Mochammad Angga


Wartawan Tadatodays.com | 2020-12-26 09:05:09

Berikan Alternatif Hiburan saat Pandemi, Pemuda Muhammadiyah Gelar Pentas Seni Virtual

PARTISIPASI: Tidak hanya menyajikan pentas seni secara virtual, Pemuda Muhammadiyah Kota Probolinggo juga menggelar diskusi seni dan budaya.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Liburan sekolah saat pandemi tak bisa dimanfaatkan secara leluasa untuk berwisata. Karena itulah, Pemuda Muhammadiyah Kota Probolinggo memberikan alternatif hiburan pada masyarakat melalui pentas seni virtual, Jumat (25/12/2020).

Sejumlah kesenian ditampilkan dalam kegiatan yang dilaksanakan di Graha Ahmad Dahlan (GAD), Jl. Soekarno-Hatta nomor 94, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan tersebut.

Baca Juga : Dites Rapid Antigen, 8 Orang Satpol PP Kota Probolinggo Reaktif

Di antaranya seni tari dari sanggar Bina Tari Bayu Kencana (BTBK), musik gamelan yang dibawakan kelompok musik Gamelan Kolaborasi Perkusi (G-Koper), baca puisi dari teater Extreap dan STAI Muhammadiyah, serta atraksi seni dari pencak silat Tapak Suci.

Baca Juga : Penerapan Protokol Kesehatan di Pasar Hewan Wonoasih Tak Ketat

Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Probolinggo Muhammad Abdul Ghofur mengatakan, pentas seni tersebut digelar sebagai bagian dari kepedulian organisasinya pada seni dan budaya. “Terutama saat pandemi saat ini,” katanya.

Tak hanya pentas seni, kegatan yang digelar pukul 19.00 WIB juga diselingi dengan diskusi hangat terkait kesenian dan problematikanya. Muhammad Abduh, Kabid Seni dan Budaya PD Pemuda Muhammadiyah yang memandu diskusi tersebut mengatakan, saat ini tidak banyak orang yang membincang kesenian.

 “Seberapa pentingnya dan butuhnya kita pada seni, itu yang perlu didiskusikan,” katanya. Karena itulah, pihaknya mengambil tema “Manifestasi Kreativitas di Masa Pandemi”, sebagai upaya mengurai benang kusut kesenian saat ini terutama ketika dihadapkan pada situasi wabah covid-19.

Dalam diskusi tersebut, hadir sejumlah pembicara. Di antaranya, Hadani dari perwakilan Lembaga Seni, Budaya, dan Olahraga PD Muhammadiyah Kota Probolinggo; Imam Wahyudi, Badan Pertimbangan Dewan Kesenian Kota Probolinggo, serta akademisi dan aktivis mahasiswa.

Imam Wahyudi mengatakan, butuh tidaknya pada kesenian tergantung dari seberapa jauh pemahaman orang pada seni itu sendiri. Dan pemahaman ini tidak hanya dibentuk oleh personal, namun juga komunal.

“Sejauh ini, kami melihat seni hanya digunakan sebagai tempelan saja. Belum menjadi kekuatan utama,” katanya. Dan peran memajukan kesenian, terutama seni tradisi, itu harus diambil semua pihak. Baik itu pemerintah, ormas, organisasi kepemudaan, maupun kelompok seni. (ang/sp)