Kisah Hamid Achmad, 13 Tahun Istikamah Jadi Imam Masjid Jamik Pasuruan Meski Rutin Cuci Darah

Amal Taufik
Amal Taufik

Monday, 02 Mar 2026 19:21 WIB

Kisah Hamid Achmad, 13 Tahun Istikamah Jadi Imam Masjid Jamik Pasuruan Meski Rutin Cuci Darah

BINCANG: Hamid saat berbincang dengan jamaah usai memimpin salat.

PASURUAN, TADATODAYS.COM - Matahari menggantung di atas Alun-Alun Kota Pasuruan, Senin (2/3/2026) siang. Di pelataran Masjid Agung Al-Anwar, seorang lelaki memakai kopyah putih melangkah pelan, menyalami satu per satu jemaah yang menyapanya dengan takzim. Dialah Hamid Achmad (63).

Warga mengenal Hamid Achmad sebagai imam tetap masjid jamik. Namun, tak banyak yang tahu, di balik langkahnya yang tenang, ada perjuangan panjang yang terus ia jalani sejak lebih dari satu dekade terakhir.

Di dalam ruang utama masjid, karpet hijau membentang rapi dengan garis saf yang tegas. Mihrab berukir emas berdiri megah, kontras dengan dinding putih dan pilar hijau tua di sekelilingnya. Ornamen kaligrafi menghiasi bagian atas, memantulkan cahaya siang yang masuk dari jendela-jendela tinggi.

Sebelum iqamah, Hamid tampak berdiri beberapa langkah dari mihrab. Tubuhnya tegap meski usianya tak lagi muda. Sorban putih melingkar di lehernya, kainnya jatuh sederhana hingga ke dada. Wajahnya tenang, tatapannya lurus ke depan.

Saat waktu hampir tiba, Hamid melangkah mendekat ke mihrab berornamen emas yang menjulang dengan detail ukiran klasik.

IMAM: Hamid saat menjadi imam di Masjid Agung Al Anwar Kota Pasuruan.

Sudah 13 tahun ia istikamah memimpin salat zuhur dan asar. Hampir tak pernah absen. Padahal sejak 2014, tubuhnya harus bergantung pada hemodialisis—cuci darah dua kali dalam sepekan akibat gagal ginjal.

Tahun itu menjadi titik balik hidupnya. Di saat yang hampir bersamaan, ia diminta menggantikan almarhum Ahmad Nadhif sebagai imam tetap masjid. Sebelumnya, ia hanya menjadi imam pengganti dan khatib rutin. “Sejak beliau wafat, saya diminta mengimami salat fardhu. Itu sekitar 2014,” tuturnya.

Bagi sebagian orang, kondisi kesehatan seperti itu mungkin menjadi alasan untuk beristirahat. Namun bagi Hamid, ruang mihrab adalah panggilan yang tak bisa ditinggalkan begitu saja.

Begitu azan zuhur selesai berkumandang, ia selalu menunaikan salat sunnah rawatib. Lalu duduk tenang di ruangan kecil di samping mimbar. Ia duduk beberapa menit menunggu iqamah, menata napas, menguatkan fisik. Ketika berdiri di depan mihrab, suaranya terdengar lembut namun tegas.

Tak ada yang berlebihan dalam caranya memimpin. Gerakannya terukur. Bacaan tartil. Tetapi di balik kesederhanaan itu, ada disiplin yang dijaga ketat.

Jadwal cuci darah yang menyita tenaga tidak lantas membuatnya mengendur. Ia mengatur waktu dengan cermat, yakni datang paling tidak 10 menit sebelum azan. Ini agar tubuhnya siap berdiri lebih lama di depan saf. “Selama masih kuat, insya Allah saya hadir,” katanya lugas.

Penyakit sempat memaksanya mengurangi aktivitas fisik. Salah satunya berhenti menyimak hafalan Al-Quran para santri di pesantren. Namun urusan mengimami salat di Al-Anwar, ia tak bisa tinggalkan.

Di luar jadwal masjid, Hamid juga masih mengajar Ushul Fiqih dan Ilmu Tafsir di Ma’had Aly Salafiyah, Kelurahan Kebonsari. Ritmenya mungkin tak lagi secepat dulu, tetapi konsistensinya tak pernah surut.

Akhmad Romadoni (30), salah satu jemaah menyebut, dirinya rutin salat zuhur di di Masjid Agung Al Anwar. Kantor tempatnya bekerja memang tak jauh dari masjid.

Ia mengaku sudah hampir 4 tahun selalu menjumpai Hamid sebagai imam zuhur. Bagi Doni, di usia Hamid seperti saat ini, istiqamah menjadi imam masjid merupakan sesuatu yang luar biasa.

"Saya tahu beliau sejak awal rutin salat zuhur di sini dan baru tahu kalau beliau punya sakit. Keteguhannya menjaga amanah sebagai imam masjid luar biasa," ujar Romadoni. (pik/why)


Share to