Aroma Rempah di Balik Dapur Dusun Sentul: Menilik Eksistensi Opak Gambir Winongan yang Melegenda

Amal Taufik
Amal Taufik

Sunday, 22 Mar 2026 07:05 WIB

Aroma Rempah di Balik Dapur Dusun Sentul: Menilik Eksistensi Opak Gambir Winongan yang Melegenda

OPAK: Pembuat opak gambir di Winongan, Kabupaten Pasuruan.

PASURUAN, TADATODAYS.COM - Di balik dinding semen yang mulai memudar dan kepulan uap panas dari tungku-tungku sederhana, sebuah tradisi gurih sedang dirawat. Dusun Sentul, Desa Winongan Lor, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, kembali bersolek dengan aroma khas setiap kali Ramadan menyapa.

Bukan aroma masakan santan biasa, melainkan perpaduan wangi jahe yang menyengat dan manisnya keningar yang menyeruak dari sela-sela rumah warga. Dusun ini telah lama menyandang predikat sebagai jantungnya produsen opak gambir, kudapan legendaris yang tak pernah absen di meja tamu saat Idul Fitri.

Senin (16/3/2026) pagi, suasana di salah satu rumah pembuat tampak begitu sibuk. Di sebuah ruangan dengan atap asbes yang cukup tinggi, terlihat seorang wanita paruh baya duduk dengan tenang di atas tumpukan bantal hijau yang dialasi kursi kayu pendek.

Ia adalah Mida Sudiati. Mengenakan daster motif bunga berwarna merah muda dan hitam, wajahnya tampak fokus meski peluh mulai membasahi dahi. Di depannya, sebuah kompor gas dengan cetakan besi hitam berbentuk bundar sedang membara.

Tangan kirinya yang terlindung sarung tangan kain abu-abu tampak cekatan memegang selembar opak gambir yang baru saja matang. Teksturnya yang kuning keemasan dengan pola kotak-kotak kecil khas cetakan tradisional, menunjukkan kualitas kematangan yang sempurna.

Sesekali ia merapikan posisi duduknya di atas tumpukan bantal agar tulang punggungnya tak cepat lelah. Maklum, selama 25 tahun terakhir, posisi inilah yang menjadi "medan perangnya" setiap hari demi menghasilkan kepingan-kepingan renyah tersebut.

“Kalau sudah mendekati Lebaran begini, pesanan bisa berkali-kali lipat mas. Beda jauh sama hari biasa,” ujar Mida sembari tangannya tetap bergerak lincah menuangkan adonan cair ke atas cetakan panas.

Mida bercerita, jika pada hari normal ia hanya mengolah sekitar 14 hingga 18 kilogram adonan. Namun, saat kalender menunjukkan bulan Ramadan, angka produksi melonjak tajam hingga menyentuh 50 kilogram per hari.

Lonjakan permintaan ini menjadi berkah sekaligus tantangan. Menurutnya, kendala utama bukan pada ketersediaan tepung atau gula, melainkan pada ketersediaan tangan-tangan terampil yang sanggup berlama-lama di depan panasnya kompor.

“Susahnya cari tenaga kerja. Membuat opak ini butuh kesabaran dan ketelatenan. Hari ini saja saya harus dibantu enam orang supaya semua pesanan pelanggan bisa terpenuhi tepat waktu,” imbuhnya.

Di sudut lain ruangan, terlihat tumpukan kayu-kayu penyangga dan jam dinding yang menunjukkan angka 10 pagi, namun tumpukan bahan baku masih terlihat banyak. Di rak kayu sederhana di belakangnya, terdapat wadah-wadah plastik dan stoples berisi bahan-bahan rahasia yang membuat opaknya berbeda.

Rahasia kelezatan opak gambir Dusun Sentul terletak pada keberanian menggunakan rempah. Jika opak pabrikan cenderung tipis dan hanya mengandalkan rasa manis esens, racikan Mida menggunakan tepung ketan, tapioka, gula merah, dan gula putih yang dipadukan dengan jahe serta keningar.

“Rasanya itu kompleks. Ada gurihnya santan, manis gula merah, dan sedikit rasa hangat dari jahe. Itu yang dicari pelanggan lama,” jelas Mida dengan nada bangga.

Secara fisik, opak buatan warga Winongan Lor ini memang lebih tebal. Tujuannya agar tidak mudah hancur saat pengiriman, namun tetap memberikan sensasi "prul" atau renyah yang lembut saat digigit.

Mida menyadari bahwa harga produknya sedikit di atas rata-rata pasar swalayan. Namun, ia tidak khawatir kehilangan pembeli karena kualitas rempah dan bahan alami yang ia gunakan menjadi jaminan mutu yang sulit ditiru mesin pabrik.

Untuk variasi, Mida menyediakan dua bentuk utama: model gulungan yang klasik dan bentuk mangkok yang unik. Harganya pun bervariasi tergantung rasa, mulai dari Rp 27.500 untuk rasa wijen hingga Rp 30.000 untuk rasa jahe per kemasan 500 gram.

Eksistensi perajin seperti Mida pun mendapat perhatian serius dari pemerintah desa setempat. Kepala Desa Winongan Lor, Eko Supriyanto, menegaskan bahwa potensi ini adalah aset desa yang harus diproteksi dan dikembangkan.

Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pihak desa mulai terlibat aktif membantu pemasaran produk UMKM ini agar jangkauannya lebih luas, tidak hanya sekadar memenuhi pasar lokal Pasuruan.

“Kami sangat bangga. Di Dusun Sentul ini setidaknya ada enam perajin besar yang saat ini sedang kebanjiran order. Ini adalah warisan turun-temurun yang menghidupkan ekonomi warga,” tutur Eko.

Kini, opak gambir Winongan tidak hanya menjadi pelengkap toples lebaran warga lokal. Berkat tangan-tangan terampil para ibu di Dusun Sentul, camilan tradisional ini telah merambah ke berbagai kota melalui agen-agen kue kering yang setia menanti kiriman setiap musimnya. (pik/why)


Share to