Fatmawati: Jalankan Pesan Ustadzah di Pesantren, Buat Sekolah Gratis untuk Difabel

Dian Cahyani
Dian Cahyani

Sabtu, 23 May 2020 22:38 WIB

Fatmawati: Jalankan Pesan Ustadzah di Pesantren, Buat Sekolah Gratis untuk Difabel

DIAPRESIASI: Fatmawati, Pendiri PAUD Cerdas Banyuwangi yang menerima banyak penghargaan atas jasanya mendirikan PAUD inklusif yang menerima anak-anak berkebutuhan khusus.

Fatmawati, perempuan kelahiran Banyuwangi 5 September 1971 ini merupakan pendiri PAUD Cerdas. Paud ini bukan paud biasa, sebab, di Paud ini Fatmawati memberikan pendidikan gratis kepada siswanya. Bagaimana kisahnya?

 

FATMAWATI besar dilingkungan pesantren. Bapaknya, Abu Hamin, adalah seorang pendidik. Sejak kecil, Fatmawati disekolahkan di Pondok Pesantren Kertosari Banyuwangi. Semasa ngaji di pesantren ini, Fatmawati punya pengalaman yang tidak bisa dilupakan. Saban hari ia dan kakaknya mengantar jemput tetangganya yang tuna netra untuk berangkat dan pulang ngaji di pondoknya. “ Saya dan kakak saya setiap hari mengantar- jemput teman saya ini, yang tuna netra. Kami arahkan ke tempat wudlu, sampai juga melakukan sema’an hafalannya,” tuturnya.

Pengalaman inilah yang membuat perempuan 45 tahun ini bertekad untuk menerima siswa difabel di lembaga PAUD cerdas miliknya. Ditambah, pesan bu nyai kala ia mondok semasa kuliah di Universitas Jember (Unej). Semasa kuliah itu, ia mondok di Pesantren Putri Nyai Zainab Shiddiq. Kisah hidup yang dihadapinya, seolah mengarahkan Fatmawati untuk menjadi pengajar. “Santri- santrinya itu didik untuk menjadi pendidik memang. Setiap santri harus menjadi seorang guru dari siapapun. Kebetulan pondoknya, khusus putri jadi yang mengurus putri semua. Memang beliau memiliki misi seperti itu,” kenang perempuan yang pernah menjadi aktivis HMI Jember kala itu.

Fatmawati memutuskan untuk membuka PAUD pada tahun 2008. Lingkungannya, yang tidak inklusif pada pendidikan anak, khususnya usia dini memacu semangatnya untuk berkontribusi lebih pada pendidikan. “Saya mendapati banyak anak usia dini yang tidak sekolah. Mereka menyanyikan lagu- lagu orang dewasa. Miris,” ungkap ibu dua anak ini.

LEPAS RINDU: Fatmawati (kanan paling atas) melepas rindu bersama pengasuh Pesantren Putri Nyai Zainab Shiddiq, Jember.

Ia pun tergerak mendirikan PAUD gratis yang ia namai PAUD Cerdas. Melakukan program filantropi tidaklah semudah yang dibayangkan. Fatmawati menjadi contoh nyata. Di tengah ikhtiarnya membuka corong pendidikan yang lebih maju di lingkungannya, ia justru mendapat pertentangan. Beberapa orang menganggap program yang Fatmawati lakukan adalah bentuk pemanjaan kepada masyarakat. “Di awal, pertentangan itu pasti ada. Banyak yang menganggap sedang memanjakan masyarakat,” kisah perempuan yang aktif dalam Muslimat NU ini. 

Beruntung, semua keluarga Fatmawati mendukung misinya. Tepatnya pada 9 April 2008, ia membuka PAUD Cerdas di rumahnya. Ia memanfaatkan sebagian kecil kontrakannya untuk dijadikan tempat sekolah. Pembukaan program pertamanya, menerima 9 murid. Lalu, bulan berikutnya, 3 anak difabel mendaftar di lembaganya. Dengan senang hati, Fatmawati menerima. Walaupun, wali murid siswa tersebut sempat minder. Jumlah siswa berkebutuhan khusus pun bertambah dan terus mengalami perkembangan hingga saat ini. “Pertama hanya tiga anak difabel. Pernah sampai 40 anak. Dan terus mengalami kenaikan. Untuk saat ini, ada 27 difabel dari 133 siswa,” tuturnya di tengah suasana sore hari dengan angin sepoi- sepoi.

ALUMNI: Fatmawati (kerudung hijau) bersama teman satu pesantrennya semasa menempuh pendidikan di Pesantren Putri Nyai Zainab Shiddiq datang kembali ke pesantren sebagai alumni.

Dalam perkembanganya, tak semua wali murid mampu menerima murid lain yang berkebutuhan khusus. Sebab, beberapa murid yang berkebutuhan khusus lebih agresif kepada murid lainnya. Beberapa wali murid pun pernah komplain secara langsung kepada Fatmwati. Pernah suatu ketika, ia mendapati wali murid yang komplain secara langsung kepada wali murid siswa berkebutuhan khusus lantaran merasa teganggu dengan siswa berkebutuhan tersebut. Di sinilah Fatmawati berkewajiban mengedukasi wali murid, menyadarkan agar satu visi dengan lembaga. “Tantangan terbesar kami tidak hanya mengedukasi murid. Tapi juga mengedukasi wali murid agar satu visi,” tuturnya landai.

Fatmawati pun kerap melakukan beberapa kegiataan yang melibatkan wali murid agar saling mendukung antar wali murid. Beberapa program tersebut diantaranya adalah, parenting, layanan psikolog bagi wali murid berkebutuhan khusus yang masih rentan dengan rasa minder. “Kami datangkan program- program parenting yang melibatkan wali murid. Jadi, wali murid diberi pemahaman untuk memberikan edukasi dan menciptakan lingkungan yang baik bagi anak- anaknya,” imbunya.

Hingga saat ini, Paud cerdas mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bukannya dari jumlah muridnya yang terus bertambah. Namun juga, output murid lulusannya. “Alhamdulillah, perkembangannya luar biasa jika dibandingkan dengan yang lain. Mereka sudah sangat siap menerima materi yang lebih dalam. Karena memang kita menangani dari golden age,” pungkas ibunda Alfina Adila Madania yang tengah menempuh pendidikan di Saint Petersburg of Culture di Rusia. (dee/hvn)


Share to