Langgar Kiai Asyari Singopolo: Saksi Pengabdian Prajurit Pangeran Diponegoro di Purwosari

Amal Taufik
Amal Taufik

Sabtu, 21 Mar 2026 05:06 WIB

Langgar Kiai Asyari Singopolo: Saksi Pengabdian Prajurit Pangeran Diponegoro di Purwosari

SAKSI PENGABDIAN: Langgar Kiai Asyari di Desa Karangrejo, Kecamatan Purwosari.

PASURUAN, TADATODAYS.COM - Di balik ketenangan Kampung Singopolo, Desa Karangrejo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, tersimpan sebuah narasi besar tentang pelarian prajurit Perang Jawa. Di sinilah Kiai Asyari, seorang santri sekaligus kombatan kepercayaan Pangeran Diponegoro, memilih menepi dan membangun peradaban spiritual usai meletusnya kecamuk perang pada 1830.

Kedatangan sang kiai di Karangrejo diperkirakan terjadi pada tahun 1858. Jejak fisiknya ditandai dengan sebuah pohon sawo tua. Konon, setiap murid Pangeran Diponegoro dibekali tiga biji sawo sebagai tetenger atau penanda identitas.

"Sayang, dari tiga pohon yang ditanam Kiai Asyari, kini hanya tersisa satu yang masih berdiri kokoh," ujar Mad Dolok (58), keturunan generasi ketiga Kiai Asyari, Selasa (17/3/2026).

Kiai Asyari dikenal sebagai ahli agama yang mendedikasikan hidupnya untuk mengajar Alquran bagi anak-anak desa. Bahkan, legenda lokal menyebutkan bahwa tokoh ikonik Pak Sakera pun pernah menimba ilmu di bawah bimbingan sang kiai.

Berkat jasanya, pada 1913, kepala desa setempat memberikan tanah untuk dibangun masjid.

Suasana bangunan saat ini nampak sangat bersahaja namun sarat akan nuansa spiritual yang kental. Bangunan tersebut memiliki teras luas dengan lantai keramik putih yang bersih dan berkilau, memantulkan cahaya lampu saat malam hari.

Arsitekturnya mengadopsi gaya rumah tradisional Jawa dengan atap limasan yang disangga oleh pilar-pilar kokoh. Pintu dan jendela kayu berwarna hijau kekuningan menambah kesan klasik pada bangunan tersebut.

Sejarah mencatat, masjid yang didirikan Kiai Asyari semula ditopang oleh delapan pilar kayu jati yang diangkut warga menggunakan cikar dari selatan Wonorejo. Namun, pada 1918, bangunan masjid itu dibongkar dan pilar-pilarnya dipindahkan untuk membangun Masjid Jamik Damarjati di Dusun Krajan.

Tanah asalnya sempat lama terbengkalai sebelum akhirnya Kiai Ali, putra Kiai Asyari, menitipkan wasiat sebelum wafat pada 1975 agar tanah itu kembali dibangun tempat ibadah.

Wasiat itu pun tunai pada 1987, ketika warga kembali mendirikan langgar di atas tanah bersejarah tersebut. Hingga kini, langgar tersebut menjadi pusat aktivitas warga, terutama saat salat tarawih di bulan Ramadan.

Keberadaan langgar ini juga dianggap sebagai area pepunden yang werit atau keramat. Mad Dolok menceritakan kisah tragis warga yang sakit-sakitan lalu meninggal dunia setelah nekad membongkar bebatuan di area ini meski sudah diperingatkan untuk tidak bersikap jumawa.

Bagi masyarakat Singopolo, langgar ini bukan sekadar bangunan kayu dan semen. Ia adalah pengingat akan perjuangan masa lalu.

Mad Dolok menyimpan harapan besar agar suatu hari nanti, bangunan ini bisa kembali menyandang status sebagai masjid, sesuai dengan takdir asalnya. "Entah nanti dari pihak keluarga atau orang lain yang membangun, cita-cita kami adalah mengembalikannya menjadi masjid," ujarnya. (pik/why)


Share to