Mochammad Angga


Wartawan Tadatodays.com | 2021-01-13 18:50:10

Bugiarso, Sang Petinju Berjuluk “The Killers” Berpulang

MEMBANGGAKAN: Lenny, istri almarhum Bugiarso, saat menunjukkan salah satu sabuk medali yang diraih suaminya.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Cabang olahraga (Cabor) tinju menjadi salah satu cabor andalan Kabupaten Probolinggo. Banyak atlet tinju Kabupaten Probolinggo yang menorehkan prestasi gemilang, yang tentu tak lepas dari peran pelatih. Nah, salah satu pelatih di Kabupaten Probolinggo itu bernama Bambang Mugiarso alias Bugiarso. Mantan atlet tinju nasional itu telah berpulang kepada Sang Khalik. Petinju berjuluk “The Killers” itu tutup usia pada Rabu (13/1/2021) sekira pukul 05.00 WIB.

Pria kelahiran Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang, 14 April 1972 itu meninggal di usia 49 tahun akibat sakit lambung dan sesak napas yang dideritanya.

Saat tadatodays.com mendatangi rumah duka di Jl. MT Haryono GG 4, Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo ramai dikunjungi pentakziah. Sejumlah tetangga, pegawai Pemkab Probolinggo, kerabat, hingga atlet tinju datang sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum Bugiarso.

PRESTASI: Salah satu pertandingan yang diikuti Bugiarso (dua dari kanan), hingga ia dikenal dengan julukan "The Killers".

Di rumah duka, tadatodays.com ditemui istri almarhum, Lenny Vera , 44. Ia tampak mengeluarkan tetesan air mata atas kepergian sang suami. Dengan mengenakan baju muslimah warna hijau, ia ditemani tiga orang anaknya, 2 laki-laki dan seorang perempuan yang rata-rata masih usia remaja.

Lenny, sapaannya, mengatakan, bahwa ia sudah hampir merayakan 26 tahun pernikahannya dengan Bugiarso, tepatnya di bulan Januari ini. Namun takdir berkata lain. 

Lenny bercerita, sebelum menikah dengannya, Bugiarso disebutkan sudah memiliki penyakit asam lambung. "Tetapi kemudian sembuh," ujarnya, sambil mengusap air matanya menggunakan baju yang dipakainya.

Beberapa tahun kemudian, asam lambung Bugiarso kembali kambuh dan kerap berobat ke dokter. Seingat Lenny, asam lambung sang suami semakin tinggi dan disertai sesak napas. Kondisi itu mulai terjadi sejak Juni 2020 hingga Desember 2020. “Sempat stroke ringan, karena ia semangat kemudian sembuh," ujarnya.

Sebelum meninggal, Bugiarso masih sempat salat subuh di rumahnya, meski kondisi tubuhnya tak sehat. Setelahnya, pria bertubuh kekar itu sempat bercanda dan berbicara dengan Lenny.

Tapi apa daya, kekuatan tubuh Bugiaro ada batasnya, meski ia dikenal sebagai petarung tangguh saat di atas ring. Hingga akhirnya, mantan atlet tinju nasional itu menghembuskan napas terakhirnya sekira pukul 5 pagi, bakda subuh.

Kini, pria lima bersaudara itu telah tiada. Jasadnya memang telah dikebumikan di TPU tak jauh dari rumahnya, namun sederet prestasinya akan tetap dikenang oleh pecinta olahraga tinju di Indonesia.

Lenny pun menunjukkan prestasi sang suami selama berada di atas ring, yang dicatat sendiri oleh Bugiarso di dua lembar kertas yang telah usang. Dari catatan itu, tertulis bahwa Bugiarso telah melakoni pertandingan sebanyak 32 laga mulai dari tahun 1990 hingga 2001.

Tak hanya pertandingan di Jawa Timur seperti Malang, Surabaya, Bojonegoro dan Kediri yang telah dilakoni pria berkulit sawo matang itu. Ia juga telah menghantam lawan-lawannya di atas ring saat berlaga di Jakarta, Manado, Kupang, Medan, Balikpapan dan Batam.

Tak hanya Lenny yang mengenang perjalanan Bugiarso di dunia tinju. Sagitarius Wanto, adalah salah satu teman kecil sekaligus mantan atlet tinju yang pernah berlatih bersama “The Killers”.

IKHLAS: Istri dan ketiga anak almarhum Bugiarso telah mengikhlaskan kepergian pria kesayangan mereka.

Pria berusia 55 tahun, warga Keluruhan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo ini menceritakan, dulu ia pernah berlatih bersama Bugiarso di Pabrik Gula Jatiroto sejak usia 17 tahun. Ia melanjutkan, sekitar tahun 1980 jumlah petinju yang berlatih di Jatiroto sekitar 30-an. Berjalannya waktu, puluhan remaja itu akhirnya tak melanjutkan berlatih. Hanya ia dan Bugiarso lah yang tetap menggeluti olahraga ekstrem itu.

Pria bertubuh tinggi ini menyampaikan, dari ketekunan sahabatnya itu, Budiarso kemudian dikirim ke Jakarta dan Surabaya untuk bergabung dengan sasana yang lebih besar. Selanjutnya pada tahun 90-an, Bugiarso menetap di Kota Probolinggo setelah direkrut Sasana Akas Boxing hingga tahun 2002. Sementara ia diminta untuk jadi pelatih oleh pemilik Akas Boxing, yang akrab disapa Pak Roi.

Nah, di Sasana milik perusahaan bus AKAS itulah, kemampuan Bugiarso sebagai atlet tinju semakin menggila setelah dilatih oleh Yunus, salah satu pelatih nasional yang juga telah meninggal.

Di Sasana Akas Boxing, Bugiarso juga memilik rekan seprofesi yang namanya tak kalah mentereng. Sebut saja, Anis Roga, Faisal Akbar dan La Amir.  "Sempat memenangkan sabuk WBA," kenang pria yang karib disapa Taurus ini.

Kini, Taurus tak bisa lagi berdiskusi tentang dunia tinju atau ngobrol tentang banyak hal dengan Bugiarso. Ia juga tak lagi bisa melihat tayangan pertandingan tinju luar negeri, seperti dulu saat ia melihat pertandingan petinju internasional Thomas Han bersama Bugiarso.

Selamat jalan, Bugiarso. (ang/don)