Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2021-02-14 20:18:36

Dawet Mangrove Randutatah, Manis dan Mampu Meningkatkan Perekonomian

CAMPURAN: Santan kelapa dituangkan ke sebuah wadah, sebelum dicampur dengan air gula dan dawet mangrove.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Dawet, adalah salah satu minuman khas jawa yang dikenal dengan rasanya yang manis. Minuman dawet umumnya dihasilkan dari perasan tepung beras atau tepung ketan, yang diolah dengan campuran gula merah cair dan santan.

Namun, dawet yang satu ini berbahan dasar tidak pada umumnya. Ya, dawet di Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, ini berbahan dasar dari buah tanaman mangrove.

Baca Juga : Pantai Cemara Banyuwangi Menyuguhkan Keindahan Selat Bali dan Konservasi Mangrove-Penyu

Suburnya tanaman mangrove di sepanjang pantai dan aliran sungai Desa Randudatah, membuat warga setempat berinisiasi untuk membuat minuman dan makanan sehat berbahan mangrove. Menurut warga, mangrove memiliki khasiat yang baik bagi kesehatan, salah satunya cocok untuk anak yang kurang gizi.

Baca Juga : Pantai Cemara Banyuwangi Suguhkan Keindahan Selat Bali dan Konservasi Mangrove-Penyu

KHAS: Warna hijau menjadi ciri khas dawet mangrove, yang memiliki cita rasa tersendiri dibanding dawet lain.

Tepat pada Minggu (14/01/2021) pagi, tadatodays.com berkesempatan mengunjungi rumah produksi dawet mangrove yang diprakarsai oleh Kelompok Wanita Tani/Nelayan (KWTN) Duta Harapan, Desa Randutatah, Kecamatan Paiton. Namun karena saat itu jumlah yang dipesan konsumennya hanya sedikit, maka pembuatan dawet mangrove dikerjakan sendiri oleh salah satu anggota KWTN Duta Harapan, Sumiati, warga Dusun Kramat Rt 03, Rw 01, Desa Randutatah. Sementara KWTN Duta Harapan diketuai oleh Wiwit Homsiatun, juga warga setempat.

Di rumahnya, yang juga dijadikan pusat produksi mangrove, Sumiati pun memperlihatkan bagaimana cara membuat dawet mangrove. Yakni, dimulai dari buah mangrove jenis Avicennia yang sudah diblender terlebih dahulu hingga halus dan menjadi, lalu kemudian dicampur dengan tepung tapioka dan tepung sagu, serta air secukupnya. Bahan-bahan itu kemudian diaduk sampai benar-benar merata.

Setelah merata bahan tersebut dimasukkan ke dalam wajan yang kemudian dimasak selama 20 menit sampai betul-betul menjadi kental dan matang.

Setelah masak, bahan utama itu lalu diangkat dan dicetak dengan menggunakan cetakan dawet yang berisi potongan es batu. Menurut Sumiati,  jika tidak menggunakan es batu maka hasil yang sudah cetak akan kembali kental. Dawet pun jadi, namun belum lengkap. Sebab di tahap selanjutnya, ia masih membuat santan kelapa.

Santan kelapa itu kemudian dimasak dengan campuran susu dan bahan lainnya, hingga menghasilkan aroma rasa yang menggugah selera.

Santan yang sudah masak itu kemudian dicampur dengan dawet yang sudah dipotong kecil-kecil, dan ditambah dengan gula cair. Agar terasa lebih segar, minuman dawet tersebut ditambah butiran es di atasnya.

Selain menyegarkan, dawet tersebut juga beraroma bau santan yang harum dan warna hijau khas mangrove.

Sumiati menjelaskan, butuh waktu yang cukup lama untuk menghasilkan dawet mangrove. "Lamanya proses itu bukan pada tahapan pembuatannya, tapi pada proses bahan baku mangrove itu sendiri," kata Sumiati.

BERAGAM: Selain memproduksi dawet mangrove, Kelompok Wanita Tani/Nelayan (KWTN) Duta Harapan juga memproduksi makanan ringan berbahan buah mangrove. Salah satunya stik Jeruju.

Ia menjelaskan, mangrove yang sudah dipetik dari pohon tak bisa langsung dihaluskan, tapi dimasak terlebih dahulu. "Lalu kita rendam selama 4 hari untuk menghilangkan rasa pahitnya. Saat merendam itu setiap empat jam sekali itu harus ganti air," jelas wanita usia 34 tahun itu.

Khusus untuk pembuatan dawet, Sumiati belum pernah menggunakan jenis mangrove lain, dan hanya mangrove jenis avicennia saja. Sedangkan untuk pembuatan kue kering, keripik dan stick mangrove, ia sudah bereksperimen menggunakan mangrove jenis lainnya, seperti Bruguiera.

Diketahui, produksi olahan mangrove di Desa Randutatah dimulai sejak 2017 lalu, sedangkan untuk pembuatan tepung mangrove sudah dimulai pada 2016. Hanya saja tepung tersebut dijual ke berbagai daerah. Namun seiring waktu, ia dan teman-temannya berinisasi untuk memproduksi makanan ringan, dengan berbekal pelatihan yang diberikan oleh sebuah perusahaan dan pelatihan lainnya. Hingga akhirnya, KWTN Duta Harapan berhasil membuat berbagai macam olahan makanan, seperti dawet, stick, kripik dan kue kering berbahan pokok mangrove.

"Kalau idenya dari pak Azis, sedangkan alatnya kami dapat bantuan dari PT. YTL selaku CSR kami. Termasuk juga pelatihannya," ucapnya. Diketahui, Azis merupakan pelestari tanaman mangrove di Desa Randutatah, Kecamatan Paiton.

Sumiati menyampaikan bahwa, awal pembuatan dawet mangrove  tidak semudah yang terlihat. Ia mengaku kalau dahulu sempat beberapa kali gagal dalam menciptakan dawet magrove. Mulai dari tepungnya yang tidak cocok, rasanya yang kurang pas, hingga tidak jadi sama sekali. Akan tetapi berbekal ketekunan dan semangat pengurus dan anggota KWTN Duta Harapan, upaya untuk menghasilkan dawet khas pesisir itupun berhasil.

Tak hanya kegagalan dalam eksperimen, gunjingan dan ejekan dari tetangga sekitar juga pernah dirasakan oleh Sumiati dan kawan-kawan. "Kurang lebih 7 kali percobaan gagal. Kalau gunjingan orang pernah dianggap orang tak waras, tapi masak mau patah semangat cuma gara-gara itu," senyumnya, sambil mengenang kala itu.

Sampai saat ini, KWTN Duta Harapan tetap berproduksi hingga produknya sampai ke wilayah Jakarta.

Untuk satu porsi dawet ia menjual seharga Rp 5 ribu. Untuk pembelian online, dawet mangrove itu dibungkus menggunakan plastik bening. Jika dituangkan ke dalam gelas ukuran besar, maka akan terisi penuh.

SETENGAH JADI: Dawet mangrove yang sudah matang kemudian dipotong kecil-kecil menggunakan alat khusus, sebelum dicampur dengan santan dan campuran air gula.

Pandemi, Omzet Menurun

Di era pandemi ini semua sektor perekonomian ikut terdampak. Tak terkecuali produksi dawet mangrove buatan KWTN Duta Harapan. Dimana, semula sebelum pandemi, setiap pekannya berOmzet Rp 1 sampai 1,5 juta. Kini, dalam sepekan tak sepeser pun Omzet yang didapat.

Selain karena sepinya pemesan, juga karena lesunya jumlah pengunjung di wisata Pantai Duta akibat pandemi. Diketahui, di Desa Randutatah juga ada tempat wisata pantai yang sudah dikenal banyak orang.

"Untuk uang hasil penjualan tetap dibagi ke kelompok. Biasanya 40 persen atau 50 persen ke anggota yang membuat dan yang punya pesanan. Kalau dikerjakan sama-sama beda lagi," paparnya.

Sumiati mengaku, sejak bergabung di KWTN Duta Harapan, ekonomi keluarganya mulai ada peningkatan. "Kalau dulu masih bekerja serabutan, itupun kalau ada," kata wanita asli kelahiran Probolinggo ini.

Ia berharap pandemi covid-19 ini segera berakhir, dan juga berharap kepada pemerintah untuk memberikan bantuan berupa jalan keluar terbaik agar produksi dawet mangrove bisa berjalan lancar seperti sedia kala sebelum masa pandemi. (zr/don)