Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2022-01-02 22:50:16

Komunitas Pemuda Watu Panjang, Ngecat Musala Secara Sukarela

DIPERCANTIK: Pemuda Watu Panjang aktif sebagai komunitas pengecat musala secara sukarela (kanan). Tak hanya musala saja yang telah dipercantik oleh Andi dan kawan-kawan, tapi juga rumah penduduk yang membutuhkan pasca diterjang bencana alam.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Di Kabupaten Probolinggo terdapat sekumpulan anak muda, yang hobinya tak banyak digemari oleh pemuda lainnnya. Ya, hobinya yakni mengecat musala. Hobi tersebut digeluti oleh komunitas Bernama Pemuda Watu Panjang.

Komunitas tersebut dibentuk oleh sekumpulan pemuda asal Desa Watu Panjang, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo. Tak hanya mengecat musala di Desa Watu Panjang, aktivitas sosial itu juga dilakukan hingga ke desa-desa lainnya.

Baca Juga : Komunitas Pemuda Watu Panjang, Mengecat Musala Secara Sukarela

Pada Jumat (17/12/2021), tadatodays.com bertemu dengan Ketua Pemuda Watu Panjang Andi Purwanto, di rumah salah satu anggotanya Moh. Romli, di . Di ruang tamu rumah itu, Andi bercerita awal komunitasnya terbentuk.

Andi menceritakan, komunitas itu terbentuk dari keinginan dirinya bersama 5 orang temannya untuk membentuk perkumpulan dengan kegiatan positif. Keinginan itu muncul karena banyak pemuda yang saat ini sudah terjerumus dengan hal-hal negatif. Seperti keluyuran tidak jelas, mabuk-mabukan, hingga mencuri.

Andi bersama 5 temannya pun berdiskusi. Dari diskusi itu, terkumpul 17 pemuda desa setempat yang sepakat untuk membentuk komunitas yang arah kegiatannya memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. Saat itu pula, nama komunitas Pemuda Watu Panjang disematkan. "Diambil dari nama desa kami," kata pria yang karib disapa Kipli itu.

Kegiatan pertama dilakukan dengan mengecat sebuah musala di desa setempat. Kemudian dilanjut dengan musala-musala lainnya, seperti musala yang ada di Kecamatan Tiris, dan salah satu musala yang terdampak banjir Dringu.

SOSIAL: Seiring berjalannya waktu, komunitas Pemuda Watu Panjang tidak hanya aktif mengecat musala. Komunitas tersebut juga respek terhadap bencana alam yang terjadi dengan mengirimkan bantuan sembako bagi korban bencana.

Kegiatan tersebut terus berjalan, hingga sudah lebih dari 10 musala yang dilakukan pengecatan oleh Pemuda Watu Panjang. Seiring berjalannya waktu, kegiatan sosial saat mengecat musala juga turut dilakukan. Seperti memberikan sembako kepada warga yang kurang mampu di sekitar musala yang dicat.

Sembako itu juga diberikan kepada warga yang terdampak bencana alam, salah satunya korban banjir Dringu. Tak hanya sembako, komunitas ini juga memberikan sumbangsih tenaga untuk membantu korban banjir Dringu yang memperbaiki rumahnya. Bahkan, Kipli dan kawan-kawan juga membantu bersih-bersih material banjir Dringu. "Untuk dananya kami iuran seikhlasnya," tuturnya.

Kegiatan yang dilakukan Pemuda Watu Panjang ini, ternyata menarik minat pemuda lainnya. Lambat laun anggota kelompok ini bertambah menjadi 29 orang, dengan usia rata-rata 20-28 tahun.

Untuk pembahasan kegiatan apa yang akan dilakukan selanjutnya, Pemuda Watu Panjang rutin melakukan pertemuan sebanyak dua kali setiap bulannya. Pertemuan tersebut dilakukan di berbagai tempat, sesuai dengan kesepakatan anggota. Mulai dari Pesanggrahan Bermi, di rumah salah satu anggota, ataupun di tempat wisata.

KOMITMEN: Aktivitas komunitas Pemuda Watu Panjang tidak hanya dirasakan oleh warga Desa Watu Panjang, Kecamatan Krucil. Warga Desa/Kecamatan Dringu, yang wilayahnya kerap dilanda banjir juga merasakan kegiatan positif komunitas tersebut saat mengecat salah satu musala yang terdampak banjir

Masih Terkendala Kecukupan Dana

PERJALANAN komunitas Pemuda Watu Panjang ini tidak semulus yang dibayangkan. Masih ada kendala-kendala yang dihadapi oleh Kipli dan kawan-kawan. Kendala yang paling utama ialah kecukupan keuangan. Sebab, anggaran kegiatan diperoleh dari iuran seikhlasnya.

Kipli menjelaskan bahwa uang yang bisa dikumpulkan komunitasnya tidak sampai banyak, dan rata-rata hanya 20 ribu rupiah saja. Hal itu diikarenakan banyak anggotanya yang belum bekerja. "Mau nekan harus berapa, tak enak juga," ucapnya.

Meski terkendala dana, namun Kipli tetap bersyukur karena saat ini komunitas Pemuda Watu Panjang telah mendapat hati masyarakat. Padahal, di awal pembentukan, komunitas ini direspons negatif karena dianggap hanya akan mabuk-mabukan, keluyuran dan bertindak anarkis.

Beruntung, angapan itu berhasil ditepis setelah komunitas ini membuat kegiatan pertamanya dengan mengecat salah satu musala sekitar. "Dengan itu, mulai tidak dipandang negatif," katanya.

Untuk mengikuti kelompok ini sangat mudah. Syaratnya, harus warga Desa Watu Panjang, pemuda usia maksimal 30 tahun, rutin mengikuti pertemuan minimal 3 kali pertemuan berturut-turut.

Ia berharap kelompoknya tetap solid, dan mendapat perhatian dari pemerintah desa setempat dan warga sekitar. Sehingga kendala keuangan yang saat ini hanya iuran anggota, bisa disokong oleh Pemerintah Desa Watu Panjang dan warga sekitar. (zr/don)