Mochammad Angga


Wartawan Tadatodays.com | 2021-01-26 17:05:30

Bakri, Balita Keluarga Miskin di Probolinggo yang Menderita Lemah Otak

BUTUH BANTUAN: Muhammad Bakri, balita yang menderita lemah otak tampak dipangku oleh ibunya, Khoiriyah.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Namanya Muhammad Bakri. Maret 2021 nanti, Bakri berusia 3 tahun. Putra pasangan suami istri Samsul Arifin, 35, dan Khoiriyah, 25, ini kehilangan keceriaan sebagaimana bocah lain seusianya. Sebab, Bakri didera penyakit Cerebral Palsy (lemah otak) dan Epilepsi (ayan).

Di kediamannya di Jalan Mawar Gang Sukun RT 4 – RW 1 Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo, Muhammad Bakri lebih banyak menghabiskan waktunya di atas ranjang. Bila tidak tiduran di atas ranjang, Muhammad Bakri yang kini bobotnya 8,5 kg itu hanya dalam gendongan ibunya.

Baca Juga : Pemkot Probolinggo Pastikan Tanggung Semua Biaya Perawatan Bakri

Untuk pengobatan, Bakri mengandalkan fisioterapi di Puskesmas Ketapang. Tiga kali dalam setiap pekan ia diterapi. "Tetapi sudah satu tahun tidak kontrol (terapi, red)," kata Khoiriyah, sang ibu, saat ditemui di kediamannya, Selasa (26/1/2021).

Saat ini pasangan Khoiriyah dan Samsul Arifin mengandalkan pengobatan alternatif untuk buah hatinya itu. Tangan Bakri yang dulu kaku dan tidak bisa digerakkan, kini sudah bisa digerakkan. "Sudah 6 kali pengobatan. Bayar seikhlasnya," tutur Khoiriyah.

Samsul Arifin, ayahnya, sehari-harinya bekerja di bengkel. Sedangkan Khoiriyah setelah tidak lagi bekerja di pabrik garmen, kini menjadi ibu rumah tangga saja. Pengobatan untuk Bakri hanya mengandalkan penghasilan Samsul Arifin. “Berharap ada bantuan untuk pengobatan anak saya,” kata Khoiriyah

Sebenarnya, Bakri merupakan anak kedua. Kata Khoriyah, dirinya memiliki anak pertama tapi meninggal dunia saat melahirkan kandungannya secara sesar. Beberapa tahun kemudian, Khoriyah mengandung anak keduanya, itulah Bakri. Tapi saat kandungan menyentuh 7 bulan pada tahun 2018, ja yang kerja di garmen sempat terjatuh di kantin.

Tak diketahui bila penyebabnya jatuhnya itu, berdampak pada tumbuh kembang Bakri sendiri. Seingatnya, secara garis keturunan tidak ada yang seperti Bakri. Bakri sendiri mulai tampak gejalanya sejak usia 6 bulan. "Berawal dari tubuhnya panas," paparnya sambil meneteskan air mata.

Kini, di rumah dengan perabotan sederhana itu, Khoriyah terus merawat anak semata wayangnya itu.

Sementara itu, saudara sepupu Khoiriyah, Rahman menceritakan, bila keluarga mendengar tangisan dan kejang Bakri, mereka pun menolong Bakri. "Kami ikut bantu untuk menenangkan, karena kasihan," terangnya.

Menurutnya, saat Bakri kambuh, tangisannya berlangsung lama. "Mulai dini hari sampai pagi," katanya.

Dengan kondisi itu, keluarga Muhammad Bakri hanya bisa mengandalkan pengobatan alternatif sambil menunggu solusi medis untuk menyembuhkan Bakri. Jika pun harus menjalani operasi, orangtua Bakri  tak mampu menjangkau biayanya meski keluarga tersebut telah menjadi peserta BPJS kelas 3 yang dibiayai pemerintah.

Sementara, dari pemerintah, hanya mendapat bantuan pempes dan 1 susu kemasan 400 gram dari Dinas Sosial setempat. (ang/don)