Mochammad Angga


Wartawan Tadatodays.com | 2020-12-12 21:11:05

Belum Ada Hasil Swab, Warga Dringu yang Meninggal Diproses Layaknya Pasien Covid-19

CAPAI KESEPAKATAN: Yudirianto saat berdiskusi dengan anggota Polsek dan Koramil Dringu sesaat setelah sepakat dengan rumah sakit. Pihak keluarga pasien akhirnya menyepakati aturan rumah sakit meski merasa kecewa.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Sugeng Prayitno, 65, Desa Kedungdalem, Kecamatan Dirngu, Kabupaten Probolinggo meninggal dunia di Rumah Sakit Wonolangan, Sabtu (12/12/2020). Oleh pihak rumah sakit, pemulasaran dilakukan dengan protokol covid-19. Padahal, hasil swab belum keluar.

Pihak keluarga sendiri mulanya tidak terima dengan kondisi tersebut. Pasalnya, gara-gara protokol covid-19 tersebut, pihak keluarga tak bisa memandikan jenazah. Terlebih, keluarga tak yakin dengan status suspect covid-19 karena belum ada hasil swab.

Baca Juga : Bupati dan Wabup Jember Telah Disuntik Vaksin Sinovac, Tidak Alami Gejala

Yudirianto, anak sulung Sugeng mengatakan, sang ayah memang punya penyakit jantung. Karena itu pula, ayahnya dibawa ke RS Wonolangan, Minggu (22/11/2020). Karena kondisinya membaik, Rabu (25/11/2020) Sugeng diperbolehkan pulang.

Baca Juga : Ribuan Vaksin Sinovac di Banyuwangi Mulai Didistribusikan

Namun, Sabtu (12/12/2020) sekira pukul 06.00 WIB, penyakit ayahnya kambuh disertai sesak napas. Akhirnya, pihak keluarga kembali membawa Sugeng ke RS Wonolangan. Karena memiliki sesak napas, pihak rumah sakit lantas menyodorkan sebuah surat berisi persetujuan penanganan dengan protokol kesehatan.

Sejatinya, pihak keluarga keberatan karena khawatir gejala yang muncul dikaitkan dengan covid-19. Namun, karena sang ayah perlu dirawat, mau tidak mau keluarga menandatangani persetujuan tersebut. Pihak keluarga bahkan dua kali meneken surat persetujuan.

“Pertama penandatangan masuk dan ditangani. Sekira jam 10.00 disuruh tandatangan lagi untuk memasukkan obat atau suntik begitu,” katanya saat ditemui di lokasi.

Selanjutnya, Yudirianto bertemu dengan dokter umum bernama Fahrizal. Menurut dokter tersebut, obat itu memiliki efek. “Kalau kencing warnanya merah, dan bila masuk ke syaraf, bapak bisa mengalami kelumpuhan,” katanya menirukan perkataan sang dokter.

Saat itu, ia menanyakan apakah ada pengobatan lain yang bisa ditempuh. Namun, dijawab tidak ada. Setelah obat disuntikkan, beberapa jam kemudian sang ayah meninggal dunia. Pihak keluarga juga menyayangkan tidak pernah diberi penjelasan soal hasil rontgen maupun laboratorium. “Tidak ada penjelasan soal covid,” katanya.

Karena itulah, pihak keluarga semula menolak dilakukan protokol covid-19. Apalagi, hasil swab juga belum keluarga. Pihak keluarga pun mengaku tidak tahu jika pasien dites swab. Namun, setelah sekian jam dialog soal penolakan keluarga, pihak rumah sakit tetap kukuh melakukan protokol covid-19.

Sementara itu, Dokter Rena yang malam itu bertugas pada tadatodays.com mengatakan, penyakit jantung pasien mengarah ke pembuluh koroner. Di mana kondisi tersebut merupakan gejala klinis covid-19.

“Itu faktor komorbid terjadi pada pasien covid. Karena masuk ke sini dengan gejala sesak napas. Mau tidak mau harus di-screening (covid-19),” jelasnya. Pihaknya lalu melakukan pemeriksaan laboratorium dan rontgen.

Rena mengklaim, mekanisme pengobatan maupun penanganan sudah sesuai dengan prosedur. “Sudah dilakukan rapid test dengan hasil reaktif.  Hasil rontgen ada pneumonia tipikal covid. Dari sana kita sudah melakukan diagnosa, dengan gejala sesak, sulit nafas selama dua hari," imbuhnya.

Saat datang ke rumah sakit, kadar oksigen Sugeng menurut Rena di angka 90-91 persen. Padahal, normalnya antara 90-100. “Otomatis diagnosa kami adalah suspect. Meski belum ada hasil swab maka tetap dilakukan protokol kesehatan,” jelasnya.

Rena membantah jika pihak rumah sakit tidak memberi penjelasan soal kemungkinan pasien terpapar covid-19. Tak hanya itu, keluarga menurut Rena juga menyetujui obat yang hendak disuntikkan ke pasien. Tentu dengan kemungkinan risiko-risikonya. (ang/sp)