DKKPro Gelar Apresiasi Seni Probolinggo 2023, Pentaskan Teater Tari “Arum Daya”

Mochammad Angga
Sunday, 31 Dec 2023 17:51 WIB

GETIR: Arum dan Daya. Romansa pasangan ini harus berakhir getir.
PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Dewan Kesenian Kota Probolinggo (DKKPro) tetap bersemangat beraktivitas, meski sudah lima tahun lamanya tidak mendapat sokongan dana hibah dari Pemkot Probolinggo. DKKPro secara swadaya berhasil menggelar kegiatan rutinnya, yaitu Apresiasi Seni Probolinggo 2023 yang dipuncaki dengan pementasan teater tari “Arum Daya”.
Apresiasi Seni Probolinggo rutin digelar DKKPro bersama sanggar-sanggar seni di Kota Probolinggo saban Desember. Pementasan teater tari “Arum Daya” pada Sabtu (30/12/2023) malam di Gedung Kesenian Kota Probolinggo menjadi pemuncak gelar Apresiasi Seni Probolinggo 2023.
.png)
LENGGER: Arum bertekad menjadikan hidupnya sebagai pelindung eksistensi lengger.
Gedung Kesenian Kota Probolinggo malam itu dipadati penonton. Mereka tekun menyimak dua pementasan malam itu mulai pukul 19.00. Pertama ada pementasan teater “Dewi Rengganis” yang disajikan oleh Komunitas Teater Gembok. Setelah itu baru disajikan teater tari “Arum Daya: Getirnya Cinta Seorang Lengger”.
Naskah drama “Arum Daya” ditulis oleh jurnalis tadatodays.com Imam Wahyudi. Ia mengangkat naskah ini dari cerita rakyat Lengger Arum yang masih bertahan dalam tradisi lisan masyarakat Kota Probolinggo sampai saat ini, khususnya di Kelurahan Mangunharjo.
.png)
KUASA: Bramala, sosok putra adipati yang menggunakan kekuasaan demi mendapatkan cinta Arum.
Dari naskah drama, Arum Daya kemudian dipentaskan dalam kemasan teater tari. Disutradarai Peni Priyono dan Deva, pentas Arum Daya diperkuat tiga sanggar. Masing-masing ialah sanggar tari BTBK (Bina Tari Bayu Kencana), Komunitas Teater Gembok, dan sanggar musik Sekar Arum.
Secara ringkas, teater tari “Arum Daya” mengisahkan sosok Arum, seorang pelaku lengger muda. Ia dididik ibunya untuk meneruskan seni lengger. Lalu Arum terjebak dalam cinta segitiga. Arum terpaksa menyanggupi menerima perasaan Bramala, anak Adipati, demi menjaga seni lengger tidak diberangus penguasa. Padahal, hati Arum sebenarnya sudah tertambat pada sosok Daya, teman masa kecilnya.
Di puncak konflik yang dihadapi, Arum memilih jalan tragis. Ia mengakhiri hidupnya dengan cara menusukkan cundrik atau tusuk rambut ke dada kirinya.
.png)
TARUNG: Demi menyelamatkan Arum, Daya terpaksa bertarung melawan Bramala.

Ketua DKKPro Peni Priyono yang menyutradarai “Arum Daya” mengatakan bahwa pementasan teater tari ini menjadi apresiasi bagi warga Kota Probolinggo. "Kota Probolinggo juga memiliki cerita lengenda,” katanya saat ditemui usai pementasan.
Menurut Peni, seluruh cerita legenda yang ada di Probolinggo perlu ditunjukkan kepada masyarakat. "Selama ini kita mencari dan menggali, ternyata kita menemukan cerita rakyat, salah satunya Arum Daya. Maka kita pentaskan," ungkapnya.
Antusiasme penonton dalam pementasan ini mengejutkan Peni Priyono. Ia tidak menyangka jika jumlah penontonnya melebihi ekpekstasi. Kursi undangan yang disediakan hanya 250 biji. Tetapi, semua kursi itu terisi, bahkan masih ada ratusan lagi penonton yang berdiri dan duduk memenuhi tribun. "Perkiraan ada 800 sampai 900 orang (penonton, red) berkumpul," katanya.
.png)
CUNDRIK: Di puncak konflik, Arum memilih mengakhiri hidupnya dengan menusukkan cundrik ke dada kirinya.
Siti Maysaroh, 54, salah seorang penonton, mengaku baru pertama kali melihat pentas teater dan teater tari. Ternyata menurutnya, pertunjukan ini bisa membuatnya merinding.
Di saat yang sama, Maysaroh juga merasa bahagia. Sebab, putrinya ikut tampil malam itu. "Bahagia juga. Salah satu pemainnya anak saya, Nazwa Surya Ninda," tuturnya.
Walau pementasan teater, teater tari dan lagu-lagu Probolinggoan malam itu sudah berakhir sekitar pukul 20.30, namun para penonton masih ramai berkumpul di gedung kesenian sampai lebih dari setengah jam kemudian.
.png)
RENGGANIS: Dewi Rengganis menggendong anak hasil pernikahannya dengan pria yang berhasil menaklukkannya.
Sangat kental kesan kelangenan publik Kota Mangga pada pertunjukan yang terkonsep dan memiliki akar kuat pada nilai-nilai lokalnya. Terbukti, malam itu selepas pementasan, para penonton asyik membincang pementasan yang baru disaksikan, kemudian ramai berfoto bersama pemain, atau sekedar berswafoto dengan latar pentas “Arum Daya”.
“Ini tanda pementasan yang sukses,” kata Ketua Dewan Pertimbangan DKKPro Budi Krisyanto melihat para penonton yang masih betah berlama-lama di gedung kesenian meskipun pementasan sudah usai. (agg/why)
.jpg)


Share to
 (lp).jpg)