Amelia Subandi


Wartawan Tadatodays.com | 2022-07-26 17:46:52

Dinkes P2KB Gencarkan Sosialisasi dan Intervensi Cegah Stunting

REMBUK STUNTING: Sebagai wujud komitmen bersama semua OPD di Kota Probolinggo dalam aksi konvergensi penurunan stunting melaksanakan rembuk stunting.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Problem stunting masih harus mendapat perhatian lebih di Kota Probolinggo. Sebab, meskipun berada di bawah target prevalensi nasional (14 persen), namun angka stunting di Kota Probolinggo cenderung mengalami peningkatan.

Pemkot Probolinggo melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) mendata pada 2020 angka stunting mencapai  12,8 persen. Sedangkan pada 2021  angka stunting justru naik jadi 13,32 persen.

Baca Juga : Masih Ada 54 Lokus Stunting, Dinkes KabupatenProbolinggo Fokus Lakukan Pencegahan

Stunting adalah kondisi  kekurangan gizi kronis ( dalam jangka waktu lama) sehingga anak lebih pendek dari teman seusianya..

Baca Juga : Masih Ada 54 Lokus Stunting, Dinkes Kabupaten Probolinggo Fokus Pencegahan

SOSIALISASI: Melalui kegiatan sosialisasi, masyarakat dipahamkan tentang stunting dan langkah-langkah pencegahan stunting.

Ada sejumlah faktor penyebab stunting, antara lain asupan gizi rendah saat ibu hamil, pola asuh yang keliru. Berikutnya, bayi tidak mendapatkan ASI eksklusif, MP ASI yang kurang memenuhi kebutuhan gizi, BBLR (berat badan bayi lahir rendah), dan penyakit pada balita. Selain itu, penggunaan air yang tidak bersih, lingkungan yang tidak sehat, terbatasnya akses terhadap pangan dan kemiskinan, juga menjadi faktor penyebab stunting.

Pengelola Program Gizi pada Dinkes P2KB Kota Probolinggo Tunik Agustina mengatakan, salah satu cara mengenal stunting pada anak yaitu dengan melihat bagaimana perkembangan tinggi badan menurut umur anak di setiap bulannya.

Buruknya asupan nutrisi selama seribu hari pertama kehidupan (HPK) mengakibatkan anak tidak mendapatkan kecukupan gizi sesuai dengan kebutuhannya. Sehingga dia mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan

"Tingkat pengetahuan masyarakat  yang kurang terkait pola makan balita,  bayi tidak mendapatkan ASI, makanan yang dikonsumsi rendah gizi, menyebabkan balita sering sakit-sakitan, karena daya tahan tubuh rendah. Ditambah lagi kondisi lingkungan rumah yang tidak sehat, menjadi penyebab terjadinya stunting,” papar Tunik.

Untuk menangani problem stunting, menurut Tunik, Dinkes P2KB Kota Probolinggo terus melakukan berbagai upaya. Selain sosialisasi, dilakukan pula langkah-langkah intervensi langsung. Sebut saja intervensi terhadap kalangan remaja putri, dengan memberikan tablet tambah darah. Tujuannya agar tidak terjadi anemia.

POSYANDU: Ujung tombak pencegahan stunting ada di Posyandu. Di sini kecukupan gizi ibu hamil dan balita terus dipantau.

Langkah serupa dilakukan kepada ibu hamil, yaitu pemberian tablet tambah darah. “Sehingga diharapkan semua ibu hamil bisa melakukan pemeriksaan pada tenaga kesehatan, agar memperoleh informasi yang jelas terkait perawatan selama kehamilan,” terang Tunik.

Menurutnya, bayi lahir harus mendapatkan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dan  diberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Pada anak yang menginjak usia 6 sampai 24 bulan, ASI tetap dilanjutkan, dan juga anak mulai diberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang disesuaikan dengan umur anak.  “Misalnya anak umur 6 sampai 9 bulan, dia harus makan makanan lumat yang kental, bukan encer, diberikan 3 kali sehari per porsi 2-3 sendok makan,” tuturnya.

Tunik menyatakan, Dinkes P2KB Kota Probolinggo terus menggencarkan sosialisasi dan pendampingan keluarga. Selain itu, Dinkes juga terus melatih petugas kesehatan, serta kader posyandu, PKK dan semua elemen masyarakat. (*/mel/why)