tetap tak mau.

Soal bantuan, Makhmud menyebut pemkot selalu memberi perhatian. Termasuk bantuan terbaru berkaitan dengan penanggulangan covid-19. Pihaknya menyadari, kondisi tersebut karena dipengaruhi gangguan psikis yang diderita Miyati. (ang/sp)