Tadatodays


Wartawan Tadatodays.com | 2021-09-28 15:14:12

Bahana Suara Bayuangga: Dari Marching Band Jadi Daul

JADI DAUL: Anak-anak daul Bahana Suara Bayuangga dalam latihan rutin di markasnya. Sebelumnya, mereka adalah kelompok marching band.

TREN musik daul di Kota Probolinggo juga meruyak di kalangan anak muda di Kelurahan Jrebeng Kulon.  Sebuah kelompok marching band bernama Sunan Ampel yang pernah mencecap prestasi level regional, kini merelakan diri bermetamorfosis menjadi kelompok musik daul.   

Baca Juga : Sawunggaling: Daul Mirip dengan Cerita Joko Berek

Mulai Juli 2021, marching band sunan ampel berubah menjadi kelompok daul bernama Bahana Suara Bayuangga (BSB). Kelompok BSB menjadikan halaman sebuah rumah di Jalan Musi RT 02 – RW 04 Kelurahan Jrebeng Kulon sebagai markasnya. Di halaman rumah itu mereka rutin berlatih dan menciptakan karya.  

Baca Juga : Sawunggaling: Daul Mirip Cerita Joko Berek

Kelompok daul dari Kelurahan Jrebeng Kulon ini dipimpin oleh Abdurrohim, seorang pria 41 tahun yang sehari-harinya adalah PTT (Pegawai Tidak Tetap) di lingkungan Pemkot Probolinggo. Saat dikunjungi Tadatodays.com   pada Rabu (22/9/21) malam, kelompok BSB sedang berlatih untuk persiapan melayani tanggapan perdananya.  

Tentang perubahan dari marching band menjadi daul, Abdurrohim menuturkan bahwa salah satu faktornya ialah karena job tampil sebagai marching band semakin lama semakin berkurang. Fenomena terakhir yang terjadi menurutnya, marching band sudah banyak digantikan dengan instrumen keyboard.

Menyikapi fenomena tersebut, agar kelompoknya bisa tetap eksis dan berkarya, maka marching band Sunan Ampel memilih berubah menjadi kelompok musik daul. Terlebih, musik daul memang sedang ngetren di Kota Probolinggo.  “Dulu marching band.  Tetapi karena pandemi ini, kan jadi sepi. Terus yang lagi tren di Probolinggo itu ya musik daul. Jadilah kami ganti jadi musik daul,” tutur Abdurrohim.

Walau musik daul berasal dari Madura, tetapi Bahana Suara Bayuangga tetap memberi karakter Probolinggo dalam karyanya. Lagu-lagu yang diciptakan dan dimainkan kelompok BSB disebutkan berciri khas Probolinggo.  Terutama karena menggunakan bahasa campuran Madura dan Jawa.

Selain itu, BSB juga suka memainkan lagu-lagu religi. Tentu saja mereka membuat aransemen baru dalam lagu yang dibawakan.  “Kami kebanyakan aransemen sendiri lagunya, biar beda sama daul-daul yang lain,” timpal  salah seorang personel senior.

Anggota kelompok BSB sebagian besar adalah anak-anak dari personel marching band Sunan Ampel.  Abdurrohim menyebutkan, saat ini anggota BSB ada sebanyak 30 orang pemusik, kru, dan pengurus. Sedangkan para pemusiknya rata-rata adalah pelajar tingkat SMP hingga SMA, dan pekerja.

Kelompok BSB punya basic marching band. Jadi, mereka tidak terlalu kesulitan membuat aransemen baru dalam musik daul. Sejauh ini kelompok BSB sudah memiliki 8 lagu hasil ciptaan sendiri. Lima lagu sudah jadi, sedangkan 3 lagu lainnya masih dalam proses.  

TANGGAPAN PERDANA: Kelompok daul Bahana Suara Bayuangga semangat berlatih, menyiapkan diri untuk memenuhi tanggapan perdananya.

Sebagian alat marching band juga masih dipakai, seperti terompet dan drum. Sedangkan alat-alat lain dibelikan oleh sang ketua. Selain terompet, alat musik daul dominan pukul. Tujuh orang menabuh drum yang dibuat dari drum plastik. Ada yang menabuh rebana menggunakan stik rotan, ada pula yang menabuh kenong telok, gong, dan peking. Selebihnya adalah pemegang zimbal dan peniup terompet.

Pada saat semua alat musik itu dimainkan secara melodik, terdengar lagu membahana sehingga membuat warga sekitar tertarik untuk datang menyaksikan. Itu pula yang terjadi pada Rabu malam. Warga sekitar berdatangan melihat para remaja itu berlatih musik daul.   

Menurut Abdurrohim, kelompok BSB rutin berlatih 3 kali dalam sepekan. Latihannya selalu dilakukan malam hari. Walau BSB berlatih malam hari, namun warga sekitar tidak ada yang keberatan. Warga justru mendukung kegiatan anak-anak muda ini. “Alhamdulillah,  masyarakat sini mendukung semua, karena banyak juga yang anaknya ikut kelompok ini,” ujar Abdurrohim.

Musik daul tentu saja membutuhkan kereta untuk pertunjukkan. Begitu pula BSB. Abdurrohim menyatakan, BSB  baru pesan kereta di daerah Sumberwetan. Proses pembuatan kereta itu disebutkan sudah mencapai 70 persen.  Diperkirakan, pada pertengahan Oktober depan, kereta milik BSB sudah jadi bagus. Kereta itu kepalanya memilih pakai barong.  “Kami pakai barong. Ini request-nya anak-anak. Katanya biar sangar. Kalau sangar begitu, bisa bikin tambah semangat,” kata Abdurrohim.

Meskipun masih baru terbentuk, BSB sudah mendapat undangan untuk mengisi di acara pernikahan di daerah Jebreng Kulon. Ini merupakan tanggapan perdana kelompok Bahana Suara Bayuangga. Untuk tarif tanggapannya, kelompok BSB mematok angka Rp 4 juta.  “Kalau Jrebeng sini Rp 4 juta. Kalau agak jauh ya ditambah dikit. Tergantung lokasinya,” jelas Abdurrohim.

Dengan maraknya musik daul di Kota Probolinggo, Abdurrohim berharap Pemerintah Kota Probolinggo lebih banyak mengadakan event. Terutama agar musik daul di Kota Probolinggo lebih berkembang. “Kalau harapan saya ya, supaya diadakan beberapa event gitu. Biar lebih berkembang lagi music daul di Probolinggo ini,” ujar ketua BSB itu.

Keberadaan kelompok BSB rupanya sangat menarik perhatian remaja di Jrebeng Kulon. Salah satunya adalah Ahmad Khoirudin. Bocah 13 tahun yang duduk di bangku SMP Negeri 6 Kota Probolinggo itu menjadi anggota termuda di kelompok BSB. 

Kepada Tadatodays.com, Khoirudin mengaku senang ikut kelompok daul BSB karena memang suka musik.  Selain itu, Khoirudin mengaku senang karena bisa punya banyak teman. “Iya ikut ini karena banyak temannya, jadi seru. Rumah saya juga disini (tempat latihan BSB),” katanya. (yua/why)