Tadatodays


Wartawan Tadatodays.com | 2021-10-02 16:55:13

Cokro Budoyo: Daul Penyambung Seni Ludruk

PENERUS: Deny (menabuh kendang) dan Abdullah (vokal) meneruskan jiwa seni mendiang Cak Mukadi melaui kelompok musik daul Cokro Budoyo.

KOTA Probolinggo telah kehilangan tokoh ludruk senior, Cak Mukadi. Sepeninggal Cak Mukadi, kelompok ludruknya juga tidak memiliki penerus. Namun itu tidak berarti darah seni dari cak mukadi hilang sama sekali. Ada cucu Cak Mukadi yang meneruskan aktivitas keseniannya, meskipun tidak berwujud seni ludruk.   

Baca Juga : Sawunggaling: Daul Mirip dengan Cerita Joko Berek

Adalah Deny Prasetyo Putra, cucu Cak Mukadi yang saat ini serius menekuni seni musik daul. Pemuda 20 tahun itu memberi nama kelompok daulnya “Cokro Budoyo”. Dibantu Abdullah,  pria 47 tahun yang merupakan cucu keponakan Cak Mukadi, Deny melatih remaja-remaja di sekitarnya hingga bisa memainkan beragam perangkat alat musik yang digunakan dalam seni musik daul.  

Baca Juga : Sawunggaling: Daul Mirip Cerita Joko Berek

Deny bersama Abdullah mendirikan daul Cokro Budoyo pada 20 Februari 2020. Saat dikunjungi Tadatodays.com di sela latihannya pada Kamis (23/9/21) malam, Abdullah dan Deny menceritakan motivasi dasarnya mendirikan daul Cokro Budoyo.

Kelompok daul Cokro Budoyo bermarkas di kediaman keluarga Deny, yaitu di Jl Sunan Kalijaga  Gang 1, RT 4 – RW 8, Kelurahan Jati, Kota Probolinggo. Nama “Cokro Budoyo“ dipilih dengan alasan sangat kuat. Cokro adalah nama buyut Deny dan Abdullah, yang dulunya adalah pendiri kelompok ludruk pertama di Probolinggo.  

“Mbah buyut saya namanya Pak Cokro. Dia pendiri ludruk pertama di Probolinggo. Biar menyambung terus seni itu, jadi seluruh anggota sepakat untuk menamai kelompok ini Cokro Budoyo,” ujar Abdullah.

BERMUSIK: Anak anak muda yang tergabung dalam kelompok Cokro Budoyo. Menikmati kesenangan bermusik, ketimbang terjebak aktivitas sia sia.

Menurut Abdullah, dirinya ingin anak-anak muda di sekitarnya mengenal seni tradisional,  ketimbang seni yang kebarat-baratan. “Saya ingin anak muda mengenal seni, utamanya seni budaya dan tradisi yang ada, agar tidak punah. Daripada anak muda ini ikut ke aliran seni modern yang ke barat-baratan, lebih baik kami arahkan ke tradisi. Agar mereka mengenal tradisi sendiri. Tujuan kami seperti itu,” kata Abdullah yang biasa diajak mentas ludruk semasa hidup Cak Mukadi.

Kesenangan pada seni tradisional juga menjadi bagian dari masyarakat sekitar tempat tinggal Deny dan Abdullah. Bila Deny dengan kelompok musik daulnya berlatih, warga sekitar bukannya protes, tetapi malah ikut ramai menonton, bahkan ikut menari.

Alhasil, perkampungan dengan rumah-rumah berdempetan itu meriah serupa sedang ada hajatan. “Warga antusias. Kalau sudah dengar bunyi, banyak yang menonton. Tidak ada yang protes. Ya karena sebenarnya warga sekitar banyak yang suka musik,” ujar Abdullah lalu meminta tim Tadatodays.com  menikmati aneka jajan gorengan yang disuguhkan.

Saat ini dalam kelompok daul Cokro Budoyo ada 30 anggota. Sejumlah 25 orang  di antaranya adalah pemusik. Sedangkan 5 orang lagi adalah penari. Rentang usia pemusik dan penari di Cokro Budoyo dari anak sekolah tingkat SMP sampai yang sudah bekerja. “Mereka semua warga Kelurahan Jati,” timpal Deny yang merupakan lulusan SMK di Jombang.   

Untuk pemusik, Deny mengajari setiap anak di kelompoknya agar dapat memainkan alat musik dengan lebih baik lagi. “Dari awal sebagian besar anggota sudah tertarik dengan musik. Jadi tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengajari,” tambah Deny.

PENARI: Gadis gadis belia yang ikut menyemarakkan tampilan daul Cokro Budoyo.

Kelompok Cokro Budoyo memutuskan untuk memiliki penari sendiri. Para penari itu adalah anak-anak muda setempat yang memang mengajukan diri ikut sebagai penari. “Gerakan yang dibawakan sebagian besar adalah hasil kreativitas penari. Formasi yang digunakan juga sepenuhnya hasil kreatifitas penari,” kata Shofia, penari daul Cokro Budoyo.

Pentas maupun latihan bagi anak-anak Cokro Budoyo menjadi kegiatan yang sangat mengasyikkan. Mereka terlihat sangat menikmati setiap kali menabuh berbagai peralatan musiknya. Tanpa ragu tubuh mereka pun bergoyang menikmati irama.  

Peralatan musik yang dimiliki kelompok daul Cokro Budoyo ini dibelikan oleh ayah Deny. Ini sebagai wujud dukungan sang ayah kepada Deny. Saat ini Deny bersama daul Cokro Budoyo sudah memiliki total 5 lagu aransemen sendiri. “Bukan hanya lagu dari Probolinggo, tapi juga ada lagu dari Banyuwangi,” kata Deny yang pernah menjuarai stand up comedy di Kota Probolinggo saat masih jadi pelajar SMP.  

Soal karakter, daul Cokro Budoyo mengandalkan aransemen yang digarap sendiri. Penggunaan alat musik juga menentukan ciri khas kelompok. Karena itu, daul Cokro Budoyo masih bertahan menggunakan pelog dan slendro.  

Meskipun baru dibentuk, daul Cokro Budoyo sudah memiliki kereta sendiri yang dibuat di Jombang oleh ayah Deny. Ikon yang dipilih untuk kepala keretanya adalah kepala serigala. Mereka memilih ikon ini karena dianggap keren dan bagus untuk dipandang.   

Cokro Budoyo sudah pernah mendapat tanggapan untuk acara pernikahan di Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo. Saat pertama kali tampil, kelompok ini tidak berani mematok tarif tinggi. “Masih kami anggap sebagai ajang promosi agar dapat lebih dikenal orang,” kata Abdullah.

Tetapi saying, setelah tanggapan pertama itu, pandemi Covid-19 pecah. Berbagai acara kesenian jadi tidak bisa digelar.  

Abdullah berharap, semua seni tradisional di Kota Probolinggo bisa maju. Untuk itu, menurut Abdullah, peran pemerintah sangat penting. Pemerintah juga harus mendukung. “Kalau pemerintah tidak mendukung, kesenian lokal hanya akan diam di tempat tanpa ada kemajuan,” kata Abdullah dengan air muka serius. (ata/why)