Keluar Duit Puluhan Juta, Rela Tak Makan demi Majukan Pariwisata

Syarif Hidayatullah
Syarif Hidayatullah

Tuesday, 18 Jun 2019 05:43 WIB

Keluar Duit Puluhan Juta, Rela Tak Makan demi Majukan Pariwisata

Di Balik pesona wisata Madakaripura Forest Park di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, ada sosok bernama Darso. Pria asal Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang itulah yang mengagas ide mengembangkan wisata buatan di desa yang ditinggalinya tersebut. Sayangnya, wisata tersebut kini rusak karena pengelolaannya yang tak beres.

MADAKARIPURA Forest Park mulai booming sejak 2017. Wisata buatan itu muncul berkat ide cemerlang Darso. Pria yang hanya tamatan SD ini mampu mengubah hutan belantara, menjadi wisata dengan panorama istimewa. Pria yang sehari-hari menjadi petani ini, tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi.

Lantas, bagaimana cara dia mengeksplorasi idenya menjadi sebuah wisata buatan yang indah? Salah satunya dengan memanfaatkan internet untuk referensi. Terutama dalam mengemas lokasi yang sebelumnya tidak memiliki daya pikat, menjadi lokasi wisata yang memikat.

Darso tak sendiri. Ia memanfaatkan anak-anak muda di desa setempat, untuk turut serta mengembangkan potensi desa. Darso saat itu berhasil meyakinkan warga, bahwa wisata bikinannya bisa moncer walau tanpa dukungan pemkab.

KREATIF: Sosok Darso, pria asal Negororejo, Kecamatan Lumbang yang mampu mengubah hutan belantara menjadi wisata menarik.

Dengan sukarela, walau tidak dibayar, Darso bersama kawan-kawan yang semuanya lulusan SD, berhasil menjadikan wisata Madaripura Fores Park dikenal di Indonesia. Bahkan, luar negeri. “Niat saya tulus ingin memajukan wisata di Kabupaten Probolinggo,” terangnya kala ditemui.

Selain Madakaripura Forest Park, Darso juga membuat sejumlah wisata di Lumbang, Sukapura, hingga Kecamatan Gading di Kabupaten Probolinggo. Di antaranya, Grand Park Pakel, di Desa Pakel, Kecamatan Sukapura; bukit Happy di Lumbang, Pesanggarahan Kali Ghede Tirto Ageng; dan River Tubing, Desa Gading.

Namun, dari semua sentuhan dan kerja kerasnya itu, hanya river tubing Kampung Hati yang bertahan. Sebab, river tubing Kampung Hati mendapatkan dukungan dari BUMDes. “Kalau yang lain belum,” ujarnya.

Di saat membuat sejumlah wisata banyak menghabiskan puluhan juta rupiah dari kantong pribadinya, Madakaripura Forest Park habis sekitar Rp 100 juta. Duit itu didapat dari Perhutani Rp 14 juta. “Sisanya saya pribadi,” tegasnya. Artinya, Rp 86 juta ia danai sendiri.

Meski, dari kantong pribadi, Darso mengaku tak pernah menyesal. Sebab, itu bagian dari keinginannya untuk ikut berperan serta membangun Kabupaten Probolinggo. “Sebab, di sini punya potensi yang luar biasa,” tegasnya.

BEDA KONDISI: Kondisi wisata Madaripura Fores Park, Kecamatan Lumbang dulu dan sekarang.

Namun, sayang potensi itu banyak yang tidak dimanfaatkan. “Kalau pas ramai, baru datang. Tapi, untuk berupaya bagaimana agar wisata itu besar, ini yang tidak dimiliki Kabupaten Probolinggo,” kritiknya.

Darso lantas menceritakan suka duka membangun tempat wisata. Madakaripura Forest Park misalnya. Pernah sempat dirinya tidak bisa makan. “Bahkan, ketika itu beli beras saja saya tidak punya,” kenangnya.

Meski kini semuanya ia tinggalkan, dalam benaknya ia masih punya keinginan untuk memajukan wisata. “Kuncinya selain kreativitas, dukungan dana juga diperlukan,” katanya.

Darso juga menyayangkan tutupnya Madaripura Forest Park. Dulu, saat uji coba wisata ini sempat memperoleh Rp 500 juta selama tiga bulan tahun 2017. Namun, karena tidak dikelola dengan baik, maka wisata itu kini tak lagi menjual.

Ironisnya, selama ini Darso dan teman-temannya hanya mendapatkan keuntungan satu persen. “Ini kan tidak adil,” katanya. Alasan itulah, yang membuatnya enggan meneruskan potensi wisata tersebut. (mm/sp)


Share to