Dalam Agus Berkelana, Kini Menetap di Hutan Mangrove

Alvi Warda
Monday, 31 Oct 2022 08:41 WIB

BERGITAR: Agus Sugiarto memegang gitar bekas mengamen saat muda.
“Hanya satu yang saya minta pada Yang Kuasa, kulo namung kepingin lekas dipundut (saya ingin cepat dipanggil Tuhan, red).”
--------------------
KALIMAT itu diucapkan Agus Sugiarto, pria asal Jogjakarta yang saat ini menetap di hutan mangrove, Mayangan, Kota Probolinggo. Sudah 40 tahun lebih, Agus bertahan hidup di sebuah gubuk. Tak ada sanak saudara maupun orang lain yang menemani.
Ditemui tadatodays.com pada Minggu (30/10/2022) pagi, pria berumur 76 tahun itu menceritakan perjalanan hidupnya. Ia berasal dari Jogjakarta, merantau ke Kota Probolinggo untuk mencari pekerjaan.
Agus sudah tak ingat tahun berapa pindah ke Kota Probolinggo. Yang pasti, ia berpindah hanya ingin mencari uang. Agus juga mengaku sudah berkali-kali mencoba bunuh diri. Namun, niatnya itu selalu gagal.
Bukan hanya Kota Probolinggo, daerah yang disinggahi Agus demi bertahan hidup. Mulanya, Agus yang tinggal bersama kedua orang tuanya di Jogjakarta, memilih untuk mencari kehidupan lain. Sebab, keluarganya tidak menginginkan keberadaan Agus. Agus muda adalah sosok yang liar dan berprinsip bisa hidup tanpa biaya dari orang tua.
Ingatan pria lansia itu sudah memudar. Ingatan tahun, hari dan waktu, sudah banyak yang pudar. Namun, ia masih ingat, bagaimana perjalanan hidupnya hingga saat ini.
Sewaktu memilih hidup sendiri, Agus bertekad keluar dari rumahnya. Seingatnya, ia masih belum lulus SD sudah memilih untuk berkelana. Bermodalkan mencintai seni musik, ia bertekat menyeberangi kota-kota dengan mengamen. Padahal waktu itu, ia tidak memiliki KTP dan teman.
Agus berpikir untuk mencari kehidupan dengan mengamen di jalanan dan perumahan. Mulai dari satu kota ke kota lainnya. Seperti Surabaya, Pasuruan, Probolinggo, hingga Jember. “Selama mengamen saya itu banyak sekali dapat uang yang tidak laku. Kayak 50 sen itu banyak di kantong saya,” ucapnya.
Seragam lengkap Agus mengamen adalah baju kaos dengan topi dan gitar. Biasanya untuk ke kota satu ke kota lainnya ia menggunakan kereta api lori. Hasil mengamen, ia putar untuk menjadi makanan dan ongkos perjalanan.
Seni musik melalui ngamen bagi Agus adalah asupan jiwa. Saat mengamen, ia hanya memainkan instrumen gitar, tanpa vokal. Menurutnya, itu adalah ciri khas Agus. Sampai, orang akan mengerti dan mengenali. Apabila ada pengamen hanya memainkan instrumen lagu, pasti itu Agus.
“Saya itu suka musik, sudah masuk dalam jiwa saya. Kalau saya ngamen itu pasti orang langsung kenal. Saya membawanya (lagu, red) dengan sepenuh jiwa,” tuturnya sembari duduk di gubuknya.
Setiap harinya, Agus bermalam di alun-alun setiap kota yang disinggahi. Biasanya, seminggu ia akan menetap di Kota Probolinggo. Lalu seminggu kemudian berpindah ke kota lainnya. “Seminggu di Jember, seminggu di Probolinggo, gitu terus saya,” ucapnya sembari menggerakan tangan.
Beranjak dewasa Agus membuat kartu identitas, KTP. Ia harus kembali ke Jogjakarta untuk mengurus berkas-berkas. Setelah selesai, ia kembali berkelana.
.png)
TEMPAT TINGGAL: Gubuk tempat Agus Sugiarto saat ini, dikelilingi barang-barang bekas.
Setelah mendapatkan KTP, Agus berpikir akan mempermudah hidupnya. Ia melamar pekerjaan sebagai guru les gitar pribadi untuk anak-anak di Surabaya. Dari rumah satu ke rumah lainnya, Agus lakoni untuk mendapat uang. Ia tak ingin mengamen lagi. Namun, ia ingin memiliki pekerjaan yang masih menggeluti dunia seni musik.
Namun ternyata, sebagai guru les tak mampu memberikan kepuasan bagi Agus. Ia merasa, jiwa liarnya seakan terbatas. Begitu ia mengajari anak didiknya hingga bisa, Agus memilih untuk tidak menjadi guru les gitar. Ia kembali ke jalanan.


Selain mengamen, Agus juga membuka jasa pembuatan kunci, servis kunci yang rusak dan jahit sepatu yang robek. Sebab ia sadar, meski menyukai jalanan ia harus memiliki pekerjaan yang menghasilkan uang lebih.
Suatu ketika, Agus berdiam di alun-alun Kota Probolinggo dari lelahnya mengamen. Malam itu, kejadian apes menimpanya. Ada seseorang yang menyilet tas Agus, kemudian mencuri segala barang yang ada di dalam tasnya, seperti KTP, sejumlah uang hasil ngamen, dan buku catatan hariannya.
“Saya nggak ngira, seperti sayapun juga jadi korban siletan (pencurian, red), kok ndak sekalian daging saya disilet,” ujarnya.
Matanya sayu menunjukkan kesedihan. Sekitar dua puluh tahun yang lalu, Agus akhirnya berhenti mengamen. Berhenti ngamen ternyata membuat Agus memiliki pekerjaan baru. Ada seorang teman yang mengajak Agus melaut mencari ikan di laut Mayangan. Ia bersedia demi menghasilkan uang. Setiap pagi ia pergi melaut lalu pulang menjual ikan ke perumahan-perumahan di Kota Probolinggo. Hingga saat ini, hal itu ia lakukan meski hanya di tambak dekat gubuknya.
Gubuknya itu sudah berusia 40 tahun. Ia bersama temannya membangun gubuk di tengah mangrove. Selain setiap pagi Agus pergi mencari ikan, kerang dan hewan laut lainnya ia mencari urup-urup atau barang bekas.
Terlihat, di sekeliling gubuk itu bergantung barang-barang bekas di tiap-tiap akar mangrove. Begitupun barang-barang milik Agus, seperti baju, peralatan mandi hingga peralatan dapur juga digantung di dalam gubuk itu.
Gubuk yang hanya cukup untuk ditiduri satu orang, sesak dengan barang-barang miliknya. Jika malam hari, Agus bercerita air laut sering pasang hingga masuk dalam gubuk. Terpaksa ia mengemasi barang-barangnya dan menyelatkan diri dari dinginnya air. Sampai, bisa semalaman ia memilih tidak tidur.
Sebelumnya, Agus pernah menetap di hutan daerah Jember, selama tiga tahun. Agus menyukai kesepian dan kesunyian. Di dalam jiwanya yang mengalir seni musik, seakan mengatakan pada Agus untuk memilih menepi dari hiruk pikuknya dunia. Jadilah, Agus memilih tempat tinggal di hutan mangrove Mayangan, hingga saat ini.
“Saya itu suka sepi mbak, kayak tenang kalau di kesepian itu. Di sini ini saya lebih leluasa minta (berdoa, red),” ucapnya dengan intonasi rendah.
Walau, perasaan menyerah selalu menyertai langkahnya. Ia bercerita sudah tujuh kali ingin mengakhiri hidup. Mulai dari menunggu lajunya kereta api, meminum obat melebihi ketentuan dokter, meminum bisa ular kobra, hingga gantung diri. Namun, semua niatnya itu, selalu gagal.
“Sudah terlalu numpuknya, makan ndak enak, minum kadang-kadang keselek. Saya itu senang kalau ada orang yang mau membunuh saya, lha wong pancen kepingin mati (memang ingin mati, red),” tuturnya. Pahitnya hidup, mendera jiwa Agus untuk menyerah.
Kisah hidupnya pernah diwarnai asmara. Agus pernah menikah dengan seorang wanita, yang tak ingin ia sebut namanya. Wanita itu ia temukan saat bekerja sebagai juru kunci di Jember. Ia menikah sekitar tahun 1980-an. Wanita itu, sering ia temui saat berangkat kerja.
Suatu hari, Agus melamarnya untuk mempersunting wanita pujaannya itu. Ia menikah dengan perasaan bahagia di Jember. Menurut Agus, ia sudah memiliki kehidupan yang cukup untuk menafkahi seorang istri.
Namun setelah beberapa minggu menikah, istrinya memilih untuk meninggalkan Agus. Agus tidak pernah memahami apa alasan istrinya itu. Ia hanya pasrah dan mencoba menerima keputusan istrinya itu.
Lalu, ia kembali ke Probolinggo. Saat itulah, perjalanan hidup Agus yang ia sebut menyedihkan dimulai.
Ia tak pernah mau meninggalkan gubuknya. Agus memiliki beberapa kucing kampung yang ia pelihara. Setiap harinya, ia memasak nasi, telur dan mie untuk kucing-kucingnya. Sedang ia hanya memakan kerupuk yang dicocol dengan sambal. Kalau makan nasi, ia harus mencampurnya dengan air minum. Sampai-sampai airnya keluar dari hidungnya.
“Gigi saya mpun (sudah, red) rontok yang atas, sudah tidak bisa makan yang keras-keras. Kerupuk itu saya remas. Kadang kalau kepingin nasi, saya masak hingga lembut sekali. Kadang ya rebus telur di malam hari kalau lapar,” katanya. Setiap pagi, ia ganjal rasa laparnya dengan minum kopi sembari menghisap rokok.
Agus tak pernah menerima bantuan yang tidak ia butuhkan. Menurutnya, masih ada yang lebih membutuhkan. Jika ada orang yang memberinya kelebihan, ia akan menyumbangnya ulang pada yayasan panti asuhan. Ia hanya menginginkan ketenangan hidup yang selalu ia idam-idamkan sejak muda. (alv/why)



Share to
 (lp).jpg)