Tadatodays


Wartawan Tadatodays.com | 2021-10-10 14:04:22

Kelabang Songo: Daul Pertama di Probolinggo

PENDAHULU: Latihan rutin kelompok daul Kelabang Songo di markasnya. Inilah kelompok daul pendahulu di Kota Probolinggo.

KELABANG Songo adalah “biang” maraknya musik daul di Kota Probolinggo.  Sebab, Kelabang Songo merupakan kelompok musik daul pertama yang eksis di Kota Probolinggo. Tokoh pendiri daul Kelabang Songo, yaitu Ariman, telah tutup usia. Namun, Kelabang songo masih tetap eksis di bawah kepemimpinan putri Ariman, yakni Yosevi Tea (27).   

Baca Juga : Sawunggaling: Daul Mirip dengan Cerita Joko Berek

Selasa (28/9/21) malam, tadatodays.com mengunjungi markas daul Kelabang Songo di Jalan Ikan Kerapu Gang 1 nomor 4, RT  1 – RW 9, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Yosevi Tea bersama para personel Kelabang Songo yang malam itu kompak mengenakan kaos seragam warna merah, berikut warga setempat, menyambut ramah.  

Baca Juga : Sawunggaling: Daul Mirip Cerita Joko Berek

Yosevi Tea menceritakan, Kelabang Songo didirikan oleh mendiang ayahnya mulai tahun 2007. Menurut Yosevi, kelompok musik yang dibentuk ayahnya dulu tidak langsung jadi daul Kelabang Songo. “Ini mula-mula hanya kelompok patrol untuk siskamling dan membangunkan orang untuk makan sahur di bulan Ramadan,” katanya.  

Lalu, dengan tujuan awal untuk siskamling dan membangunkan orang santap sahur saat ramadan, kelompok itu dibelikan peratalan patrol dari Jember. “Dari semula music patrol, akhirnya berkembang menjadi kelompok Kelabang Songo seperti sekarang,” ujar Yosevi.

PENERUS: Yosefi Tea (tengah) menyaksikan latihan anak-anak Kelabang Songo bersama staf Disdikbud Samsul Hidayat (kanan).

Mengapa bernama Kelabang Songo? Menurut Yosevi, nama ini ada makna filosofinya.  “Kelabang” memiliki seribu kaki yang menggambarkan banyaknya orang yang mendorong kereta. Sedangkan “songo” merupakan domisili markas kelabang songo. “Lingkungan kami ini kan masuk RW 9,” katanya.

Awalnya, Kelabang Songo hanya memiliki 15 anggota, yang terdiri dari anak-anak muda dan bapak-bapak RT 1 – RW 9.  Tetapi sekarang Kelabang Songo sudah bertambah menjadi 35 anggota, yang terdiri atas pemusik, 2 vokalis, kru sound sistem dan pendorong. Rata-rata mereka adalah pelajar sekolah dasar sampai pekerja.

Kelabang Songo tidak pernah merekrut anggota. “Kami tidak merekrut. Kalau ada yang memiliki hobi bermain musik tradisi, ingin main, ayo kita bergabung bersama. Tidak perlu mendaftar atau perkenalan diri. Kalau mau, ayo bergabung,” ujar Yosevi.

Kelabang Songo tidak secara khusus merekrut penari. Bila undangan tampil menghendaki ada sajian tari, maka Kelabang Songo akan berkolaborasi dengan sanggar tari yang ada di Kota Probolinggo, yaitu Bina Tari Bayu Kencana binaan Peni Priyono dan Panji Laras binaan Muji Rahayu.  

Menurut Yosevi, di fase awal menjadi kelompok daul, ada orang dari Madura yang didatangkan khusus untuk mengajarkan pola musik daul Madura. Setelah itu, Kelabang Songo mengembangkan sendiri karakter daul ala Probolinggo. Karakter itu kemudian diajarkan kepada generasi penerus atau orang-orang yang baru bergabung.

Proses itu berlanjut, dari kelompok dengan alat patrol seharga Rp 7 juta, berkembang sampai menjadi Kelabang Songo seperti sekarang. Sebagian besar alat musik yang dimiliki merupakan modal dari almarhum pendiri.  Ada juga beberapa alat musik yang diberi bantuan oleh pemerintah.

Soal kereta Kelabang Songo, menurut Yosevi, tidak langsung besar seperti sekarang. Mulanya masih hanya berupa gerobak dengan kerangka mobil pikap. Seiring semakin seringnya dapat undangan tampil, Kelabang Songo akhirnya bisa memiliki kereta dengan panjang 12 meter dan lebar 6 meter. Sedangkan untuk kepala keretanya dipilih barong, agar terlihat lebih garang.  

Kelabang Songo sudah memiliki banyak lagu, ciptaan sendiri maupun mengaransemen lagu lain. Ada 5 lagu ciptaan sendiri yang sering dibawakan Kelabang Songo untuk acara-acara yang didatanginya. Tiga di antaranya ialah lagu Bestari Probolinggo, Semipro, dan Petik Laut.  

Agus, vokalis sekaligus pencipta lagu di kelompok Kelabang Songo mengatakan, lagu Bestari Probolinggo versi Kelabang Songo bercerita tentang Kota Probolinggo. “Lagu ini biasa kami tampilkan dalam berbagai event di luar daerah,” katanya. Lagu Semipro bercerita tentang event seminggu di Kota Probolinggo (Semipro) yang rutin digelar Pemkot Probolinggo. Sedangkan lagu Petik Laut merupakan lagu yang biasa ditampilkan di kegiatan tahunan petik laut.

Ditanya soal ciri khas Kelabang Songo, Agus menyebut ada pada perkusi, warna musik dan syairnya. “Warga Probolinggo tidak semuanya orang Madura, pendalungan. Jadi Kelabang Songo memilih banyak lagu campursari dan Jawa, agar dapat lebih diterima oleh warga Probolinggo. Jadi, musik daul Kelabang Songo tidak total Madura,” papar Agus yang malam itu terbalut kaos lorek hitam putih.

Kelompok daul Kelabang Songo juga memiliki vokalis wanita bernama Nindy. Wanita 30 tahun ini juga seorang penyanyi dangdut. Awalnya, Nindy hanya ikut-ikutan latihan rutin Kelabang Songo. Lalu karena Kelabang Songo membutuhkan vokalis, akhirnya Nindy memutuskan untuk ikut bergabung.

Nindy mengakui butuh penyesuaian dari menyanyi dangdut ke musik daul. Tetapi fase penyesuaian sudah dia lewati. “Kesulitannya itu kalau dangdut itu lebih ketahuan nadanya. Kalo sini (daul) kan lain. Tapi, cuma butuh dua kali pertemuan sudah bisa menyesuaikan,” ujar Nindy.

Sebagai kelompok musik daul pertama yang ada di Probolinggo, Kelabang Songo dikenal tak ubahnya nama jenis musik.  Masih ada banyak orang yang ketika melihat kesenian serupa musik daul di Probolinggo langsung menyebutnya “nonton Kelabang Songo. Ini menandakan begitu kuatnya citra yang telah dimiliki kelompok Kelabang Songo. Tak salah bila sejumlah kelompok musik daul di Kota Probolinggo berdiri juga karena ingin meniru jejak Kelabang Songo.  

Namun karena pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir, Kelabang Songo tidak tampil sama sekali. Tujuannya agar pihak penyelenggara dan kelompok Kelabang Songo sama-sama terjaga. Sebab, selama pandemi memang kegiatan yang mendatangkan kerumunan massa masih tidak diperkenankan digelar, agar tidak menjadi media penularan Covid-19.

Walau menjadi kelompok daul yang pertama ada di Probolinggo, Kelabang Songo tidak jumawa. Kelabang Songo menyambut baik munculnya kelompok-kelompok daul baru. Menurut Yosevi, kelompok daul yang baru berdiri di Probolinggo tentu sama – sama memiliki tujuan baik. “Kami senang. Sebenarnya banyak kelompok daul sekarang. Mari bersaing sehat. Pasti kita sama-sama memilki tujuan baik untuk Probolinggo,” katanya.

Soal pengalaman tampil, Kelabang Songo tidak perlu diragukan. Mereka sudah sangat sering diundang tampil mengisi kegiatan-kegiatan di lingkungan Pemkot Probolingg. Selain itu, Kelabang Songo kerap dikirim sebagai delegasi kesenian Kota Probolinggo yang ditampilkan di acara hari jadi daerah-daerah, dari Banyuwangi sampai Jogjakarta. 

Selanjutnya, Yosevi berharap, musik tradisi di Kota Probolinggo tetap berkembang. “Supaya tetap ada, dan musik tradisi semakin disukai anak-anak muda,” tuturnya. (ata/why)