Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2021-08-07 18:27:13

Banyak Warga Meninggal Dunia, Makam di Paiton Probolinggo Terpaksa “Ditutup”

IMBAUAN: Warga memasang baliho berisi keluh kesah banyaknya penduduk setempat yang meninggal dunia belakangan ini. Baliho itu diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga protokol kesehatan.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Sebuah Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Dusun Krajan, RT 15/RW 6, Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, “ditutup” warga. Alasannya, banyak warga yang sudah meninggal dunia belakangan ini. Di antaranya karena covid-19.

Makam itu kemudian dipasang sebuah baliho berisi pemberitahuan kalau makam ditutup. Baliho yang dipasang di pintu masuk makam itu ditulis dalam bahasa Madura. "ELLA LAH COKOP HOP, KOBUREN TOTOP, LAKOH JEK MAIN TEMATEAN MELOLOH, LANDUENH LAH BENYAK SE ROSAK/POTONG. TOREH ANGGUY MASKER," begitu tulisan dalam baliho itu.

Baca Juga : DKPP Kabupaten Probolinggo Alokasikan DBHCT Rp 7,1 M untuk Program dan Sarana Pertanian

Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, kira-kira artinya begini: "Jangan, sudah cukup, makam tutup, jangan lagi ada yang meninggal dunia, cangkulnya sudah banyak yang rusak/patah. Ayok pakai masker,".

Baca Juga : DKPP Kabupaten Probolinggo Alokasikan DBHCT Rp 7,1 Miliar untuk Program dan Sarana Pertanian

Sumrawi, warga sekitar mengatakan kalau penutupan itu sebagai bentuk keluh kesah karena sudah jenuh dengan banyaknya orang yang meninggal. Selama sebulan itu, sudah ada 17 orang yang meninggal dunia. Satu di antaranya meninggal karena covid-19. Sedangkan lainnya memang sepuh. “Selisih satu dan dua hari (meninggalnya, Red),” katanya, Sabtu (7/8/2021).

Karena banyak yang meninggal itu, warga sampai kewalahan menggelar tahlilan. Di desa tersebut, apabila ada yang meninggal biasanya akan ditahlilkan selama 7 hari. Jika ada dua warga yang meninggal dunia maka waktu tahlil dibagi sore dan malam. Nah, jika lebih dari itu, terang saja kewalahan.

Warga harus membagi waktu untuk melayani rumah duka yang melaksanakan tahlil. Mulai penyediaan tenda, lampu, hingga sound system. Namun, meski dalam baliho tertulis kata ditutup, bukan demikian maksudnya. “Kami mengedukasi masyarakat pentingnya menjaga protokol kesehatan. Harapannya tidak ada lagi yang meninggal,” terangnya.

Hak senada disampaikan Teguh, warga setempat. Pria yang merupakan penanggungjawab perlengkapan peralatan pemakaman membenarkan kalau akhir-akhir ini kewalahan. Ia mengatakan kalau cangkul dan sekop sudah sering rusak akibat banyaknya warga yang meninggal. “Terpal juga kurang,” katanya.

Teguh mengaku kalau pemakaman tersebut digunakan untuk memakamkan warga yang meninggal di dua dusun. Yakni Dusun Krajan dan Dusun Pesisir dengan jumlah penduduk sekitar seribu lebih. Sedangkan dusun lainnya dimakamkan di tempat pemakaman berbeda. Ia juga berharap kalau pemasangan baner ini dapat mengedukasi masyarakat. (zr/sp)