Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2021-08-19 15:26:19

Banyak Ortu Menyekolahkan Anaknya di Pesantren Selama Pandemi, Ini Alasannya

PILIHAN: Pendidikan di pesantren menjadi salah satu pilihan orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Menurut pengasuh Ponpes Mambaul Ulum KH Didik Humaidi, selama pandemi jumlah santri di ponpesnya meningkat.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Di masa pandemi ini, banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya usai lulus Sekolah Dasar (SD) ke pesantren. Seperti contohnya di Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Ulum, yang berada di Desa Sukodadi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.

Dimana, pesantren ini menerima banyak santri baru tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 130 santri. Jumlah itu meningkat sekitar 25-30 persen dari penerimaan tahun sebelumnya.

Baca Juga : Kekosongan Kepala Sekolah Terus Bertambah, Ini Penjelasan Dispendik

Pengasuh Ponpes Mambaul Ulum, KH Didik Humaidi mengatakan peningkatan itu terjadi karena sekolah umum masih belum bisa melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) dan dilakukan secara daring. “Orang tua tidak puas, dan memilih ke pesantren,” katanya.

Baca Juga : Manfaatkan Fasilitas Kemendikbud, SDN Kebalenan Gelar Hybrid Learning

Di pesantren, lanjutnya, aktifitas belajar keagamaan terus berjalan di tengah pandemi. Sementara untuk sekolah umum seperti Madrasah Tsanawiyah di lingkungan pesantren, hanya sesekali menggelar PTM.

Didik menjelaskan, sebagian besar jumlah santri di ponpesnya berasal dari Kabupaten Probolinggo. Sementara sisanaya dari luar daerah, seperti dari Kabupaten Banyuwangi.  "Yang dari luar daerah itu hanya sekitar 2-5 persen saja," kata ulama yang karib disapa Gus Didik ini.

Gus Didik menegaskan, meski tetap menggelar PTM, namun ia memastikan sudah menerapkan protokol kesehatan (prokes) dengan sangat ketat. Caranya, semua pintu gerbang dikunci rapat, sehingga santri dan pengajar tidak bisa keluar masuk pesantren. Bahkan orang tua santri dilarang bertemu dengan anaknya di pesantren tersebut.

Segala bentuk kiriman dari orang tuanya, semisal nasi, uang dan barang lainnya hanya boleh dititipkan ke satpam. Nantinya satpam yang akan memberikan kepada santri. Titipan itupun tetap dilakukan sterilisasi sebelum diberikan ke anaknya. "Insyallah aman (dari covid-19)," ujar kyai yang juga anggota DPRD Kabupaten Probolinggo ini. (zr/don)