Anak Pedagang Keliling yang Belajar Berpolitik sejak di Pesantren

Dian Cahyani
Tuesday, 28 Apr 2020 21:46 WIB

PIMPINAN DPRD: H. Muhammad Ali Mahrus saat ditemui di ruangannya di Kantor DPRD Kabupaten Banyuwangi.
Semenjak nyantri dulu, Muhamad Ali Mahrus yakin bahwa kelak ia akan menjadi seorang pemimpin. Namun, ia tidak pernah bermimpi sampai menjadi anggota DPRD Banyuwangi. Ketika nyantri, ia hanya fokus untuk belajar, dan tirakat. Muhamad Ali Mahrus sempat tidak memiliki kepercayaan diri yang bagus. Hingga akhirnya ia mencoba aktif dalam organisasi.
.png)
MUHAMAD Ali Mahrus dilahirkan dari keluarga kecil dan sederhana yang tinggal di Desa Padang, Singojuruh, Banyuwangi. Ibu dan Bapaknya seorang pedagang keliling sekaligus petani. Barang yang dijual beragam, salah satunya adalah bumbu- bumbu dapur. Ibunya tak tamat menempuh pendidikan sekolah dasar, sedangkan Bapaknya, hanya mengenyam pendidikan sampai SMP. Namun, kedua orang tua Ali Mahrus sangat peduli dengan pendidikan hingga mampu mendorong Ali Mahrus menamatkan kuliahnya.
"Bapak saya dulu selain bertani, juga berdagang. Kegiatan lainnya, beliau menjadi ta’mir masjid," ujarnya.
.png)
KELUARGA: Muhammad Ali Mahrus memboyong keluarganya beribadah haji.
Bapaknya pula yang istiqomah mengjak Ali Mahrus jamaah di masjid. Ayahnya adalah sosok yang sabar, sedangkan ibunya menurut Mahrus merupakan sosok yang keras dalam mendidiknya.
Namun, di sisi lain, sejak kecil, orang tuanya sudah melalukan tirakat, puasa Senin-Kamis, salat sunnah tahajud dan hajat. Kebiasaan ini juga dibawa Mahrus sampai kini.
“Ibu saya itu keras, disiplin. Bapak saya sangat sabar. Kalau subuh beliau ngemplok (mengegndong belakang, Red.) saya untuk ke belakang. Kemudian mengajak ke masjid. Saya masih ingat betul. Mereka juga sederhana. Ketika saya masih awal menjadi DPR, pernah jalan naik mobil. Di tengah jalan saya bertemu dengan bapak saya masih jual bumbu dapur keliling. Itu lah kesederhanaan orang tua saya,” kisahnya sambil berkaca-kaca.
Sejak kecil, orang tuanya sudah menanamkan nilai- nilai keagaamaan pada kehidupan Ali Mahrus. Tak heran jika Ali Mahrus belajar di pesantren lebih dari 10 tahun. Bapaknya, mengirim Ali Mahrus ke pesantren sejak kelas 6 SD, di Pondok Pesantren Al-Mujahiddin, Padang hingga lulus Madrasah Tsanawiyah. Lalu, ia melanjutkan untuk mondok di Salafiyah Syafi’iyah Situbondo. Disana, Ali menamatkan pendidikan SLTA dan kuliah.
.png)
SMA: Mahrus Ali (kedua dari kanan) berpose bersama teman-temannya selama menempuh pendidikan SLTA sembari mondok di Syafi'iyah Salafiyah, Situbondo.
Ali Mahrus dikenal dengan sosok yang berprestasi. Sejak duduk dibangku sekolah dasar ia sering menyabet juara. Namun, prestasi bagusnya tak sebanding dengan tingkat kepercayaan diri yang dia miliki. Semasa sekolah, Ali tak pernah berani untuk tampil di depan umum. Bahkan ketika Ali Mahrus mengikuti ospek kuliahnya, ia dinyatakan tidak lulus. Lantaran tak berani unjuk gigi di depan mahasiswa senior. “Saat opsek saya tidak bisa menunjukan kreatifitas dan kapasitas saya. Dan saya tidak lulus. Kan biasanya ada lembaran yang harus ditanda tangani oleh kakak- kakak instrukstur. Saya gagal. Karena saya tidak bisa ngapa-ngapain. Karena mental saya jatuh dan tidak bagus,” paparnya.
Lalu, mental dan motivasinya terbangun ketika ia melihat teman-temannya yang secara akademik lebih unggul dari pada dirinya. Ia pun memberanikan diri untuk aktif di organisasi.

“Akhirnya mental saya tumbuh dan saya masuk di oraganisasi BEM Fakultas syariah. Satu tahun saya berproses. Saya sudah mulai berani kritis di forum- forum. Saya catat, saya hafalkan semuanya dengan sendiri. Belajar untuk melatih orasi,” kisahnya kepada Tadatodays.com.
Kiprah kepemimpinananya tak hanya tergambar dalam beberapa organisasi semasa di pesantren. Pulang dari pesantren, Ali Mahrus mendirikan Komunitas Generasi Islam di kampungnya. Ia mengajak teman- teman dan seniornya untuk menggerakan pemuda-pemuda di desanya agar lebih berperan membangun desa.
Selain itu, Ali Mahrus juga mengajar sebagai guru agama di sebuah sekolah swasta di desanya. Pada tahun 2007 Ali Mahrus sempat diminta menjadi ketua partai di kecamatannya. Ketika itu, Ali Mahrus sempat menduduki posisi sekretaris MWCNU Singojuruh. Dari situlah ia bwrkenalan dengan dunia politik. (dee/hvn)
.png)
MASA KULIAH: Bersama guru besar IAII Prof. Dr. KH. Saichul Hadi Purnomo.
Jalan Berliku Menuju Kursi DPRD
Aktif di organisasi kemasyarakatan sebesar Nahdlatul Ulama membuat Muhammad Ali Mahrus berkenalan dengan politik. Meski sudah menjadi kader oartai, iq masih akyif di organisasi desa. Rupanya, sepak terjang inilah yang kemudian mengantarkan Ali Mahrus menduduki posisi sebagai anggota DPRD pada tahun 2014 hingga sekarang ini.
Saat pencalonan, ia sempat ciut untuk memenangkan kontestasi politik ini. Namun, dengan prinsip PKB ia percaya usahanya akan terwujud. Menurutnya, pemimpin harus memiliki tiga konsep utama, yakni P itu Pinter (Pintar), K itu Kendel (Berani) dan B itu Bener (Benar). “Modal pemimpin harus begitu. Pinter tapi gak kendel maka hanya akan menjadi penonton. Dan sebaliknya kendel punya kebranian, tapi tidak punya mental dan intelektual yang cukup, itu ngawur. Hingga modalnya berani. Maka jika disuruh apa-apa berani,”
.png)
BERMIMPI: Ketika mondok Ali Mahrus pernah iseng menempelkan fotonya di kartu pencalegan dari PKB. Tak disangka berpuluh tahun kemudian dia terpilih menjadi anggota DPRD dari PKB.
Ketika maju dan masuk dalam pencalonan DPRD, Ali Mahrus sempat ciut, lantaran rivalnya lebih mempuni. Baik dari sisi pendanaan finansial, hingga jam terbang di bidang perpolitikan yang cukup padat. Sedangkan, bapak tiga anak itu tak memiliki modal finansial yang sebanding dengan rivalnya. Lagi, dia bukan dari kalangan keluarga darah biru atau pun konglomerat.
Kala itu, ia mengantongi dukungan dari masyarakat Nahdliyin Banyuwangi. Itu pun, menurutnya bukan semuanya. “Allah sudah menggariskan semuanya, saya sudah ikhtiar dan tawakal. Saya juga ga pernah nyangka akan masuk. Tapi semua saya niatkan untuk mengabdi kepada Islam dan NU. KH. As’ad Syamsul Arifin juga merupakan perintis Nahdlatul Ulama. Saya sebagai santrinya merasa berkewajiban untuk meneruskan perjuangan kiai,” paparnya dengan seksama.
Satu hal yang tak pernah Ali Mahrus lupakan, ia pernah memberikan fotonya yang iseng ditempelkannya dalam kartu pencalonan PKB pada temannya yang di Lombok. Waktu itu, pesantrennya pendukung PKB. Waktu itu pula PKB ada nomor urut 35. Lalu, foto itu ia berikan kepada temannya. Hingga saat ini foto itu masih tersimpan. Dan tidak ada yang menyangka jika foto itu kini menjadi kenyataan. “Saya kasihkan ke temen saya di lLombok. Dulu dia adalah wakil saya di BEM Institut. Dan ternyata saya sekarang menjadi DPRD dari Fraksi PKB,” paparnya dengan suasana mengharu biru. (dee/hvn)
.png)
.jpg)


Share to
 (lp).jpg)