Dari Stigma ke Kampung Mangga, Manisnya Klonal 21 dari Rembang Pasuruan

Amal Taufik
Amal Taufik

Sabtu, 21 Mar 2026 09:21 WIB

Dari Stigma ke Kampung Mangga, Manisnya Klonal 21 dari Rembang Pasuruan

MANGGA: Kampung mangga di Rembang, Kabupaten Pasuruan.

PASURUAN, TADATODAYS.COM - Di bawah rindangnya pohon mangga, puluhan buah bergelantungan dengan tangkai panjang yang sengaja diikat agar tidak patah. Sebagian masih hijau, sebagian mulai memerah tanda matang di pohon. Buah-buah itu tampak seperti lampion kecil yang bergoyang pelan tertiup angin.

Seorang pria bersarung batik dan berpeci hitam berdiri di antara dahan-dahan rendah tersebut. Tangannya perlahan memeriksa salah satu mangga yang hampir sebesar kepalan tangan orang dewasa.

Pemandangan seperti ini kini mudah ditemui di kawasan Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, sentra mangga yang dikenal sebagai Kampung Mangga.

Di wilayah ini, mangga klonal 21 atau yang populer disebut mangga alpukat menjadi komoditas andalan warga. Julukan mangga alpukat muncul karena cara menikmatinya yang unik.

Penikmat bisa mengiris membujur, lalu memutar irisannya tanpa harus mengupas kulitnya. Buahny bisa dinikmati dengan cara mengerok dengan sendok seperti makan alpukat. Dagingnya tebal, lembut, dan rasanya manis menyerupai mangga arumanis.

Kawasan penghasil mangga tersebut berada di tiga desa, yakni Desa Oro-Oro Ombo Kulon, Desa Oro-Oro Ombo Wetan, dan Desa Wonokerto. Dari tiga desa inilah ribuan pohon mangga klonal 21 dan varietas garifta dibudidayakan oleh petani setempat.

Perjalanan mangga alpukat di Rembang tidak selalu berjalan mulus. Pada awal diperkenalkan pada 1994, tidak sedikit warga yang menolak menanamnya.

Sutomo (55), warga Desa Oro-Oro Ombo, mengingat masa itu sebagai periode penuh keraguan. Saat itu masyarakat masih menggantungkan penghasilan pada tanaman srikaya, bunga sedap malam, dan jagung.

“Banyak yang menolak waktu itu. Tapi saya yakin mangga alpukat bisa jadi unggulan, apalagi daerah sini hanya mengandalkan air hujan,” ujarnya, Senin (16/03/2026).

Perawatan tanaman mangga saat itu pun masih sangat sederhana. Penyiraman dilakukan menggunakan gembor air, penyemprotan bunga memakai pompa manual, dan rumput liar harus dibersihkan secara manual.

Kini kondisi tersebut sudah berubah. Petani mulai menggunakan pompa air, selang penyiraman, hingga alat semprot elektrik yang mempermudah perawatan tanaman.

Hasil dari ketekunan itu mulai terasa sekitar tahun 2006. Mangga alpukat mulai memberikan keuntungan bagi warga. Dalam satu tahun, satu pohon dapat berbuah dua hingga tiga kali dengan hasil maksimal mencapai sekitar 60 kilogram buah.

Kepala Desa Oro-Oro Ombo Kulon, Hariono, mengatakan mangga kini menjadi tulang punggung ekonomi warga di wilayahnya. “Sekarang hampir semua lahan pertanian beralih ke mangga alpukat dan garifta. Totalnya sekitar 50 ribu pohon yang tersebar di sekitar 500 hektare di tiga desa,” katanya.

Buah mangga dari kawasan ini tidak hanya dipasarkan di Pasuruan. Distribusinya bahkan sudah menjangkau kota-kota besar seperti Surabaya hingga Jakarta.

Selain sebagai komoditas pertanian, keberadaan kebun mangga juga mulai dikembangkan menjadi potensi wisata. Pengunjung dapat menikmati pengalaman memetik mangga langsung dari pohonnya di kawasan wisata petik mangga yang dibuka untuk umum.

“Kalau dulu Rembang dikenal dengan istilah yang kurang baik, sekarang orang mengenalnya sebagai kampung mangga,” ujar Hariono.

Meski demikian, petani masih menghadapi tantangan terutama saat panen raya. Ketika produksi melimpah, harga mangga sering turun drastis. Mangga alpukat grade A yang pada awal musim bisa mencapai sekitar Rp 55 ribu per kilogram, saat panen puncak dapat turun hingga sekitar Rp 25 ribu bahkan lebih rendah.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah desa bersama kelompok tani membentuk koperasi sebagai wadah pemasaran hasil panen petani. Langkah ini diharapkan dapat menekan permainan harga oleh tengkulak.

Selain itu, kelompok tani juga mulai mengembangkan produk olahan mangga seperti es krim mangga dan dodol mangga agar buah tetap memiliki nilai tambah saat musim panen melimpah.

Bagi warga Rembang, mangga kini bukan sekadar hasil kebun. Ia telah menjadi simbol perubahan dari wilayah yang dulu dikenal dengan stigma negatif, menjadi daerah yang identik dengan manisnya mangga alpukat dari Pasuruan. (pik/why)


Share to