Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2021-10-22 00:13:40

Junaidi, Santri Ponpes Nurul Jadid dengan Seabrek Prestasi

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Santri Siaga Jiwa Raga. Ya, itulah tema Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2021. Dengan tema tersebut, santri pondok pesantren diharapkan tidak hanya mengembangkan ilmu keagamaan yang mampu menenangkan jiwanya. Santri, juga harus mengembangkan raganya. Baik untuk pribadi, keluarga, dan lingkungannya. Lebih-lebih untuk bangsa dan negara.

Karena itu, santri di era saat ini tidak hanya menekuni ilmu keagamaan, tapi juga bidang lain. Olahraga, misalnya.

Baca Juga : Santriwati Ponpes Nurul Jadid Paiton Juara Satu Lomba Bahasa Jepang

Seperti yang ditekuni oleh Junaidi, pemuda asal Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ), Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo ini aktif mengikuti seni bela diri di ponpesnya.

Baca Juga : Momen Sudah Lewat, Banner Ucapan HSN Ditertibkan

Karena ketekunannya itu, ia mampu meraih banyak juara. Salah satunya juara pertama Kelas C Dewasa pada Kejuaraan Internasional Championship di Bali tahun 2019 lalu.

Pria kelahiran Probolinggo, 2 Agustus, 1997 ini bercerita, ia mulai mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Randutatah 02, dan lulus pada tahun 2008 silam. Kemudian ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Paiton, dan lulus pada tahun 2011. Keinginan untuk nyantri ia mulai di tahun itu.

JAWARA: Junaidi sukses menjadi juara 1 Kelas C Taruna Tingkat Internasional Pencak Silat Championship Bali 2019. Tak hanya namanya, raihan itu juga mengharumkan nama Ponpes Nurul Jadid Paiton, tempat ia mondok.

Sehingga usai lulus dari SMP ia langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk nyantri di Ponpes Nurul Jadid di gang Sunan Kalijogo (gang D). Alasan memilih pondok sebagai perjalanan pendidikannya, karena ia menilai ponpes merupakan tempat yang tepat untuk meminimalisir pergaulan bebas. "Saya tidak ingin terjerumus kepada hal negatif," ucap anak pertama dari pasangan Sunari dan Buasi ini.

Meski di ponpes, ia tetap menempuh pendidikan formalnya. Junaidi melanjutkannya di Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ). Di MANJ inilah, ia mulai mengikuti ekstra pencak silat yang ada di pesantren tersebut.

Pencak silat dipilihnya karena memang sejak SMP ia sudah menyukai silat untuk melindungi diri sendiri dari ancaman kejahatan. Hanya saja, pada saat SMP ia tidak bisa mengikuti pelatihan silat, karena di sekolah saat itu tidak memiliki ekstra kurikuler pencak silat.

SEPERGURUAN: Junaidi berpose bersama teman seperguruan pencak silat Nurul Jadid Paiton. Menurutnya, dukungan dari sesama pesilat menjadi salah satu kunci sukses dirinya di cabor bela diri itu.

Alhasil, saat di pesantren ia memanfaatkan pelatihan silat ini dengan sungguh-sungguh. Hingga akhirnya pada tahun 2012, setahun setelah nyantri, ia berhasil menjadi juara 1 kelas D Remaja pada Pekan Lomba Pencak Silat antar Santri Ponpes Nurul Jadid. "Ini kali pertama ikut lomba," kata pria berbadan tegap ini.

Di pertengahan tahun 2014, tepatnya saat mendekati kelulusan, ia kembali menyabet juara. Namun, levelnya lebih tinggi dari kejuaraan sebelumnya. Dimana, ia menjadi juara 3 kelas D Remaja pada Pagelaran Pencak Silat Pagar Nusa tingkat Kabupaten Probolinggo, yang digelar di Kota Kraksaan.

Setelah lulus dari MANJ, ia melanjutkan ke perguruan tinggi di Sekolah Tinggi Teknologi Nurul Jadid (STTNJ), yang sekarang sudah menjadi Universitas Nurul Jadid (Unuja). Junaidi mengambil jurusan Teknologi Informatika.

Ia memilih UNUJA karena ia berkeinginan untuk kuliah tanpa keluar dari ponpes yang ia tempati selama 3 tahun itu. Junaidi masih tetap berstatus sebagai aktif.

Kelanjutan pendidikan formalnya itu juga diikuti dengan prestasinya di pencak silat. Pada tahun 2015, ia kembali menyabet juara 3 Kelas C Taruna pada Lomba Pencak Silat Pagar Nusa se Jawa Timur, yang dilaksanakan di Universitas Islam Kadiri (Uniska). Di tahun dan kelas yang sama, ia menjadi juara 3 pada kejuaraan Pencak Silat antar Mahasiswa se Jawa Timur. Kejuaraan tersebut diselenggarakan oleh Kopertis Wilayah 7 Jawa Timur.

Tak berhenti disitu. pada Pada tahun 2017 ia berhasil menjadi juara 1 Kelas C Taruna pada kejuaraan Pencak Silat Pagar Nusa Rektor Cup se Jawa Timur di Situbondo. "Juga juara 1 Kelas C Dewasa kejuaraan Bupati Cup Probolinggo," katanya.

Dengan seabrek kejuaraan yang diikutinya itu, tidak membuat dirinya tertinggal di perkuliahannya. Ia tetap fokus menjadi seorang mahasiswa, hingga diwisuda pada tahun 2018. Bahkan setahun setelah menjadi sarjana teknik, ia masih mempersembahkan medali untuk PPNJ melalui kejuaraan Pencak Silat Internasional Championship yang diselenggarakan di Pulau Bali. Saat itu, Junaidi mampu menjadi jawara 1 Kelas C Taruna.

DISKUSI: Bersama santri lainnya, Junaidi kerap duduk melingkar untuk membahas apa saja yang menjadi topik menarik di tengah masyarakat. Baginya, santri juga harus mengikuti perkembangan informasi.

Karena itu, kecintaan Junaidi pada Ponpes Nurul Jadid sudah tidak diragukan lagi. Hal itu dibuktikan dengan seabrek medali yang diraihnya, dan mengharumkan nama PPNJ. Karenanya, setelah lulus dari Unuja, ia mengabdi dengan menjadi pengurus di pesantrennya itu hingga saat ini.

Junaidi mengaku, ada sosok panutan yang menyebabkan dirinya begitu mencintai Ponpes Nurul Jadid. Tak lain adalah KH. Zuhri Zaini. Kiyai Zuhri merupakan pengasuh Ponpes Nurul Jadid yang dikenal berakhlakul karimah.

Di bawah asuhan KH Zuhri Zaini, Ponpes Nurul Jadid sudah banyak berkembang. Seperti berdirinya Universitas Nurul Jadid. "Santri juga setiap tahun selalu bertambah," kata Junaidi.

Menurutnya, menjadi seorang santri itu bukan halangan untuk berprestasi. Baik berprestasi di bidang akademik ataupun olahraga. Karena di pesantren, hampir semua pelajaran itu dipelajari, baik pelajaran formal ataupun non-formal. Bahkan di masa pandemi ini, hanya santri yang bisa belajar langsung kepada ustaznya. “Di luar ponpes, kebanyakan masih daring,” tuturnya.

Hal ini yang menjadi nilai lebih bagi para santri. Sehingga tidak ada alasan bahwasanya santri itu harus ketertinggalan. Di sekolah masing-masing santri juga mempelajari digital, jadi santri juga harusnya mampu bersaing pada era 4.0 ini. "Intinya fokus belajar dan  sungguh-sungguh," ujarnya.

Karenanya, kata Junaidi, selain berilmu dan berakhlakul karimah, santri juga harus siap jiwa dan raganya sehingga selalu dihormati oleh masyarakat. (zr/don)