Alvi Warda


Wartawan Tadatodays.com | 2022-03-27 21:30:43

Lanjutkan Jejak Ayah, Joko Dwi Terus Melukis

SENI RUPA: Menularkan ilmu melukis pada anak-anak merupakan cara yang dilakukan Joko Dwi agar seni rupa terus berkembang di Probolinggo. Kini di tengah pandemi, pria kelahiran tahun 1982 itu masih menularkan kemampuannya melalui les privat.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Bak buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitulah Joko Dwi Prastowo, pelukis asal Probolinggo. Kiprahnya kini meneruskan jejak ayahnya, yaitu pelukis senior mendiang Joko Sudarto. Joko Dwi saat ini meneruskan dan mengelola sanggar Hasta Kencana yang dulu didirikan ayahnya.

Rabu sore (23/3/2022), tadatodays.com mengunjungi kediaman Joko Dwi yang terletak di Jalan Krajan Baru No. 47, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Joko Dwi mengajak tadatodays.com memasuki bengkel tempat ia melukis dan melatih anak didiknya. Tempat itu tidak terlihat seperti rumah. Namun setelah masuk ke dalam, lukisan berjejer tergantung di tembok. Mulai dari lukisan kecil hingga lukisan besar.

Baca Juga : Lanjutkan Jejak sang Ayah, Joko Dwi Terus Melukis

Joko mengatakan, lukisan yang digantung ini adalah koleksi pribadi. Tak hanya berbahan kanvas. Ia pernah melukis di atas batu, tembok, kertas, kayu, cermin, dan kaus.

Uniknya lagi, Joko Dwi tidak hanya menggunakan media cat air atau minyak. Melukis baginya adalah hal untuk belajar dan mengeksplorasi segala sesuatu. Joko pernah menggunakan kopi, tanah liat, pensil, krayon, bubuk kayu, politur, serbuk toner fotocopy hingga bubuk hitam untuk ubin.

Pria kelahiran tahun 1982 ini mengatakan, memilih hidup sebagai seniman, memanglah tidak mudah. Namun, karena sedari kecil sudah tidak asing dengan dunia seni rupa, Joko Dwi berujar akan terus berkarya. Ia tidak hanya mengelola sanggar, namun juga membuka pelatihan bagi anak yang ingin pandai melukis. “Kenal ngelukis sebelum duduk di bangku sekolah. Usia TK tak asing dengan melukis,” ujarnya.

Berbagai macam kegiatanpun pernah ia tekuni. Semasa ayahnya masih mengajar di sekolah, ia menjadi asisten kecil sang ayah. Sejak kecil, Joko Dwi bahkan sudah melatih anak seusianya. Hingga ia memilih untuk mendalami seni rupa dengan kuliah di ISI Jogja. lalu bersama teman karibnya, Joko mendirikan sebuah perkumpulan yang menggeluti seni rupa.

Setelah lulus, ia terus menyelami seni melukis. Joko Dwi mengaku pernah bekerja sama dengan 23 sekolah, untuk mengajar seni rupa. Ia juga pernah dipanggil untuk melukis di Bali, selama satu tahun. Kemudian, ia juga membuka les privat, semi privat, les di sanggar, les di Gedung Kesenian Kota Probolinggo, dan membuka secara gratis stan lukisan di Pasar Minggu Alun-Alun Kota Probolinggo.

Namun, saat terjadi pandemi sejak tahun 2020, aktifitasnya terhenti 90 persen. Kini ia hanya mengelesi beberapa anak untuk privat dan semi privat, juga tak banyak anak yang datang ke sanggar Hasta Kencana dan Gedung Kesenian.

Joko Dwi tak pernah menyerah. Ia terus konsisten menjadi seniman lukis, meski jalannya tak seperti yang ia pikirkan. Mengajar sebagai guru seni budaya di MAN 2 Kota Probolinggo, tak pernah ia duga. Baginya, mungkin ini juga menjadi jalan untuk terus ia menyalurkan ilmu seni rupa.

Ia berharap, seni lukis atau seni rupa lainnya bisa terus berkembang di Probolinggo. Ia membuka lebar pintu Sanggar Hasta Kencana untuk masyarakat yang ingin belajar melukis atau sekadar berbagi pendapat. Selama ia memiliki ilmu, ia akan terus menyalurkannya. Agar seni rupa menjadi potensi yang meningkat di Kota Probolinggo. “Teruslah bergerak, lanjut saja, kalo ada yang mau sharing, saya terbuka. Saya ingin Probolinggo berkembang bareng-bareng,” tutur Joko Dwi. (alv/don)