Mochammad Angga


Wartawan Tadatodays.com | 2021-12-05 01:08:48

Cerita Korban Selamat: Pasrah saat Diterjang Awan Panas Semeru, Panik Melihat Mayat

SELAMAT: Haji Amin, masih diberikan keselamatan dari terjangan awan panas erupsi Gunung Semeru. Tapi, ia kehilangan kakak perempuannya yang meninggal saat terkena material abu vulkanik.

LUMAJANG, TADATODAYS.COM – Erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Sabtu (4/12/2021) sore, membuat warga yang berada di lereng gunung setinggi 3676 mdpl itu panik ketakutan. Warga pasrah dengan terjangan awan panas, sembari menyerahkan hidupnya pada Sang Khalik.

Hal itulah yang diungkapkan oleh salah satu korban selamat bernama Haji Amin, 50, salah satu warga Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Ia menceritakan detik-detik erupsi gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

Baca Juga : Tidak Ada Korban, Awan Panas Guguran Semeru Terhenti di Gumukmas

Ditemui di RSUD dr. Haryoto Lumajang, Sabtu malam, Haji Amin mengatakan, sore itu ia bersama istri dan seorang anaknya yang tengah hamil 9 bulan, Rita, berada di dalam rumahnya.

Baca Juga : Update Korban Erupsi Gunung Semeru Per 11 Desember, 40 Meninggal, 28 Teridentifiksi

Saat asyik ngobrol, ia tiba-tiba mendengar suara hembusan angin sangat kencang di luar rumah. Tapi angin itu tak biasa baginya, sebab hawanya terasa begitu panas. “Saya sampai kesulitan bernapas,” kata Haji Amin, yang mengenakan baju muslim warna putih.

Ia tak mengetahui bahwa angin tersebut merupakan hempasan dari awan panas yang dimuntahkan Gunung Semeru. Agar angin panas tersebut tak masuk ke rumahnya, Haji Amin pun menutup pintu rumah menggunakan lemari.

Tapi tak lama kemudian rumahnya tiba-tiba ambruk. Ia bersama istri dan anaknya tak berpikir panjang, dan langsung keluar rumah. “Braak, kaca-kaca langung pecah,” ujarnya sambil menggambarkan kondisi rumahnya yang ambruk.

Ketika sudah berada di luar rumah, pria berkulit sawo matang ini terkejut karena melihat abu vulkanik Gunung Semeru sudah memenuhi halaman dan jalan di depan rumahnya. Hanya saja, hembusan angin di luar rumah sudah tidak panas lagi.

Haji Amin masih kebingungan mau berbuat apa. Sebab kondisi saat itu benar-benar panik. Semua tetangganya berlarian menyelamatkan diri. Rumah-rumah warga lainnya juga rusak. “Kemudian Basarnas datang untuk mengevakuasi warga,” tuturnya.

Saat proses evakuasi itulah, ia dikejutkan setelah melihat sesosok tubuh yang tergeletak di badan jalan dekat rumahnya. “Ternyata mbak yu (kakak perempuan, Red) saya meninggal,” katanya, sambil menunjuk jasad kakak perempuannya di mobil ambulans RSUD Hartoyo.

Ya, kakak kandung dimaksud yakni Poniem, 55. Almarhumah merupakan warga Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, yang meninggal saat awan panas menerjang. Meninggalnya Poniem juga disampaikan oleh Wakil Bupati Lumajang Indah Masdar, saat konferensi pers melalui zoom meeting.

Kini, Haji Amin hanya bisa menunggu di rumah sakit bersama istri dan anaknya yang tengah hamil tua. Ia juga masih mengurusi jasad almarhum Poniem, kakak perempuannya.

Yang terpenting baginya saat ini adalah keselamatan jiwa. Harta benda di bawah puing-puing rumahnya yang ambruk, tak lagi ia pikirkan.

Ia berharap agar erupsi Gunung Semeru tak berkepanjangan. (ang/don)