Harga Produk Plastik di Kota Pasuruan Melonjak 70 Persen, Pelaku UMKM Tertekan

Amal Taufik
Friday, 10 Apr 2026 17:03 WIB

Disperindag saat monitoring ke salah satu toko penjual produk plastik.
PASURUAN, TADATODAYS.COM - Lonjakan harga plastik di Kota Pasuruan makin terasa di tingkat pelaku usaha. Tidak hanya produk jadi, harga bahan baku bahkan dilaporkan melonjak hingga dua kali lipat, membuat biaya produksi membengkak dalam waktu singkat.
Dari hasil pemantauan lapangan, kenaikan harga terjadi hampir di seluruh jenis plastik yang beredar di pasaran. Mulai dari kantong plastik untuk kebutuhan toko dan pasar, plastik kemasan makanan-minuman, hingga plastik wrapping untuk pengemasan barang, semuanya mengalami penyesuaian harga yang cukup signifikan.
Tim gabungan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), DPMPTSP, serta Satpol PP Kota Pasuruan turun langsung ke sejumlah pelaku usaha dan toko plastik untuk memastikan kondisi tersebut. Hasilnya, kenaikan harga di level produk jadi berkisar antara 30 hingga 70 persen.
Namun lonjakan paling tajam justru terjadi pada bahan baku. Harga biji plastik yang menjadi komponen utama industri dilaporkan naik hingga 100 persen. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp 20 ribu per kilogram, kini tembus Rp 40 ribu per kilogram.
Kondisi ini membuat pelaku usaha, khususnya UMKM, berada dalam posisi sulit. Kenaikan biaya produksi tidak sebanding dengan kemampuan pasar dalam menyerap kenaikan harga jual.
Kabid Perdagangan Disperindag Kota Pasuruan, Mulyono, menjelaskan bahwa fluktuasi harga tidak lepas dari faktor eksternal, terutama ketergantungan bahan baku impor dan kondisi pasar global yang belum stabil.

“Kita masih sangat bergantung pada bahan baku impor, sehingga ketika terjadi gejolak global, harga langsung terdampak. Selain itu, distribusi di tingkat supplier juga terbatas,” ujarnya.
Menurutnya, pelaku UMKM menjadi kelompok yang paling merasakan tekanan. Di satu sisi mereka harus menanggung lonjakan biaya produksi, namun di sisi lain tidak bisa leluasa menaikkan harga jual.
“Kalau harga dinaikkan terlalu tinggi, mereka khawatir kehilangan konsumen. Ini yang membuat margin keuntungan semakin tergerus,” imbuhnya.
Sebagian pelaku usaha kini mulai menyiasati kondisi tersebut dengan membatasi pembelian bahan baku, guna menekan risiko kerugian di tengah harga yang masih fluktuatif.
"Kami memastikan akan terus melakukan pengawasan terhadap peredaran barang di pasaran, sekaligus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menjaga stabilitas harga," kata Mulyono. (pik/why)
.jpg)


Share to
 (lp).jpg)