Hilal Lahan Amrullah


Wartawan Tadatodays.com | 2022-06-07 20:07:52

Bulan Imunisasi Anak Nasional, Upaya Meminimalisasi Risiko Penyakit Anak

SINERGISITAS: Dinkes Kabupaten Probolinggo menyambut program BIAN yang dicanangkan pemerintah sebagai upaya pencegahan risiko penyakit dan keparahan pada balita.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo terus melakukan upaya untuk menekan angka risiko keparahan penyakit pada anak. Salah satunya dengan mengoptimalkan program Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) yang pada Agustus 2022 nanti sudah masuk tahap kedua.

Plt. Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo Mujoko mengatakan, BIAN di Jawa Timur telah dijadwalkan pada tahap dua Agustus nanti. Yakni miliputi imunisasi Measless Rubela (MR), sebagai upaya memutuskan transmisi penularan virus campak dan rubella. Imunisasi diberikan pada anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun.

Baca Juga : Jemput Bola, Puskesmas Kraksaan Vaksinasi Booster hingga Pondok Pesantren

Karena itu, sebelum pelaksanaan BIAN, Dinkes setempat mulai Mei melaksanakan imunisasi kejar. Imunisasi kejar merupakan imunisasi guna melengkapi status vaksin yang belum lengkap. Saat ini, BIAN mulai dilaukan di provinsi selain Jawa seperti Aceh, Riau, dan sebagainya.

Baca Juga : Jemput Bola, Puskesmas Kraksaan Vaksinasi Booster hingga Ke Pondok Pesantren

“Jadi sebelum pelaksanaan BIAN di bulan Agustus itu, kami sekalian mendata anak-anak yang status vaksinnya belum lengkap. Semua Puskesmas sekarang mulai melaksanakan imunisasi kejar,” terang pria yang juga menjabat sebagai Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes setempat.

PENCEGAHAN: Dinkes Kabupaten Probolinggo menginstruksikan Puskesmas untuk melakukan pendataan berkaitan dengan vaksinasi anak. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi risiko penyakit yang bisa mendera anak.

Mantan kepala Puskesmas Gending ini mengatakan, BIAN dilaksanakan karena cakupan imunisasi rendah. Hal itu mengakibatkan immunity gap (kesenjangan imunitas, Red). Bahkan dampak yang lebih luas, terjadi peningkatan kasus dan terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I).

“Posyandu tidak 100 persen beroperasi selama pandemi covid-19. Akhirnya, balita yang seharusnya mendapatkan vaksin, banyak juga yang lolos. Karena banyak yang lolos itu, khawatir akan terjadi penyakit PD3I,” kata pria berkacamata ini.

Sebagai contoh, ada anak yang saat ini usianya seharusnya mendapat imunisasi polio, namun ia tidak mendapatkan imunisasi polio. Bisa jadi dua tahun sampai tiga tahun ke depan, ia terserang penyakit polio.

PERAN AKTIF: Orangtua juga dituntut peran aktifnya untuk berkoordinasi dengan Posyandu maupun Puskesmas terkait vaksinasi sang anak. Jika belum mendapat, diharapkan segera berkonsultasi.

“Padahal seharusnya bisa dicegah, kalau ia vaksin. Sama seperti di Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih terjadi penyakit difteri. Bisa jadi adanya penyakit difteri karena pemberian vaksinnya belum dilakukan. Jadi jangan sampai anak-anak kita setelah beberapa tahun ke depan terkena penyakit PD3I,” harapnya.

Ia menyarankan kepada para orang tua segera menghubungi Posyandu terdekat, untuk dicek dan dipastikan vaksin atau imunisasi apa belum lengkap. Supaya vaksin yang kurang dapat segera dilengkapi. Orang tua juga disarankan memeriksakan anaknya ke fasilitas kesehatan terdekat, jika ada keluhan dan rutin mendatangi posyandu untuk imunisasi.

“BISA jadi anak itu tidak mendapatkan vaksin lengkap, sampai akhirnya dia terkena perkusif atau lainnya. PD3I di antaranya meliputi penyakit perkusif, tetanus, difteri, dan lain sebagainya. Segera periksakan ke Puskesmas, ketika didiagnosa difteri atau perkusif, nanti Dinkes melakukan surveilens dan penanganan,” jelasnya. (*/hla/sp)