Usman Afandi


Wartawan Tadatodays.com | 2021-01-29 14:13:35

Kadar Air di Teluk Pangpang Banyuwangi Mulai Diteliti

PERAIRAN: Peneliti dari ARuPA saat mengambil sampel air di Teluk Pangpang, Banyuwangi.

BANYUWANGI, TADATODAYS.COM - Kawasan Teluk Pangpang di Kabupaten Banyuwangi, telah ditetapkan oleh Gubernur Jawa Timur sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) sejak 27 Juli 2020 melalui surat keputusan (SK) nomor 188/338/KPTST/013/2020. Pasca penetapan itu, Teluk Pangpang kini mulai dilakukan penelitian untuk menguatkan kelembagaan kepada masyarakat di area pesisir.

Staf Aliansi Relawan untuk Penyelamat Alam (ARuPA), Wibisono, saat ditemui tadatodays.com pada Kamis (28/1/2021) kemarin, di Dusun Kedung Sumur, Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi menjelaskan, penelitian yang dilakukan hari ini untuk menguji kadar air di wilayah KEE Teluk Pangpang.

Baca Juga : Vaksinasi Tahap Dua di Banyuwangi Segera Dilakukan

Wibosono menjelaskan, dalam penelitian itu, pihaknya mengukur ada atau tidak adanya kadar oksigen dalam air, kadar garam, dan kecerahan air. “Itu fungsinya berkaitan dari rencana kedepan,” jelasnya.

Baca Juga : KPU Tetapkan Cabup-Cawabup Banyuwangi Terpilih

Dalam penelitian tersebut, ARuPA yang berkantor di Yogyakarta itu, bekerja sama dengan BKSDA Jawa Timur dalam program penguatan kelembagaan pengelolaan KEE. Terlebih, BKSDA Jatim juga telah menginventarisasi keanekaragaman hayati di Teluk Pangpang. ARuPA juga melibatkan peneliti dari 3 daerah, yanki Gresik, Sumenep dan Trenggalek.

Selain itu, mereka juga mengajak pengelola Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Dinas Perikanan Banyuwangi, pemerintah desa setempat, kelompok nelayan, hingga melibatkan kalangan akademisi untuk ikut membantu dalam menyukseskan program tersebut.

Melalui program tersebut, ARuPA tidak hanya mengadakan pelatihan atau pertemuan-pertemuan saja, akan tetapi juga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di kawasan KEE Teluk Pangpang. Karena itu, masyarakat di kawasan Teluk Pangpang ini tidak hanya untuk menjaga flora maupun faunanya saja. “Tetapi memberikan efek ekonomi terhadap masyarakat sekitar,” tambahnya.

Wibisono menambahkan, selama kegiatan 3 hari di Banyuwangi, ARuPA membaginya dalam tiga kegiatan. Di hari pertama, mereka belajar tentang teori, hari kedua praktiknya, dan hari ketiga membuat bisnis plan. “Intinya dari hasil ini, yang terpenting masyarakat menerapkan prinsip-prinsip konservasi,” katanya.

Sementara itu,dosen Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi Fakultas Pertanian dan Peternakan, Ervina Wahyu Setyaningrum, yang juga ikut serta dalam mendampingi kegiatan itu mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan ARuPA. Ia juga menjelaskan, bahwa penelitian tersebut untuk mengetahui kadar kualitas air yang terkandung di kawasan Teluk Pangpang.

Dari hasil penelitian itu, akan diketahui cocok atau tidaknya dalam mengembangkan potensi laut yang ada di KEE Teluk Pangpang. Sehingga, ke depan, kawasan tersebut selain diterapkan sebagai KEE juga bisa ditetapkan menjadi kawasan ekonomi, seperti budidaya udang, kepiting maupun budidaya lainya.

Tapi menurut Ervina, KEE Teluk Pangpang cocok untuk dimanfaatkan sebagai kawasan budidaya, mulai dari pengelolaannya, merawat, dan menjaga ekosistem di sekitarnya. ”Tinggal kemauan dari petani tambak,“ ujarnya.

Diketahui, berdasarkan data BKSDA Jatim pada tahun 2018, kawasan Teluk Pangpang memiliki panjang 8 kilometer, lebar 3,5 kilo meter, dengan luas wilayah termasuk perairan sekitar 3000 hektar.

Selain itu, wilayah Teluk Pangpang memiliki ketebalan hutan mangrove dari 200 hingga 600 meter. Tak heran jika kawasan tersebut menjadi habitat ribuan burung, yang setiap tahun singgah di kawasan tersebut. (usm/don)