Mochammad Angga


Wartawan Tadatodays.com | 2020-12-29 13:08:06

KH. Nizar Irsyad, Sosok Enerjik yang Terpilih Menjadi Ketua MUI Dua Periode

INSPIRATIF: KH. Nizar Irsyad terpilih seagai Ketua MUI dua periode. Ia berpesan pada generasi muda Islam untuk merawat dan menjaga komitmen keislaman dan kebangsaan.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - KH. Nizar Irsyad dikenal sebagai sosok ulama yang enerjik. Kenyang pengalaman di berbagai organisasi, Kiyai Nizar -sapaan akrabnya- berkomitmen menjaga dan merawat harmonisasi antar agama sebagai wujud Islam Rahmatan Lil ‘Alamiin.

Tidak suah menemui kiyai yang sejak kecil aktif di berbagai organisasi di bawah Nahdlatul Ulama (NU) itu. Kepribadiannya yang terbuka, membuatnya cepat akrab dengan banyak orang dari berbagai latar belakang.

Baca Juga : Haul Gus Dur, Lakpesdam NU Kota Pasuruan Tampilkan Teatrikal “Sengkuni Milenial”

“Mulai kecil, saya sudah diajarkan oleh ayah untuk membuka wawasan,” katanya memulai dialog dengan tadatodays.com. Menempuh Pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI), ia kemudian diarahkan untuk nyantri di Pesantren Sidogiri, Pasuruan, oleh sang ayah. Setelah lulus, Nizar menjabat sebagai sekretaris umum alumni santri Sidogiri dua periode.

Setelah menyelesaikan pendidikn di Sidogiri, ia kemudian memperdalam ilmu agamanya di Pesantren Alfalah, Kediri. Pendidikan agama memang menjadi fokus utama seperti pesan sang ayah, KH. Irsyad.

“Fokus ke pelajaran agama dari semua aspek. Satu missal, mulai dari cara membaca Alquran, kitab kuning seperti kitab Fahrul Qorib, Fathul Wahab Ihya Ulumudin, ilmu tafsir dan banyak yang lainnya,” terangnya.

Tak puas sampai di situ. Nizar melanjutkan Pendidikan agamanya di Pesantren Bustanul Arifin, Kediri. Kitab tafsir, aqidah, tauhid, tasawwuf, fiqih, mantiq, dan balaghah menjadi santapannya sehari-hari.

Setelah bertahun-tahun mendalami ilmu agama di beberapa pesantren tersebut, Nizar yang tinggal di Jl. Bengawan Solo, Keluruhan Sumberwetan, Kecamatan Kedopok itu, kembali ke Probolinggo untuk mengabdi di tengah-tengah masyarakat. Seperti yang ia lakukan kala terlibat di Program Peningkatan Peranserta Masyarakat (P3M) Otonomi Daerah (Otoda) di bawah naungan America Care selama satu tahun.

“Saya kemudian menjadi guru agama di Pesantren Raudhatut Tholibin, Kecamatan Kademangan,” katanya. Tak sekadar mengajar, Nizar juga bertekad mendidik santrinya sebagai generasi yang unggul tidak hanya di bidang agama. Namun juga bermanfaat bagi lingkungannya. Termasuk menjadi koordinator Muta'allimul Quran metode Qiraati.

Sebagai generasi muda saat itu, Nizar juga getol mendorong muridnya untuk aktif di berbagai organisasi keislaman. Seperti yang dilakukannya di sejumlah organisasi NU. Maklum, sejak usia 16 tahun, ia sudah aktif di Ansor. Badan otonom NU di level anak-anak muda.

Bahkan, ia pernah menduduki jabatan sebagai Ketua PAC GP Ansor Kademangan selama dua periode. Pria kelahiran 5 Mei 1965 tersebut juga ikut membina generasi muda NU mulai tingkatan IPNU dan IPPNU. Banom NU di level pelajar.

Baginya, generasi muda Islam wajib beraktivitas di organisasi Islam dengan paham Ahlusunnah Wal Jamaah sejak dini. Sampai kemudian ia masuk dalam jajaran kepengurusan Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Kademangan sebagai syuriah.

Hingga akhirnya ia menjadi Mustasyar PC NU Kota Probolinggo, Wakil Syuriah PC NU Kota Probolinggo dua periode. Sebelum menjabat sebagai Ketua MUI Kota Probolinggo dua periode, Nizar juga pernah menjabat sebagai Ketua MUI Kecamatan Kedopok juga dua periode.

“Saya banyak mengkader generasi muda NU mulai saat di Ansor, MWC NU, hingga PC NU. Kiyai-kiyai yang tidak duduk di kepengurusan kami libatkan untuk turut aktif membesarkan NU di level structural,” jelas bapak 3 anak ini.

Aktivitas di NU yang menuntut selalu siap sedia mengabdi di masyarakat, membuatnya semakin bersemangat. Salah satu yang memotivasinya adalah pesan pendiri NU KH. Hasyim Asy'ari.

“KH. Hasyim Asy'ari pernah berkata, barang siapa yang aktif dan membesarkan NU, ia adalah santriku,” katanya mengingat pesan salah satu pahlawan nasional tersebut. Karena itu, sesibuk apapun dalam mengurus NU, Nizar tak pernah mengeluh.

“Prinsip saya, siapa pun yang menolong dan membantu agama Allah, maka akan diberikan kemudahan. Yang penting menjadi pengurus itu diniati ibadah. Urusan rezeki pasti akan dipermudah oleh Allah SWT,” jelasnya bersemangat.

Keterlibatannya di MUI juga tak lepas dari niatan tersebut. Karena itu, ketika dipercaya menjadi ketua selama dua periode, ia mengaku selalu siap. Karena baginya, MUI menjadi wadah dan sarana untuk melakukan pembinaan keislaman.

“Di MUI, kami seluruh pengurus berusaha menjadi teladan umat. Baik umat Islam maupun di luar Islam. Hendaknya, sebagai umat agama yang menjadi rahmat bagi semesta, maka kami juga wajib menjaga ukhuwah Islamiyah dan wathaniyah,” katanya. (ang/sp)