Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2021-07-18 15:15:44

Dampak PPKM, Penjualan Menurun-Harga Hewan Kurban Naik

JELANG IDUL ADHA: Meski penjualan tengah lesu, Fauzi tetap harus memberi makan domba dan kambing miliknya yang dijual untuk hewan kurban.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Hari Raya Idul Adha atau yang dikenal dengan hari raya kurban, merupakan hari yang berkah untuk peternak atau pedagang hewan kurban. Namun di Idul Adha 1442 Hijriah kali yang berbarengan dengan aturan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Mayarakat (PPKM) Darurat, tingkat penjualan hewan kurban menurun dan harga hewan tinggi.

Seperti yang diungkapkan Ahmad Fauzi, peternak sekaligus pedagang hewan kurban yang mangkal di jalan raya pantura masuk Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.

Baca Juga : Pandemi, Jumlah Hewan Kurban di RPH dan TPHS Kabupaten Probolinggo Turun

Fauzi mengaku penjualan di masa PPKM sangat lesu. Dimana saat ini pembeli hewan kurban sangatlah sedikit, sementara harga hewan kurban justru semakin mahal. Bagaimana tidak, harga kambing yang dijual Fauzi itu bisa mencapai 5 juta rupiah setiap satu ekornya, dan harga domba bisa mencapai 4,5 juta rupiah.

Baca Juga : Temukan Cacing Hati pada Tiga Ekor Sapi Kurban

Dengan begitu, ia hanya mampu menjual satu sampai dua ekor saja. Pelanggan-pelanggan yang dulu sering membeli hewannya itu kini tidak membeli. "Aturan PPKM ini sangat berdampak sekali," karanya pada tadatodays.com, Minggu (18/7/2021)

Fauzi menceritakan, pada tahun 2020 lalu, penjualannya masih cukup laris. Setiap harinya ia mampu menjual 20 sampai 30 ekor, dan harganya pun paling mahal sekitar Rp 4 juta untuk jenis kambing dan domba Rp 3,5 juta.

Hingga sebelum pelaksanaan salat id tahun lalu, total 600 ekor kambing dan domba miliknya ludes. Bahkan ada pembeli yang belum kebagian.

Sementara pada tahun ini, ia menyediakan 400 ekor kambing. Hingga hari raya kurang dua hari lagi, penjualannya masih kurang dari 200 ekor. Sebanyak 30 pelanggan yang sering datang untuk membeli, saat ini belum ada yang datang sama sekali. "Saya jual dari H-10 hingga hari raya," ujar pria asal Desa Karanganyar ini.

Menurutnya, penjualan yang lesu ini membuat para peternak sepertinya merugi. Pasalnya selain rugi tenaga, ia juga rugi biaya, karena separuh hewan kurban yang ia jual itu juga membeli dari peternak lainnya. (zr/don)