Muhammad Musleh


Wartawan Tadatodays.com | 2020-08-26 20:46:01

Inovatif, Dispendik Gunakan Pembelajaran Komunitas Berbasis Tempat Tinggal Terbatas

PELATIHAN: Tenaga pendidik Sub Rayon Kraksaan saat dilatih tentang akselerasi pembelajaran digital di tengah pandemi Covid-19. Insert: Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo, Fathur Rozi.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Mengatasi kejenuhan pendidikan daring, Dispendik Kabupaten Probolinggo membuat sejumlah inovasi. Salah satunya sistem pendidikan komunitas berbasis tempat tinggal terbatas.

Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo, Fathur Rozi mengatakan, konsep ini menjadi salah satu upaya untuk mengatasi kejenuhan siswa selama mengikuti pembelajaran online atau daring (dalam jaringan). “Pembelajaran sistem tersebut menjawab kejenuhan belajar online. Sehingga siswa tetap bisa belajar tatap muka atau luring meski dengan terbatas,” ujar pria yang juga kepala SMP Hati Kraksaan tersebut.

Baca Juga : 6 SD dan 6 SMP di Kabupaten Probolinggo Lakukan Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka

Rozi-begitu, pria ini akrab disapa- menjelaskan bahwa pendidikan komunitas berbasis tempat tinggal disesuaikan dengan tempat tinggal masing-masing. “Walaupun agak susah, karena tidak semua siswa bisa bertemu. Dengan sistem pendidikan tersebut, siswa tetap bisa belajar dengan gurunya secara langsung,” tegasnya.

Baca Juga : Pemkab Probolinggo Bakal Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka

Dalam sistem ini guru memang dituntut untuk berinovasi dan bekerja keras dalam mengajar siswa. Mereka bisa menganalisis dengan memakai metode kurikulum 2013. Namun dengan menyederhanakannya sesuai kompetisi dasar yang ada di kurikulum tersebut. “Prinsipnya siswa bisa terlayani dengan baik,” ujarnya.

Terkait kapan pelaksanaan pembelajaran tatap muka, Rozi menyebut Kabupaten Probolinggo masih berada di zona oranye. “Menurut hasil rapat bapak menteri, yakni Menteri Kebudayaan dan Pendidikan, Menteri Kesehatan, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri yang terpenting pertama tetap memprioritaskan kesehatan peserta didik.  Harus dijaga dan nomer duanya tumbuh kembang anak,” terangnya.

Meski belum memastikan kapan akan memulai pembelajaran luring atau tatap muka, Rozi mengaku tetap melakukan inovasi. Tujuannya agar siswa tetap mendapatkan pendidikan yang menyenangkan. “Salah satu caranya ya pendidikan berbabasis komunitas ini,” urainya.

Sementara itu, Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari  membatalkan rencana uji coba pembelajaran tatap muka terbatas di Kabupaten Probolinggo. Rencana uji coba yang dilakukan di SMKN 2 Kraksaan dan SMAN 1 Leces urung dilakukan karena masalah keamanan dan kesehatan siswa.

Bupati pun mengaku akan mengevaluasi apakah pembelajaran tatap muka bisa dilakukan mengingat pasien Covid-19 di Kabupaten Probolinggo terus meninggkat. “Kami pemerintah daerah sudah meminta izin pada Bu Gubernur untuk melakukan penundaan uji coba pembelajaran tatap muka di Kabupaten Probolinggo. Alhamdulillah beliau memahami kondisinya,“ tegasnya. (*/mm/hvn)