Dinkes Kabupaten Probolinggo Temukan 13 Suspek Campak, Lakukan ITAS MR dan Imunisasi Kejar

Hilal Lahan Amrullah
Thursday, 12 Mar 2026 18:51 WIB

ITAS MR: Dinkes menggelar ITAS MR di Kecamatan Gending dan Kecamatan Krejengan pada Februari 2026 lalu dalam rangka pencegahan Campak dan Rubella.
PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo hingga minggu ke-7 di tahun 2026 telah menemukan 13 kasus suspek campak di sejumlah kecamatan. Masing-masing ialah Kecamatan Tegalsiwalan, Krucil, Pakuniran, Paiton, Sumber, dan beberapa lainnya.
Seluruh sampel suspek telah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya untuk dilakukan uji laboratorium. "Kalau Regen tersedia, maka 10 hari sampai dua minggu ada hasilnya,” terang Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Nina Kartika.
Menurutnya, campak disebabkan virus campak. Gejala campak yang pasti panas dan ruam. "Ada gejala batuk, pilek, mata merah di beberapa, tapi tidak semua," kata dr Nina.
Upaya pencegahan telah dilakukan Dinkes Kabupaten Probolinggo melalui program Imunisasi Tambahan Serentak Campak Rubella (ITAS MR) di wilayah kerja Puskesmas Gending dan Puskesmas Krejengan. ITAS MR itu dilakukan di Puskesmas Gending dan juga di Puskesmas Krejengan. Sedangkan cakupannya 99 persen dari 8.115 sasaran sudah tercapai di Kecamatan Gending dan cakupan di Kecamatan Krejengan sejumlah 99 persen dari 8.334 sasaran.
Upaya lain juga dilakukan imunisasi kejar. Imunisasi kejar dilaksanakan untuk wilayah-wilayah yang memiliki status suspek campak terkini. Misalnya di Desa/Kecamatan Sumber, biasanya anak-anak yang masih lolos imunisasinya atau masih tidak dapat imunisasi campak itu didata. Selanjutnya dilakukan imunisasi kejar untuk melengkapi imunisasinya. "Supaya herd immunity (kekebalan kelompok, red) terbentuk," ungkap dokter Nina.
Selain itu, Dinkes Kabupaten Probolinggo bakal menggelar imunisasi kejar serentak atau catch up campaign (CuC) selama Maret. Bahkan program ini juga dilakukan di seluruh daerah serentak di Jawa Timur. "Jadi di semua desa itu nanti didata anak-anak yang masih belum lengkap imunisasi mr1 atau mr2nya, nah itu nanti dilengkapi. Sasaran usianya itu mulai usia 9 bulan sampai 59 bulan," ujarnya.
CuC digelar di Maret 2026 yang bertepatan momen Hari Raya Idul Fitri. Pasalnya biasanya momen hari raya itu musim mudik. Sehingga harapannya itu sebelum Hari Raya Idul Fitri itu anak-anak itu sudah sudah dapat perlindungan. CuC dilaksanakan sebelum lebaran supaya terjegah transisi campak saat musim mudik. "Di surat dijadwalkan Maret hingga April pelaksanaan CuC," bebernya.

Sebelumnya, Dinkes Kabupaten Probolinggo mengikuti zoom meeting bersama Kementerian Kesehatan RI. Saat itu dijelaskan bahwa terjadi di daerah-daerah ada peningkatan kasus campak. Termasuk di Jawa Timur.
Dokter Nina berharap, imunisasi itu bisa merata. Pasalnya, kalau masih ada dua atau tiga persen yang tidak terimunisasi, maka masih memiliki kemungkinan untuk terkena dan menularkan kepada yang lain.
"Jadi harapannya yang bagus ya, terbentuk kekebalan kelompok. Jadi tidak ada penularan. Tapi kalau masih ada yang bolong satu, dua, itu masih ada kemungkinan. Jadi kalau hanya orang per orang nggak semua itu tidak menciptakan suatu benteng untuk melindungi anak-anak dari bahaya penyakit," tegas mantan kepala Puskesmas Paiton ini.
Sementara menghadapi CuC, Dinkes memastikan tenaga kesehatan yang melakukan imunisasi terpenuhi. Termasuk vaksin, dan logistik lainnya terus juga. Upaya lain Dinkes terus melakukan edukasi dan komunikasi public yang tepat kepada masyarakat untuk ikut berpartisipasi dan mendukung pelaksanaan imunisasi rutin lengkap khususnya campak.
Selanjutnya, Dinkes menyiapkan sarana prasarana rumah sakit yang memadai untuk antisipasi lonjakan kasus campak dengan komplikasi yang membutuhkan perawatan lanjutan. Kemudian selanjutnya memantau dan mengevaluasi pelaksanaan.
"Kami akan merespon imunisasi secara berkala. Jadi nanti setelah pelaksanaannya selesai, kita melakukan evaluasi ya, sejauh mana sih targetnya, sudah terpenuhi belum? Kalau memang belum terpenuhi, ya dilanjutkan," jelas dokter Nina. (hla/why)


Share to
 (lp).jpg)