Alvi Warda


Wartawan Tadatodays.com | 2022-05-23 17:11:22

Emil, Siswa Smada Kota Probolinggo Raih 2 Kejuaraan Internasional

BARENG GUBERNUR: Emilio Dwiky Cesar Paddila, siswa SMAN 2 Kota Probolinggo yang juara satu dalam kejuaraan Global Competition for Life Sciences (Glocolis) dan International Applied Physic Olympiad (IAPhO) 2022.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Siswa SMA Negeri 2 (Smada) Kota Probolinggo kembali mengukir prestasi membanggakan. Kali ini prestasi level internasional berhasil diraih Emilio Dwiky Cesar Paddila. Ia meraih juara satu dalam kejuaraan Global Competition for Life Sciences (Glocolis) dan International Applied Physic Olympiad (IAPhO) 2022.

Emil, begitu anak kelas sebelas itu biasa dipanggil, lahir dan besar di Kota Probolinggo. Kini, usianya 17 tahun. Menjadi seorang remaja, membuatnya selalu bersemangat mengikuti perlombaan yang berbau fisika. Ia mengatakan pada Tadatodays.com, Senin (23/05/2022) pagi, bahwa pencapaiannya ini ia dedikasikan untuk sekolah tercintanya, SMAN 2 Kota Probolinggo.

Baca Juga : Emil, Siswa Smada Kota Probolinggo Meraih 2 Kejuaraan Internasional

Ia juga bercerita memang sedari SMP sudah menyukai pelajaran fisika. Emil menempuh jenjang SMP di SMP Integral Hidayatullah Kota Probolinggo. Sejak mengenal pelajaran fisika saat itu, berbagai ajang kompetisi yang berbasis fisika ia ikuti.

Baca Juga : Disdikbud Kota Probolinggo Melakukan Pembinaan pada Kelompok Seni

Dalam perlombaan Glocolis ia berhasil menyisihkan sekitar 100 lebih peserta dari seluruh manca negara. Ia bersama pembimbingnya menghabiskan waktu selama delapan bulan untuk menyelesaikan projeknya. Tak mengherankan, ia meraih sertifikat dan medali emas sebagai juara satu.

Selama delapan bulan itu, ia meneliti sebuah inovasi dari limbah laut berupa kulit tebalan. Inovasi tersebut bisa mendeteksi senyawa yang menjadi pencemar air laut. Tentu saja, lika liku rintangan dan kendala Emil hadapi saat melakukan penelitian.

Sebelum berhasil, penelitian ini menyita banyak waktu Emil. Jika, anak lainnya pulang sekolah tepat waktu jam pelajaran selesai, maka berbeda dengan Emil. Ia harus pergi ke laboratorium yang ada di sekolahnya. Terkadang ia berada di laboratorium, sampai menjelang pukul delapan atau sembilan malam.

Meski begitu, Emil tak menghiraukannya. Baginya, melakukan penelitian sudah menjadi kesukaannya. “Kalau yang lain pulang ke rumah, saya juga pulang ke rumah. Tapi rumah saya laboratorium sekolah,” katanya diiringi senyum kecil mengukir raut wajahnya.

Setelah melakukan penelitian, Emil membuat proposal untuk diajukan di babak penjurian proposal. Ia optimis, jerih payahnya bisa meraih juara di lomba Glocolis ini. Pikirnya waktu itu, menduduki runner up sudah cukup baginya. Namun, ternyata pada tanggal 10 April 2022 di Surabaya, ia dinobatkan sebagai pemenang dan mendapat juara satu yang tak pernah disangkanya.

Emil seakan tak pernah mengenal lelah. Ia bercerita, saat gencar-gencarnya pandemi di tahun 2020, kebingungan menyelimuti benaknya. Sebab, ia tak dapat pergi ke sekolah yang saat itu ia masih kelas sembilan SMP. Namun, ia memanfaatkan itu untuk belajar dari rumah dan mendalami ilmu fisika.

Baru, setelah masuk di Smada, ia tekun mempejari ilmu fisika dengan ikut Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). “Pas pandemi saya bingung mau ngapain. Akhirnya saya tetap belajar (ilmu fisika, red) walau dari rumah, dan di Smada ini saya ikut KIR,” tuturnya sembari mengenang aktivitasnya kala pandemi.

Di samping mengikuti ajang penelitian fisika yang diadakan oleh Glocolis, ia juga mengikuti lomba olimpiade fisika IAPhO. Tentu saja, ia meraih juara satu. Dalam perlombaan ini ia juga menyisihkan 100 peserta lebih dengan membawa medali emas untuk sekolahnya.

Meraih prestasi membanggakan, tak membuat Emil besar kepala dan cepat puas diri. Baginya, pencapaiannya ini atas dukungan dari semua pihak terdekat dan sekolahnya. Ia terus mengingat apa yang dikatakan oleh pembimbingnya dan menjadi motivasi bagi Emil. Bahwa ia harus memulihkan negeri dengan prestasi. Itu juga menjadi pesan dari Emil untuk teman-temanya, agar bisa meraih cita-cita.

“Saya selalu ingat apa yang pembimbing saya katakan, pulihkan negeri ini dengan prestasi. Jadikan itu sebagai penyemangat diri,” ujar Emil di akhir wawancara. (alv/why)