Audiensi dengan Wali Kota, DKKPro Minta Gedung Kesenian Kota Probolinggo Tidak Dialihfungsi

Amelia Subandi
Friday, 29 Aug 2025 20:18 WIB

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Polemik alihfungsi Gedung Kesenian Kota Probolinggo terus bergulir. Pada Jumat (29/8/2025) siang, pengurus Dewan Kesenian Kota Probolinggo (DKKPro) beraudiensi dengan Wali Kota Probolinggo dr Aminuddin. Dalam audiensi ini, pengurus DKKPro minta agar gedung kesenian diikhlaskan, tetap menjadi gedung kesenian, tidak dialihfungsi.
Audiensi digelar di ruang transit kantor Pemkot Probolinggo. Pengurus DKKPro ditemui langsung oleh Wali Kota Probolinggo dr Aminuddin bersama staff ahli dan beberapa OPD yang membidangi, yaitu Disdikbud, Dispopar dan PUPR-PKP.
DKKPro yang hadir dipimpin ketuanya, Peni Priyono, anggota Badan Pertimbangan Imam Wahyudi dan para pengurus di komite-komite. Peni Priyono di forum ini menegaskan pentingnya Gedung kesenian sebagai tempat berlatih dan unjuk karya beragam kesenian.
Menurutnya, mereka yang memanfaatkan Gedung Kesenian selama ini sangat banyak. Mereka itu anak-anak sampai dewasa. Dari TK sampai mahasiswa. “Jumlahnya sedikitnya 500 anak,” katanya.
Peni kemudian minta agar Gedung Kesenian tetap, dan tidak dialihfungsi. “Sudah tepat Gedung Kesenian bersandingan dengan Museum Probolinggo,” katanya.
Selanjutnya, Imam Wahyudi menambahkan soal kawasan kebudayaan terintegrasi. Museum Probolinggo sebagai tonggaknya, lalu disandingkan dengan Gedung Kesenian di sampingnya. “Konsep kawasan kebudayaan ini yang berusaha dipertahankan pengurus dewan kesenian,” katanya.
Selanjutnya, Imam Wahyudi mengajukan tiga pokok pikiran dewan kesenian.
Pertama, DKKPro meminta agar Wali Kota Probolinggo mengikhlaskan Gedung Kesenian tetap menjadi Gedung Kesenian yang bersisian dengan Museum Probolinggo sebagai rumah identitas rakyat Kota Probolinggo. Untuk tenis indoor, silakan dibangun di tempat lain yang lebih megah.
“Kalau selama ini Gedung Kesenian dipandang tidak layak, maka langkah yang diperlukan ialah jelas membuatnya menjadi lebih layak sebagai tempat latihan, unjuk karya, bahkan pameran. Untuk kepentingan tennis indoor, silahkan bangun di tempat lain. Kalau perlu, yang lebih megah, mewah, agar petenis dari berbagai daerah tertarik main tenis di lapangan tenis indoor kota probolinggo,” kata Imam Wahyudi ditemui usai audiensi.
Kedua, DKKPro meminta agar pemerintah menuntaskan konsepsi kawasan kebudayaan terintegrasi di kawasan Museum Probolinggo. “Pindahkan tank, pesawat tempur, kapal dan kereta api di halaman museum. Lalu sebagai gantinya, bangun amphitheater untuk menyajikan berbagai ragam ekspresi seni-budaya yang berkarakter pertunjukan outdoor. Serta tempatkan dinas pengampu bidang kebudayaan di kawasan Museum Probolinggo agar bisa bersinergi membangun arus seni-budaya dan pariwisata berbasis seni-budaya dan kesejarahan,” imbuh Imam Wahyudi.
Ketiga, perkuat lagi akar dan penyangga seni-budaya-pariwisata Kota Probolinggo. Komunitas, kelompok, sanggar-sanggar seni, pegiat seni-budaya perorangan, pegiat-pegiat sejarah, dihimpun lagi, dibangun jejaringnya, dibangun gerakan yang sinergi untuk Kota Probolinggo.
Joko Dwi Prastowo dari komite seni rupa, mempertanyakan banyak hal. Di antaranya, soal peralihan aset (Gedung Kesenian) sudah dilakukan yakni dari Disdikbud ke Dispopar. Oleh karenanya, ia tanya, jika sudah dialihkan, apakah akan segera dilakukan ekskusi pembongkaran? Kemudian, jika dilakukan pembongkaran apakah gedung kesenian dipindahkan ke TRA begitu saja dengan kondisi seadanya? Atau menunggu proses pembangunan TRA untuk lebih layak terlebih dahulu?
“Dari tahun ketahun, konsep yang dibicarakan sangat bagus. Bahkan saya salut dengan konsep dan kepedulian yang dilakukan oleh Wali Kota. namun sejauh ini kami dari seni rupa tidak pernah diberikan ruang sajian hasil proses karya kami,” kata Joko.

Ketua DKKPro Peni Priyono menambahkan, sudah 40 tahun lebih ia bergerak di bidang kesenian dan kebudayaan Kota Probolinggo. Ia tahu betul mengenai kondisi yang ada. Bahkan ia memprediksi jika nantinya Gedung Kesenian akan dialihfungsikan kemudian kegiatan berkesenian berpindah ke TRA, maka ia tidak menjamin bisa ditempati selayaknya di Gedung Kesenian.
“Yang kami butuhkan adalah tempat berproses, bukan tempat penyajian. Jika untuk tempat penyajian, maka kami bisa menyewa di Gedung Widya Harja, Paseban Sena atau gedung lainnya. Namun jika dipindah ke TRA, tidak kebayang, pasti panas dan tidak mungkin anak-anak akan berproses disana,” kata Peni.
Wali Kota Janjikan Gedung Kesenian Lebih Layak
MENYIKAPI hal itu, Wali Kota dr Aminuddin menegaskan jika, seni dan budaya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan, seperti mata uang. Seni-Budaya juga tidak akan lepas dari Pariwisata.
Oleh karenanya, ia memiliki konsep besar terhadap kemajuan kesenian dan kebudayaan yang ada di Kota Probolinggo, termasuk pariwisatanya. Sehingga pada tahun 2026 Wali Kota Probolinggo menganggarkan sekitar Rp 2,6 miliar agar seni dan kebudayaan di Kota Probolinggo lebih maju lagi.
“Tidak hanya itu, saya juga telah berkomunikasi dengan Kementerian Kebudayaan dan mengusulkan anggaran sebesar Rp 3 miliar. Jika itu disetujui, maka total angagran yang didapatkan untuk pengembangan hampir Rp 6 miliar,” kata Aminuddin.
Bahkan nantinya kebudayaan yang ada di Disdikbud akan dipisah. Dan akan digabungkan dengan pariwisata dan ekonomi kreatif. “Di Kota Probolinggo ini kita memiliki tiga potensi besar yakni potensi penyangga pelabuhan, potensi penyanggah daerah transit, potensi penyanggah pariwisata Gunung Bromo. Jadi Kita ingin memunculkan identitas kita. Salah satunya punya gedung kesenian yang mewah dan megah seperti amphitheater. Sementara untuk Gedung Kesenian saat ini tidak memungkinkan dibuat seperti itu, karena kerangkanya sudah gedung tennis atau gedung olahraga,” imbuhnya.
Bahkan, pemerintah kota juga mendatangkan tim penilai untuk mengetahui apakah gedung tersebut bisa digunakan sebagai yang layak seolah amphitheater, maka jawabannya bisa namun membutuhkan anggaran sampai Rp 3 miliar. “Jadi lantainya harus ditinggikan. Dan atapnya yang berisik karena dari seng harus diganti. Ini kan seolah kayak bangun baru,” kata Aminuddin.
Lagi pula menurutnya, tujuan peeralihan lokasi tersebut yakni untuk menciptakan destinasi dan keramaian baru. Sehingga korelasi dengan visi misi wali kota mengenai 100 destinasi atau wisata. “Kita sudah lakukan kajiannya. Jadi tidak serta merta dan saat menjadi DPRD saya yang paling getol mengenai alokasi anggaran untuk Kebudayaan yang ada di Disdikbud,” katanya.
Oleh karenanya, sesuai dengan perencanaan dan kajian yang telah dilakukan, maka pemerintah akan tetap melakukan alihfungsi Gedung Kesenian. “Jadi bukan karena saya suka tenis, makanya itu tetap dibuat untuk gedung tenis. Atau karena pak Peni bukan orang saya, maaf ya pak. Padahal semuanya itu adalah orang dan warga saya termasuk anak-anak saya,” kata Aminuddin.
Kendati demikian, pemerintah tidak serta merta memindahkan begitus aja tanpa adanya penyesuaian. Pemerintah dalam waktu dekat juga akan melakukan pembangunan dan penyesuaian. Bahkan Wali Kota Probolinggo menunjukkan gambar atau desain rencana pembangunan gedung di TRA.
“Jadi karena kita belum punya cukup waktu dan anggaran untuk membuat gedung amphitheater yang megah, maka saat ini kita bangunkan semi amphitheater outdoor di TRA. Dengan harapan kedepan di sana juga akan memunculkan pusat keramaian baru. Termasuk munculnya UMKM baru sesuai visi-misi saya,” tegas Aminuddin. (mel/why)

Share to
 (lp).jpg)