Dafa, Pemuda asal Mangunharjo Kota Probolinggo Berjuang Melawan Tumor Ganas di Punggungnya

Alvi Warda
Sabtu, 14 Feb 2026 16:23 WIB

BERJUANG: Dafa, pemuda asal Kota Probolinggo yang tengah berjuang melawan tumor ganas di punggungnya, bersama ibunya.
PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Muhammad Dafa Nuri Saputra (20), pemuda asal Jalan Kiyai Mugi, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo, tengah berjuang untuk kesehatannya. Dafa melawan tumor ganas di punggungnya.
Dafa lulus dari SMK Taman Siswa Kota Probolinggo tahun 2025 jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR). Di usia yang seharusnya menjadi awal merintis karier, Dafa justru harus bolak-balik menjalani pemeriksaan medis demi kesembuhannya.
Saat ditemui pada Sabtu (14/2/2026) siang, Dafa menuturkan bahwa benjolan di punggungnya pertama kali diketahui pada Februari 2025. Awalnya, ia mengira hanya benjolan lemak biasa. Kini, benjolan itu membesar hingga seukuran bola sepak.
“Awal tahu bulan Februari 2025, diagnosa dokter belum jelas, tapi kayaknya katanya tumor. Awalnya benjolan lemak. Tapi kalau mau tahu langsung operasi kata dokter di Puskesmas Jati. Nggak operasi, takut bayar, jadi nggak operasi,” ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, benjolan tersebut semakin membesar dan terasa nyeri. Beberapa bulan kemudian, kondisinya kian memburuk hingga akhirnya dibawa ke Puskesmas Jati dan dirujuk ke RSUD dr Moh. Saleh. Di sana, Dafa menjalani serangkaian pemeriksaan, mulai dari rontgen, USG, hingga CT scan pada April 2025. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kerusakan pada tulang rusuknya.
Memasuki Juni 2025, Dafa dirujuk ke RSUD dr. Soetomo Surabaya untuk penanganan lebih lanjut. Di rumah sakit tersebut, dokter melakukan pengambilan sampel jaringan (biopsi), CT scan lanjutan, serta USG jantung yang masih akan dijadwalkan, guna memastikan kondisi kesehatannya secara menyeluruh.

Menurut Dafa, awal munculnya benjolan hanya sebesar lingkaran jari telunjuk dan jempol yang disatukan. Tidak ada gejala berarti yang ia rasakan saat itu. “Awalnya nggak kerasa apa-apa. Ternyata sekarang membesar. Saya tidur miring, dikasih guling buat nahan. Kalau duduk paling lama itu dua jam, sudah sakit. Nggak tahu kalau bakal separah ini,” katanya lirih.
Dafa mengaku, setelah lulus sekolah, ia berniat langsung bekerja untuk membantu ibunya. Namun kini, ia hanya bisa berharap segera pulih agar bisa menjalani operasi dan kembali menjalani hidup normal. "Waktu PKL dulu wes ancang-ancang mau kerja di sini di sana. Terus malamnya jaga angkringan, tapi ternyata gak sesuai harapan," ucapnya.
Sang ibu, Nur Halima (43), tak kuasa menahan haru melihat kondisi putranya. Ia berharap Dafa bisa segera sembuh dan mendapatkan tindakan operasi yang dibutuhkan.
“Harapannya ingin sembuh biar bisa segera operasi. Sebenarnya ditanggung BPJS PBI JK, cuma wara-wirinya itu biayanya nggak ada. Harus pinjam atau nabung dulu. Alhamdulillah beberapa orang dan lembaga membantu kami,” ujarnya.
Nur Halima sebelumnya bekerja sebagai buruh pembuat gulungan tali rafia. Namun kini ia berhenti bekerja untuk menjaga cucunya di rumah sekaligus merawat Dafa. "Saya khawatir kalau ninggal Dafa," ujarnya.
Di tengah keterbatasan ekonomi, keluarga ini hanya bisa berharap adanya jalan terbaik agar Dafa segera mendapatkan penanganan medis optimal dan kembali mengejar cita-citanya untuk bekerja serta membantu keluarga. "Semoga anak saya cepat sembuh, itu saja doa saya," tuturnya. (alv/why)


Share to
 (lp).jpg)