Klenteng Tjoe Tik Kiong Kota Pasuruan Memerah, Menyambut Tahun Kuda Api

Amal Taufik
Amal Taufik

Friday, 13 Feb 2026 15:46 WIB

Klenteng Tjoe Tik Kiong Kota Pasuruan Memerah, Menyambut Tahun Kuda Api

DEWI: Pengurus klenteng membersihkan patung Dewi Mak Co (Ma Zu).

PASURUAN, TADATODAYS.COM - Suasana Klenteng Tjoe Tik Kiong, Kota Pasuruan, pada Jumat (13/2/2026) pagi tampak sibuk. Umat Tridharma menyiapkan penyambutan tahun baru Imlek 2026 yang jatuh pada Selasa 17 Februari.

Sejumlah pria dan perempuan, sebagian besar berusia paruh baya hingga lanjut, terlihat hilir mudik di sekitar area klenteng. "Ini ibarat kalau di Islam adalah Idul Fitri. Kalau di Kristen dan Katolik, Natal. Imlek ini bagi kami seperti itu," kata Ketua Harian Pengurus Klenteng Tjoe Tik Kiong, Mellyana Sulistiawati.

Menjelang Tahun Baru Imlek, halaman klenteng berubah wajah. Warna merah mendominasi hampir seluruh sudut, memantul di lantai halaman yang basah dan mengilap, menciptakan kesan hangat sekaligus sakral.

Ratusan lampion merah digantung berderet rapi. Di bagian bawahnya, rumbai kuning emas menjuntai, sementara di badan lampion tertera aksara Mandarin dan ornamen khas.

IMLEK: Suasana Klenteng Tjoe Tik Kiong menyambut tahun baru Imlek.

Para pengurus merapikan altar dan menata perlengkapan sembahyang. Pohon hias dengan bunga merah muda diletakkan di sudut halaman, menambah nuansa semarak di antara dominasi merah dan emas. Tak ada hiruk-pikuk berlebihan, namun terasa jelas: klenteng sedang bersiap menyambut momen penting.

Di ruang depan, sebuah hiolo raksasa berdiri sebagai poros. Wadah dupa berwarna emas itu ditopang kaki-kaki kokoh berukir. Permukaannya berkilau tersapu cahaya. Sementara di ruang utama klenteng, kesibukan menjelang Imlek terasa lebih nyata. Bukan hiruk-pikuk, melainkan kerja-kerja sunyi yang dilakukan dengan penuh ketelatenan.

Tampak beberapa orang mengenakan kaus kuning mengelilingi meja panjang di ruang utama, membersihkan patung-patung dewa dengan lap dan air, menggosok setiap sudutnya dengan hati-hati.

Beberapa saat kemudian, dua pria menurunkan patung Dewi Mak Co (Ma Zu) dari altar. Sang dewi diletakkan di atas meja. Di sampingnya sudah siap bak berisi air kembang. "Ini tuan rumah klenteng ini. Namanya Dewi Mak Co. Membersihkannya memang harus pakai air kembang," kata Mellyana.

Dewi Mak Co merupakan dewi laut. Ia dipercaya sebagai dewi yang menolong dan melindungi nelayan dan pelaut. Mellyana menyebut Dewi Mak Co berasal dari dataran Pulau Meizhou, Taiwan.

KLENTENG: Lampion-lampion yang dipasang di halaman klenteng.

Zaman dahulu para nelayan di Pulau Meizhou sebelum berangkat berlayar, selalu meminta perlindungan kepada Dewi Mak Co.  "Dewi Mak Co itu sangat melindungi mereka. Misalnya dari badai atau hal-hal buruk lain. Dewi Mak Co juga menyembuhkan penyakit. Semua nelayan di Meizhou sangat memuja Dewi Mak Co," katanya.

Pengurus Klenteng Tjoe Tik Kiong sangat memuja dan memercayai Dewi Mak Co. Bahkan beberapa kali mereka pernah berkunjung Pulau Meizhou yang disebut sebagai rumah dan tempat lahir Dewi Mak Co. Di pulau tersebut terdapat patung besar Dewi Mak Co.

Menurut Mellyana, sebelum berangkat, mereka meminta petunjuk melalui pwa pwee. Pwa pwee adalah sepasang kayu berbentuk setengah bulan yang digunakan dalam ritual Tionghoa untuk bertanya atau meminta petunjuk kepada dewa/dewi melalui isyarat jatuhnya kayu tersebut.

"Kami sembahyang, berdoa, menyampaikan permintaan, dan meminta izin atau petunjuk. Nanti dijawab melalui pwa pwee. Yang mulia Mak Co bisa setuju, marah, atau tertawa. Ini juga digunakan dalam hidup sehari-hari. Saya, misalnya, ketika mau beli rumah minta petunjuk," ujarnya.

Kegiatan bersih-bersih pada hari ini disebut sebagai ayak abu. Ini rutin dilakukan tiap tahun menjelang tahun baru Imlek. Pada tanggal-tanggal sekarang ini dipercaya bahwa dewa/dewi sedang naik ke nirwana. Nanti pada tanggal 20 para dewa/dewi turun ke bumi lagi.

Di Klenteng Tjoe Tik Kiong, ada 10 meja altar yang masing-masing ditempati patung dewa/dewi. Pada momen menjelang Imlek ini, semua patung tersebut dibersihkan. Jubah-jubah yang dikenakan patung dewa/dewi juga turut dicuci. "Di sini ada banyak dewa. Ada Dewi Kwan Im, Dewa Kwan Kong, tapi tuan rumahnya Dewi Mak Co," tutur Mellyana.

Berdasar cerita dan arsip sejarah yang dikumpulkan pengurus klenteng, Klenteng Tjoe Tik Kiong diperkirakan berusia lebih dari 300 tahun. Salah satu bukti penguat usia tersebut adalah koin yang sampai saat ini terpacak di salah satu daun jendela.

Koin tersebut diperkirakan beredar di tahun 1615 M. nama Klenteng Tjoe Tik Kiong sendiri mempunyai makna dalam tiap kalimatnya, yaitu Tjo yang berarti masa; Tik yang berarti kebajikan; dan kiong berarti istana.

"Tidak semua klenteng tuan rumahnya Dewi Mak Co. Di klenteng yang ada di Tuban itu tuan rumahnya Kongco Kwan Kong. Beda-beda. Kalau di Pasuruan, karena ketika pertama kali datang, orang Tionghoa itu bawa Mak Co ini. Makanya kami jadikan tuan rumah," imbuh Mellyana.

Dalam kalender Tionghoa, Tahun Baru Imlek 2026 ini menandai masuknya tahun kuda api. Mellyana menjelaskan tahun kuda api melambangkan semangat yang berkobar menyongsong kesuksesan.

Kuda dikenal sebagai simbol kebebasan dan daya juang, sementara unsur api melambangkan gairah, ambisi, serta semangat yang menyala. Kombinasi keduanya diyakini melahirkan karakter tahun yang dinamis, penuh tantangan, namun juga membuka peluang besar bagi mereka yang siap bergerak dan beradaptasi.

"Di tahu kuda api ini, tentu kita semua harus terus memupuk semangat. Semangat kita harus lebih besar dari sebelumnya. Kuda api menjadi lambang kesuksesan di tahun yang akan datang," pungkas Mellyana.

Pagi ini, euforia tahun baru Imlek mulai terasa di Klenteng Tjoe Tik Kiong. Ornamen-ornamen yang telah dipasang seakan bersiap menyambut kuda api yang akan segera datang. Di ruang yang telah berusia ratusan tahun ini, harapan disembulkan: agar tahun baru membawa keberanian, rezeki, dan langkah yang lebih mantap menjemput kesuksesan. (pik/why)


Share to