Cerita Eks ODGJ di Pasuruan: Pernah Halusinasi Parah, Masuk RSJ, Kini Produktif Buat Kerajinan

Amal Taufik
Thursday, 22 Jan 2026 08:58 WIB

ANGKLUNG: Musa bersama penghuni UPT RSBL Pasuruan saat bermain angklung di peresmian bangunan UPT RSBL.
PASURUAN, TADATODAYS.COM - Musa Alan Nuril (22) memegang angklung bersama teman-temannya dan membunyikannya saat Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, selesai meresmikan bangunan baru UPT Rehabilitasi Sosial Bina Laras (RSBL) Kabupaten Pasuruan, di Kecamatan Grati, Rabu (21/1/2026) pukul 16.00 WIB. Musa sudah setahun tinggal di panti rehab tersebut.
Kepada tadatodays.com, Musa mengungkapkan, angklung adalah alat musik tradisional yang sering dia mainkan selama tinggal di sana. Bersama teman-temannya yang pernah menyandang status eks orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) atau penyandang disabilitas mental, belajar lebih produktif.
Musa adalah pemuda asal Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi. Ia bercerita setahun lalu dirinya mengalami halusinasi yang cukup parah. Telinganya sering mendengar suara-suara aneh.
Suara-suara itu bagi dia terdengar sangat jelas dan seolah-olah mengajaknya ngobrol. Musa pun meladeni suara-suara itu, sehingga terjadi 'perbincangan'. "Orang-orang itu melihat saya seperti saya bicara sendiri. Ya awal-awal saya ini tidak sadar, sehingga saya ladeni," ujarnya.
.png)
KERAJINAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat mendatangi melihat hasil kerajinan penghuni UPT RSBL Pasuruan.
Gejala halusinasi itu rupanya diketahui oleh neneknya. Sang nenek kemudian menegur Musa dan berkali-kali bertanya dia mengobrol dengan siapa. Sadar ada yang tidak beres dengan cucunya, sang nenek kemudian membawa Musa ke RSJ Lawang.
Pada bulan Desember 2024, Musa dirawat di RSJ selama 20 hari. Ia mengaku selama mendapat perawatan di RSJ, suara-suara aneh yang kerap datang ke telinganya memang masih terdengar, namun ia sadar bahwa itu halusinasi.
"Setelah dirawat di Lawang itu saya ditangani secara medis lalu pulangnya masih mengonsumsi obat. Suara-suara itu masih terdengar, tetapi saya sadar bahwa suara-suara itu tidak ada dan halusinasi," katanya.

Usai masuk RSJ, Musa sempat pulang ke Banyuwangi namun oleh perangkat desanya direkomendasikan agar menjalani pemulihan di UPT RSBL Kabupaten Pasuruan. Di UPT RSBL, selain belajar angklung, Musa juga belajar membuat kerajinan seperti membatik, membuat keranjang bambu, dan lainnya.
Saat ini Musa mengaku kadang-kadang suara-suara aneh itu datang, namun ia acuhkan. "Selama ini di sini saya membuat kerajinan, belajar angklung, dan apapun agar lebih produktif," imbuhnya.
Rencananya bulan Februari besok Musa akan pulang ke Banyuwangi. Maghfirah, petugas UPT RSBL Kabupaten Pasuruan mengatakan, secara regulasi warga eks ODGJ maksimal setahun untuk tinggal di UPT RSBL.
Namun tidak semua satu tahun. Kristina (40), penghuni lainnya, mengaku sudah 3 tahun tinggal di UPT RSBL Pasuruan. Manurut Maghfirah, meski sudah menjalani rehabilitasi, ketika kembali ke keluarga, mereka tidak diterima. "Permasalahannya, ketika mau kembali tidak diterima keluarganya. Akhirnya ke sini. Ada juga yang tidak ketemu keluarganya, ada juga yang tempat tinggalnya tidak tetap," kata Maghfirah.
Sekda Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono mengungkapkan, dengan adanya gedung baru UPT RSBL Pasuruan, diharapkan pelayanan dan aktvitas rehabilitas terhadap penerima manfaat berjalan lebih maksimal dan manusiawi.
Saat ini di UPT RSBL Pasuruan ada 302 penerima manfaat dengan rincian 141 kategori berat dan 161 kategori ringan. Mereka terdiri dari 216 laki-laki dan 86 perempuan.
Menurut Adhy, meski penyediaan panti rehabilitasi terus bertambah serta fasilitas yang terus diperbaiki, kebutuhan terus meningkat. "Karena tingkat stres makin tinggi, jumlah penyandang penyakit jiwa makin banyak," ujarnya.
Selain itu, fenomena yang terjadi ada kecenderungan keluarga, ketika ada anggota keluarga yang masuk panti rehabilitasi, enggan menerima kembali. Padahal seharusnya bisa kembali ke keluarga, menjalani asimilasi dan sosialisasi kembali.
"Kenyataannya masih banyak warga yang di sini tidak mau diambil. Atau ketika dipulangkan, dikembalikan ke sini lagi. Kalau ingin Jawa Timur bermartabat, maka berikan layanan yang manusiawi kepada manusia yang kurang beruntung," pungkas Adhy. (pik/why)


Share to
 (lp).jpg)