Hilal Lahan Amrullah


Wartawan Tadatodays.com | 2021-09-30 09:57:02

Fasilitasi Talkshow dari Anggaran DBHCT, Dinkes Paparkan Kesuksesan Tekan Penyebaran Covid-19

TALKSHOW: Sekretaris Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Dyah Kuncarawati saat memberikan penjelasan mengenai program isoter yang digagas Pemkab Probolinggo.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Program isolasi terpusat (isoter) bagi yang dicanangkan Pemkab Probolinggo diklaim berhasil menekan penyebaran covid-19. Total ada 9 titik lokasi isoter yang disediakan pemkab setempat. Yakni, 2 puskesmas, 3 hotel, dan 4 fasilitas pendidikan.

Hal itu disampaikan Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo dr. Dyah Kuncarawati, M.Mkes, saat menjadi narasumber dalam talkshow di studio 1 Radio PROSA FM, Kamis (24/9/2021). Dalam talkshow tersebut, tema yang dibahas yakni program isoter covid-19.

Baca Juga : Selain Petahana, Muncul Nama Lain dalam Pencalonan Konkab PGRI Kabupaten Probolinggo

Dyah -sapaan akrabnya- menyampaikan, isoter itu merupakan program yang diinisiasi Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari. Kebijakan itu diberlakukan mulai awal Juli 2021. “Sejak saat itu, pasien covid-19 diisolasi di tempat-tempat yang sudah disediakan pemkab,” terangnya. Fasilitasi isoter ini hanya untuk pasien Orang Tanpa Gejala (OTG).

Baca Juga : Masyarakat Masih Percaya pada Hoax, Dinkes Kabupaten Probolinggo Door to Door Kebut Vaksinasi

Perbedaan isoter dibandingakan isolasi mandiri (isoman), lokasinya lebih steril dan sehat. Pasiennya pun dijamin tidak menularkan virusnya kemana-mana. Pemkab memutuskan melakukan kebijakan itu, karena tidak semua OTG patuh. Terbukti, dalam kurun waktu tersebut terjadi ledakan jumlah penderita.

“Ada warga yang seharisnya isoman, malah keluar rumah dan beraktivitas seperti biasa. Tentu, hal itu yang menyebabkan penularan virus semakin tidak terkendali,” katanya. Diketahui, seluruh fasilitas isoter sejak awal Juli hingga Agustus, terisi di atas 80 persen. Baru Ketika situasi melandai, fasilitas ioster tersebut ditutup.

Isoter yang telah disediakan , itu khusus bagi orang tanpa gejala (OTG), dan orang yang bergejala ringan. Kalau orang yang bergejala sedang, itu dirujuk ke rumah sakit. Hingga Kamis (24/9/2021) terdapat 12 pasien yang diisolasi terpadu di Puskesmas Maron.

Menurut perempuan berkacamata ini, isoter di Kabupaten Probolinggo memiliki sejumlah keistimeawaan. Di antaranya, dipantau oleh tenaga kesehatan, dokter kunjungan setiap pagi, perawat rutin melakukan observasi, bahkan terdapat Unit Gawat Darurat (UGD) mini. Fasilitas itu difungsikan jika ada OTG drop.

“Tatkala OTG drop sewaktu-waktu, kita rujuk ke RSUD Waluyo Jati Kraksaan atau RSUD Tongas. Itu semuanya tidak dimiliki isolasi mandiri. Bahkan ada alumni isoter yang bertanya kapan akan diisolasi lagi,” katanya sembari tersenyum. Ambulans menurut Dyah juga siaga 24 jam jika ada OTG yang kondisinya memburuk.

Selain itu, pasien OTG juga dijamin asupan gizi dan protein tinggi. Konsumsi telur, ayam, susu, snack, buah, dan sebagainya menjadi menu wajib. Tak hanya fasilitas Kesehatan dan gizi, pasien OTG juga dijamin kebutuhan pribadinya. Seperti handuk, sikat dan pasta gigi, lotion anti nyamuk, hingga ember.

Pemkab juga memfasilitasi pasien OTG dengan jasa instruktur senam untuk kesehatan raga dan pengajian untuk kesehatan jiwa.  “Kami juga sediakan obat anti virus, vitamin dengan efektivitas tinggi, serta kunjungan ke poli covid-19 yang dilayani ahli penyakit dalam dan paru-paru. Tentu, fasilitas seperti ini tidak didapat pada mereka yang isoman,” katanya.

Lantas, bagaimana dengan OTG yang tidak mau dibawa ke isoter? Pemkab akan melakukan langkah persuasive. Namun jika tetap tidak mau, maka satgas akan bergerak memaksa OTG untuk dibawa ke isoter. Dyah mengungkapkan, keputusan untuk membawa paksa OTG ke isoter sebagai upaya menekan penyebaran virus.

“Terbukti penyebarannya berhasil ditekan. Tapi yang tidak mau isoter itu hanya satu dua orang saja. Karena di tingkat kecamatan kami dibantu polisi, satpol PP, tentara, dan hansip di tingkat desa. Instruksi Ibu Bupati, Bapak Kapolres, dan Bapak Dandim harus isolasi terpusat,” ujarnya.

Sejauh ini, 93 persen pasien covid-19 yang diisoter sembuh. Namun, ada juga yang meninggal dunia dengan persentase 6,8 persen. Pasien meninggal dunia itu menurut Dyah, kondisinya sudah kritis atau parah. “Sisanya 25 orang atau 0,2 persen masih dirawat di rumah sakit,” tuturnya.

Wanita berjilbab itu menambahkan, isoman tetap diperbolehkan dengan catatan. Yakni, ketika pasiennya memiliki komorbid kambuhan. Seperti penderita stroke dan lain sebagainya. Namun, petugas akan memastikan lokasi isoman apakah aman dari jangkauan orang lain.

“Dilihat dulu rumahnya. Pasien harus tinggal sendiri, toilet sendiri, rumahnya memadai, rumah keluarga pasien ada di sebelahnya. Untuk makanan kami suplai dari kecamatan. Tiap hari dicek dua kali oleh dokter, bidan desa, dan pihak keamanan. Ada tentara, polisi, hansip, yang jaga setiap pagi dan sore. Di rumahnya ditulis penanda, bahwa pemilik rumah sedang isoman dan tidak menerima tamu,” jelasnya.

Diketahui, talkshow tersebut merupakan agenda Dinkes yang anggarannya bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Tahun ini, Pemkab Probolinggo mendapat suntikan DBHCT total Rp 57 miliar. Anggaran tersebut salah satunya untuk program Kesehatan.

Talkshow tersebut merupakan gelaran kedua. Sebelumnya, talkshow dengan PROSA FM dilaksanakan, Kamis (9/9/2021) dengan tema “Empat Mata Tombak Melawan Covid-19”. Saat itu, yang menjadi narasumber Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo sekaligus Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo, dr. Shodiq Tjahjono, M.Mkes. (*/hla/sp)