Harga Bahan Baku Mebel di Kota Pasuruan Naik hingga 75 Persen, Terdampak Konflik Global

Amal Taufik
Thursday, 09 Apr 2026 19:09 WIB

SURVEI: Petugas Disperindag saat survei ke toko bahan baku mebel.
PASURUAN, TADATODAYS.COM - Kenaikan harga bahan baku kimia kian menekan pelaku usaha mebel di Kota Pasuruan. Dalam beberapa hari terakhir, lonjakan harga terjadi pada berbagai komponen penting produksi, mulai dari plitur, tiner, hingga bahan pelarut lainnya.
Pengrajin mebel asal Pasuruan, Lukman, mengaku kenaikan harga berlangsung cepat dan cukup tajam. Ia mencontohkan, harga plitur semprot yang sebelumnya sekitar Rp 100 ribu per galon kini naik menjadi Rp 150 ribu. Sementara tiner kualitas A yang semula Rp 10 ribu per liter kini menyentuh Rp 14 ribu.
“Kalau dihitung, kenaikannya bisa sampai sekitar 40 persen. Sementara kami paling berani menaikkan harga jual ke konsumen sekitar 10 persen saja,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Kondisi tersebut membuat margin keuntungan tergerus cukup dalam. Lukman mengaku harus mengambil langkah hati-hati, termasuk menunda produksi atau menahan pesanan jika harga tidak disepakati dengan konsumen.
“Kalau dipaksakan, bisa rugi. Jadi kadang lebih baik ditunda daripada tetap produksi tapi tidak balik modal,” imbuhnya.
Sementara itu, hasil pemantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pasuruan menunjukkan kenaikan harga juga terjadi di tingkat distributor dan toko bahan baku.

Kabid Perdagangan Disperindag Kota Pasuruan, Mulyono, menyebut lonjakan harga bervariasi, mulai dari 20 persen hingga bahkan mencapai 80 persen untuk beberapa jenis bahan.
Di sejumlah toko, harga tiner dalam kemasan drum dilaporkan naik dari sekitar Rp 1,5 juta menjadi Rp 2,45 juta. Sementara spirtus mengalami kenaikan lebih tinggi, dari Rp 2 juta menjadi Rp 3,5 juta per drum atau naik sekitar 75 persen. “Kenaikan ini mulai terjadi sejak awal April, dan sebagian bahan lain naik bertahap setelah Lebaran,” jelasnya.
Selain tiner dan spirtus, bahan lain seperti cat, lem, dan bahan finishing juga mengalami kenaikan di kisaran 20 hingga 80 persen. Namun, untuk beberapa komponen seperti busa dan kain, harga relatif masih stabil, meski produk baru seperti spon dilaporkan naik sekitar 20 persen.
Menurut Mulyono, kenaikan ini dipicu oleh faktor pasokan dari luar daerah serta dinamika global. Ketergantungan bahan baku impor membuat harga mudah terdampak fluktuasi, termasuk harga minyak dunia dan kondisi geopolitik.
“Sebagian bahan berasal dari luar kota, bahkan luar negeri. Jadi ketika supplier menaikkan harga atau pasokan terbatas, langsung berpengaruh ke pasar lokal,” katanya.
Di tengah kondisi ini, pelaku usaha mebel hanya bisa berharap ada stabilisasi harga dalam waktu dekat. Namun, banyak yang mulai bersiap menghadapi kemungkinan harga bahan baku tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama. (pik/why)
.jpg)


Share to
 (lp).jpg)