Usman Afandi


Wartawan Tadatodays.com | 2021-02-03 14:16:44

Anjlok, Harga Jeruk Nipis Rp 800 Perkilogram

TAK DIANGKUT: Pengepul terpaksa tak mengangkut jeruk nipis di hutan BKPH Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, lantaran anjloknya harga jual.

BANYUWANGI, TADATODAYS.COM - Harga jeruk nipis di tingkat petani di Kabupaten Banyuwangi, benar-benar anjlok. Saat ini, perkilogram jeruk nipis dijual hanya Rp 800 perkilogram.

Marsam, petani jeruk nipis asal Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi saat ditemui tadatodays.com, Rabu, (30/2/2021) di rumahnya menjelaskan, anjloknya harga jeruk nipis tersebut terjadi hampir 1 bulan yang lalu. “Sampai sekarang ini masih tetap turun,” ujar Marsam.

Baca Juga : Harga Cabai Rawit di Probolinggo di Atas Harga Rata-rata Jatim

Marsam sendiri tidak tahu persis kenapa harga jeruk nipis di tingkat petani mengalami penurunan. Padahal, di sisi lain, jeruk nipis banyak dibutuhkan oleh masyarakat untuk bahan makanan, minum, hingga digunakan sebagai bahan obat.

Baca Juga : Harga Meroket, Cabai Banyak Busuk dan Kering

Jika dihitung-hitung, lanjut Marsam, dengan luasan lahan yang ia miliki yakni seperempat hektar dengan harga jual Rp 800 perkilonya, maka hanya cukup untuk kebutuhan perawatan saja. Seperti, membeli pupuk dan obat.

Sementara itu, pengepul jeruk nipis di Banyuwangi, Siswoto, saat dihubungi tadatodays.com menjelaskan, harga jeruk nipis mengalami penurunan karena dipengaruhi oleh faktor cuaca. Dimana, selama musim hujan permintaan di pasar mengalami penurunan. “Akhirnya pasar sepi,” katanya.

Siswoto menyampaikan, satu bulan yang lalu harga jeruk nipis per 1 kilogram di tingkat petani Rp 1800 rupiah hingga Rp 2000. Meski saat ini harganya merosot, namun ia masih tetap menyerap jeruk nipis dari petani.“Saya tidak tega sama petani,” ungkap pria yang sudah menjadi pengepul jeruk nipis selama 20 tahun ini.

Selain musim hujan, lanjut Siswoto, pandemi Corona juga sangat mempengaruhi harga jeruk nipis. Termasuk, pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali. “Sehingga pasar sepi, kosumsi jeruk nipis juga rendah,” katanya. (usm/don)