Imam Wahyudi


Wartawan Tadatodays.com | 2022-09-03 09:26:06

Hari Jadi Kota Probolinggo 663 (bagian 2) : Dari 1 Juli ke 4 September

Ilustrasi Raja Hayam Wuruk memerintahkan pembukaan alas Banger pada perjalanannya ke wilayah Banger (Probolinggo) pada 4 September 1359. (ilustrasi by misbach novianto/tadatodays.com)

 

Prabu Hayam Wuruk sajroning andong lelono anjajah praja ing tanggap warsa 1359, tahun candra nalungsure in jurang terpis, tumekeng perenging wuki Temenggungan tumuju ing argo Tengger ing Mada Karipura. Tumurun ing tepising wonodrikang banger ambeting warih, Sang Prabu manages ing ngarsanging Dewa, denyo nerusake lampah marang Sukodono ing wuwus nyuwun nuggroho supoyo tansah pinanjungan ing Hyang Widi bisa tansah kaleksanaan ing sediyo. Kang dadi ubayane ing wuri utusan pawongan ing Wono Banger babat Wono Gung mrih saranan ing rejaning projo ing wuri.

Baca Juga : Hari Jadi Kota Probolinggo 663 : Menjadi Kota Probolinggo (Klasik-Kolonial-Pasca Kolonial)

--------------------

Baca Juga : Hari Jadi Kota Probolinggo 663 (bagian 9) : Mereka Membincang Kota Probolingo

Demikian tulisan R. Ng Yosodipura, pujangga Surakarta Hadiningrat tentang perjalanan Raja Majapahit Prabu Hayam Wuruk, sebagaimana diuraikan Mpu Prapanca dalam Kakawin Nagarakertagama (nama asli: Desawarnama).

Apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berisi: Prabu Hayam Wuruk selama berkelana keliling negara pada tahun 1359, candra tahun: nalungsure ing jurang terpis (1359), tiba di lereng gunung Tumenggungan dan menuju ke gunung Tengger di Madakaripura. Pada saat turun dan sampai di tepi sungai yang airnya berbau banger (anyir), Sang prabu memohon anugerah kepada Dewa agar dalam kelanjutan perjalanannya ke Sukodono selalu dipayungi atau dilindungi Sang Hyang Widi dan bisa terlaksana sesuai rencana. Yang menjadi upayanya kemudian, sang prabu menyuruh orang-orang yang tinggal di (sekitar) Hutan Banger untuk membuka hutan agar menjadi sarana berkembangnya praja/ kota/ daerah (Banger) di kemudian hari.

Perjalanan Prabu Hayam Wuruk bersama rombongannya saat itu dilakukan pada rentang Agustus – September 1359. Perjalanan ini melintasi wilayah Probolinggo saat masih bernama Banger. Ini ditandai dengan penyebutan singgahnya Hayam Wuruk di Baremi (sekarang Bremi, Kelurahan Sukabumi, Kota Probolinggo), Borang (sekarang Wiroborang, juga wilayah Kota Probolinggo).

Lalu yang paling penting adalah momen saat Prabu Hayam Wuruk berada di tepi Kali Banger, kemudian mengeluarkan titah membuka atau babat wono (alas/hutan) Banger. Peristiwa ini terjadi pada 4 September 1359, yang kemudian dijadikan dasar penetapan Hari Jadi Kota Probolinggo. 

Nama Banger merujuk pada sungai yang mengalir di tengah daerah Banger. Nama daerah Banger baru diganti menjadi Probolinggo oleh Bupati Probolinggo yang kedua, yaitu Raden Tumenggung Joyonagoro atau berjuluk Kanjeng Jimat.

Mula-mula daerah Banger memang menjadi wilayah Kabupaten Probolinggo. Lalu setelah melintasi perjalanan sejarah masa pra kemerdekaan sampai pasca kemerdekaan, daerah Banger menjadi wilayah Kota Probolinggo. Maka tiada salah bila momen jatuhnya titah pembukaan alas Banger sebagai cikal bakal daerah Kota Probolinggo, ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Probolinggo. 

Namun, sebenarnya sudah pernah terjadi, Hari Jadi Kota Probolinggo diperingati setiap 1 Juli. Versi ini didasarkan pada pembentukan Gemeente (Kotamadya) Probolinggo oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada 1 Juli 1918. Peringatan Hari Jadi Kota Probolinggo setiap 1 Juli diperkirakan terjadi sampai sekitar tahun 1978.

Pada 1 Juli 1968 misalnya, Pemerintah Kota Probolinggo memperingati Hari Jadi Kota Probolinggo ke-50 tahun. Momentum setengah abad Kota Probolinggo itu diabadikan dalam sebuah buku berjudul ”Kenang – kenangan Setengah Abad Usia Kotamadya Probolinggo”.  

Dalam perjalanannya, Pemerintah Kota Probolinggo mengubah momen Hari Jadi Kota Probolinggo dari 1 Juli 1918 menjadi 4 September 1359 dengan pertimbangan rasa kebangsaan. Bahwa 1 Juli 1918 merupakan hari lahirnya Gemeente Probolinggo. Maka, memperingati 1 Juli 1918 sebagai Hari Jadi Kota Probolinggo berarti memperingati pemerintah gemeente ciptaan kolonial Belanda.

Oleh karena itu, dalam sambutannya pada sidang pleno DPRD Kotamadya Probolinggo pada 3 Maret 1978, Walikota Probolinggo Harto Harjono minta agar ditetapkan Hari Jadi Kota Probolinggo yang lebih sesuai dengan nilai kebangsaan dan cita-cita Bangsa Indonesia. Atas dasar itu, dibentuklah tim yang kemudian melacak jejak sejarah hingga mendapatkan momentum jatuhnya titah Raja Hayam Wuruk untuk membuka alas Banger.

Selanjutnya, 4 September 1359, yaitu hari di mana Raja Hayam Wuruk memerintahkan pembukaan alas Banger, ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Probolinggo. Alasannya, daerah Banger merupakan cikal bakal wilayah Kota Probolinggo. Momen tersebut memiliki nilai lebih kuat pada aspek historis-nasionalisme, sosial-budaya, dan kepribadian bangsa. Alasan mendasar berikutnya ialah bahwa yang diperingati adalah daerahnya, bukan pemerintahannya. (why)

Literatur:

* Buku “Sejarah Singkat Kabupaten Probolinggo” 

* Buku Kenang – kenangan Setengah Abad Usia Kotamadya Probolinggo”

* Buku ”Sejarah Kota Probolinggo dari Waktu ke Waktu”

* Wikipedia