Hujan Deras Usir "Sapon" di Ranu Grati Pasuruan, Budidaya Ikan Keramba Pulih

Amal Taufik
Sabtu, 24 Jan 2026 16:01 WIB

KERAMBA: Deretan keramba di Ranu Grati.
PASURUAN, TADATODAYS.COM - Hujan deras yang mengguyur wilayah Pasuruan dalam beberapa hari terakhir membawa kabar baik bagi petambak keramba di Ranu Grati. Setelah sempat dihantui kematian massal ikan akibat fenomena sapon, kondisi perairan danau perlahan membaik dan aktivitas budidaya mulai kembali berjalan.
Bau bangkai ikan yang sebelumnya tercium di sejumlah titik danau kini nyaris tak terdeteksi. Air hujan yang terus turun dinilai membantu menstabilkan kualitas air, sekaligus menekan dampak racun alami yang sempat naik ke permukaan danau.
Dalam pantauan tadatodays.com di kawasan Desa Ranuklindungan, Grati, pada Sabtu (24/01/2026) pagi, dermaga dan petak-petak keramba kembali ramai. Para petambak terlihat menebar pakan, memeriksa kondisi ikan, hingga melakukan penyortiran ukuran. Pemandangan ikan mati mengambang yang sebelumnya mendominasi kini tak lagi terlihat.
Ketua Kelompok Tani Desa Ranuklindungan, Nur Khasbulloh, mengatakan fase terparah fenomena sapon terjadi pada pertengahan Januari lalu. Dalam rentang 13 hingga 15 Januari 2026, angin kencang membuat ikan-ikan di keramba mengalami stres hingga mati mendadak. “Waktu itu kondisinya parah. Ikan seperti mabuk, oksigen turun, banyak yang tidak tertolong,” ujar Nur.
Dampaknya cukup signifikan. Di Desa Ranuklindungan saja, terdapat 47 petambak dengan total 188 petak keramba. Setiap petak mengalami kehilangan ikan antara 150 hingga 300 kilogram. Kerugian pun tak terhindarkan, bahkan ada petambak yang kehilangan stok hingga hitungan ton dalam waktu singkat.

“Sekarang kondisinya jauh lebih baik. Air hujan bikin oksigen naik, ikan kelihatan lebih segar dibanding saat sapon kemarin,” tambah Nur.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Pasuruan Ainur Alfiyah menjelaskan sapon merupakan dampak dari fenomena upwelling. Zat berbahaya seperti belerang dan amonia yang mengendap di dasar danau bisa naik ke permukaan akibat perubahan cuaca ekstrem.
“Ketika angin kencang dan suhu air turun, racun alami itu naik, sementara oksigen menurun. Itu yang memicu kematian ikan secara massal,” jelas Ainur.
Menurutnya, hujan deras justru berperan penting dalam memulihkan kondisi perairan. Air hujan membantu mengencerkan zat berbahaya dan mendorongnya kembali ke dasar danau, sehingga lingkungan menjadi lebih aman bagi ikan.
Meski kondisi mulai membaik, para petambak tetap diminta waspada terhadap anomali cuaca. Fenomena yang biasanya muncul menjelang Imlek itu tahun ini datang lebih awal, menandakan perubahan pola alam yang perlu diantisipasi. (pik/why)


Share to
 (lp).jpg)