Hanya Gegara Update Status WA, Warga Tutup Jalan dengan Tembok

Mochammad Angga
Mochammad Angga

Sunday, 30 Jan 2022 20:27 WIB

Hanya Gegara Update Status WA, Warga Tutup Jalan dengan Tembok

LAGI: Tembok setinggi dua meter itu berada di depan rumah Sundarti, yang merupakan akses jalan menuju Jl KH Ilyas, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. Tembok itu dibangun agar banyaknya warga di rumah Sundarti tidak menganggu tetangga sekitar.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Pembangunan tembok pembatas sebagai solusi menyelesaikan permasalahan, kembali terjadi di Kota Probolinggo. Setelah sebelumnya di Kelurahan Mangunharjo, kali ini terjadi Lingkungan Esan RT 3 RW 1 Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih. Persoalannya, karena update status WhatsApp salah satu warga setempat.

Tembok setinggi 2 meter itu berada di lahan pribadi milik Sundarti, tepat di jarak sekitar 3 meter depan rumah Sundarti yang menghadap ke barat. Depan rumah Sundarti itu merupakan akses menuju Jalan KH. Ilyas, yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah Sundarti.

Sementara, sisi kiri tembok itu menempel di pojok kanan teras depan rumah pasutri Iwan Yudi Harianto dan Dewi Lestari, yang menghadap ke utara atau ke akses jalan umum. Sementara sisi kanan tembok itu menempel di tembok belakang rumah milik keluarga Nining Suciati.

Nining saat ini berstatus janda, setelah suaminya, Saman, meninggal pada 2018. Karena itu, Nining mengajak beberapa keluarganya untuk tinggal di rumahnya. Salah satunya ialah Fitriya, 29.

Nah, Sundarti membangun tembok tersebut lantaran Fitriya memposting status di akun WhatsApp pribadinya yang berisi keluhannya karena di rumah Sundari kerap ramai dengan warga. Bahkan, warga yang berkunjung ke rumah Sundari juga memarkir motornya di dekat rumah Nining.

Diketahui, rumah Sundarti dijadikan Rumah Pangan Kita (RPK), sehingga banyak warga yang datang ke rumahnya. Bahkan, motor warga yang datang ke rumah Sundarti diparkir di lahan milik Fitriya.

Saat ditemui tadatodays.com, Minggu (30/1/2022), sekira pukul 10.00 WIB, Sundarti mengatakan bahwa dirinya membangun tembok itu agar Fitriya tidak terganggu dengan banyaknya warga di rumahnya. "Memang di rumah sering ramai warga," ucapnya, saat ditemui di rumahnya.

Pasca dibangunnya tembok itu, tidak hanya tetangga sekitar yang kesulitan akses. Sundarti pun juga harus melewati lahan tetangga lainnya di utara rumahnya, sebagai akses jalan. Rencananya, Sundarti hendak membeli tanah sekitar 1 meter milik tetangganya itu, namun sang pemilik tak menjualnya.

Ditanyakan, apakah tidak ingin menyelesaikan permasalahan itu secara damai. Sundarti mengaku ingin menyelesaikan masalah tersebut. Bahkan, jika tembok itu dibongkar ia tidak mempermasalahkannya. "Toh, dibangun di tanah saya sendiri," katanya.

Sementara, Fitriya saat berada di rumah Dewi Lestari, membenarkan bahwa ia membuat status WhatsApp dengan maksud agar banyaknya warga di rumah Sundarti tidak mengganggu tetangga dekat. "Kalau ramai, ya setidaknya bilang ke tetangga. Karena ada orang sakit. Ya, meskipun orang sakit tidak setiap hari," ujarnya.

Sedangkan, Dewi Lestari mengaku tak masalah jika Sundarti membangun tembok tersebut. Pasalnya, tembok itu berdiri di lahan milik Sundarti.

Akan tetapi, ia mengeluhkan keberadaan tembok itu jika turun hujan. “ Tapi depan rumah saya kalau hujan tergenangi air,” kata Dewi.

Dikonfirmasi terpisah, Camat Wonoasih DeuS Nawandi, mengatakan bahwa tembok tersebut dibangun di lahan pribadi. Tapi menurutnya, keberadaan tembok itu berdampak pada kehidupan sosial.

Karena itu, pihaknya melalui Kelurahan Jrebeng Kidul meminta agar warga Wonoasih tetap rukun. "Sampai saat ini, kelurahan masih mengupayakan kerukunan antar tetangga," katanya melalui pesan singkat.

Ditanyakan apakah pihak kelurahan atau kecamatan akan bermusyawarah dengan Sundarti agar membongkar tembok tersebut. Deus memastikan bahwa pihaknya tetap mengutamakan musyawarah. "Terus berupaya ada hal terbaik, agar tidak ada permasalahan sosial," tuturnya. (ang/don)


Share to