Kampung Pesisir di Pasuruan Berubah Jadi Miniatur Piala Dunia, Ratusan Bendera Peserta Berkibar

Amal Taufik
Monday, 08 Jun 2026 17:25 WIB

BENDERA: Suasana perkampungan Desa Gerongan, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.
PASURUAN, TADATODAYS.COM - Demam Piala Dunia 2026 mulai terasa hingga ke pelosok kampung di Kabupaten Pasuruan. Di Desa Gerongan, Kecamatan Kraton, ratusan bendera negara peserta turnamen sepak bola terbesar di dunia itu berkibar di sepanjang jalan desa, menciptakan pemandangan yang tak biasa bagi siapa pun yang melintas.
Desa yang berada di kawasan pesisir utara Pasuruan tersebut memang memiliki tradisi unik setiap kali Piala Dunia digelar. Warga setempat menyebut kampung mereka sebagai "Kampung Gibol" atau Kampung Gila Bola, sebuah julukan yang lahir dari kecintaan masyarakat terhadap sepak bola.
Memasuki pintu desa, pengunjung langsung disambut deretan bendera berukuran besar yang dipasang di atas tiang bambu setinggi 10 hingga 15 meter. Bendera-bendera itu berjajar hingga ke gang-gang perkampungan, menghadirkan suasana layaknya kawasan penyelenggara Piala Dunia.
Brazil, Argentina, Portugal, Jerman, Prancis hingga Inggris menjadi negara yang paling banyak menghiasi kampung tersebut. Negara-negara itu merupakan tim favorit sebagian besar warga Desa Gerongan.
Menariknya, seluruh atribut yang terpasang berasal dari swadaya masyarakat. Warga rela mengeluarkan uang pribadi untuk membeli bendera dan perlengkapan pendukung lainnya demi memeriahkan pesta sepak bola empat tahunan tersebut.
Samian, salah satu warga, mengatakan tradisi memasang bendera sudah berlangsung sejak beberapa edisi Piala Dunia lalu. Kegiatan itu dilakukan secara sukarela tanpa perlu instruksi dari pemerintah desa maupun panitia khusus.

"Kalau sudah Piala Dunia, warga biasanya langsung kompak. Ada yang beli bendera sendiri, ada yang membantu memasang. Ini sudah menjadi kebiasaan setiap empat tahun sekali," ujarnya, Senin (8/6/2026).
Harga satu bendera berukuran besar berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu. Meski demikian, antusiasme warga tidak pernah surut. Bahkan jumlah bendera yang dipasang terus bertambah seiring mendekatnya pelaksanaan turnamen.
Tak hanya menghias kampung, warga juga rutin menggelar nonton bareng pertandingan tim favorit mereka. Kegiatan tersebut menjadi ruang berkumpul warga lintas usia sekaligus mempererat hubungan sosial di lingkungan desa.
Sekretaris Desa Gerongan, Kashani, menyebut keberadaan Kampung Gibol telah menjadi identitas tersendiri bagi desanya. Menurutnya, tradisi tersebut selalu berhasil menarik perhatian masyarakat dari luar daerah.
"Setiap Piala Dunia suasananya memang berbeda. Banyak orang datang hanya untuk melihat deretan bendera yang dipasang warga. Ini sudah menjadi ciri khas Desa Gerongan," katanya.
Bendera-bendera itu rencananya akan tetap berkibar selama turnamen berlangsung. Namun ketika kompetisi memasuki babak-babak akhir, warga biasanya mulai menurunkan bendera negara yang telah tersingkir dari persaingan. (pik/why)
.jpg)


Share to
 (lp).jpg)