Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2021-08-14 22:43:07

Lukman Hakim, Pemelihara Ikan Koi yang Tembus Pasar Ekspor

RUTINITAS: Selain menjalankan aktivitasnya sebagai komisioner KPU Kabupaten Probolinggo, Lukman juga rutin memberi makan koi peliharaannya. Alhasil, koi miliknya menghasilkan warna yang menarik dan memikat setiap konsumennya (insert).

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Koi merupakan ikan hias yang banyak diminati masyarakat, baik untuk hiasan akuarium ataupun di kolam rumahnya. Di Kabupaten Probolinggo, ada salah seorang peternak ikan koi yang pemasarannya sampai ke luar negeri. Mulai dari Malaysia, Republik Dominika, dan Jerman.

Pemelihara sekaligus peternak koi tersebut adalah Lukman Hakim. Tak sulit untuk bertemu dengan Lukman Hakim, pemilik Sentra Koi yang berlokasi di Perumahan Tiara Residence, Desa Sumberlele, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Melalui janji via whatsapp, tadatodays.com akhirnya bertemu dengan Lukman di Sentra Koi miliknya.

Baca Juga : Lukman Hakim, Pemelihara Ikan Koi yang Menembus Pasar Ekspor

Saat ditanya sejak kapan pelihara koi, Lukman bercerita bahwa pemeliharaan ikan koi itu ia mulai sejak tahun 2013 lalu. Kala itu, di rumahnya, di Perumahan Tiara Residence ada sisa tanah yang tidak dipakai. Lantas, sebidang tanah kosong itu ia manfaatkan untuk dijadikan kolam ikan. Ia pun mulai memelihara ikan koi untuk dijadikan hiasan, sekaligus pengisi kegiatan saat santai di rumahnya.

Dengan telaten ia merawat ikan koi yang ia pelihara, hingga akhirnya ikan tersebut terus tumbuh besar.

Singkat cerita, suatu ketika ada seorang temannya yang datang main ke rumahnya, lalu melihat kolam yang berisi koi miliknya itu. Tak disangka, ternyata orang tersebut tertarik untuk membelinya.

Hanya saja Lukman tidak ingin menjual ikan yang sudah ia rawat dengan sepenuh hati itu. Namun karena desakan dan paksaan dari temannya itu, akhirnya ia terpaksa membandrol harga. Karena masih dalam pikiran tak ingin menjual, ia pun mematok harga tinggi yakni Rp 1 juta.

Dengan harga tinggi itu, ia berharap agar temannya tidak jadi membelinya. "Tetapi tetap saja dibeli," katanya pada tadatodays.com.

Karena itu, ia pun berinisiatif untuk memelihara lebih banyak koi untuk dibudidayakan. Usaha itu membuahkan hasil. Teman-temannya sering datang ke rumahnya untuk membeli ikan koi peliharaannya. Karena banyak pelanggan yang datang untuk membeli ikan, sang istri pun menyarankan untuk membuat kolam di depan rumah saja. Sehingga pelanggan tidak perlu masuk ke dapur rumah untuk melihat atau membeli ikan peliharaannya itu.

Sesuai saran istrinya, ia langsung membuat kolam di depan rumahnya. Kemudian, lambat laun semakin banyak yang membeli sehingga Lukman langsung membeli sebidang tanah kavling di bagian depan perumahan untuk dijadikan lahan budidaya koi.

Banyak spesies koi yang ia pelihara, namun yang paling banyak diminati oleh para pelanggannya yakni spesies koasusake, koasiro, susui, dan asagi.

Berkat ketelatenannya berbisnis ikan koi, saat ini Lukman sudah mampu menjual hingga ke luar negeri. Harga yang terjual cukup fantastis, yakni di kisaran angka Rp 3 sampai 5 juta untuk satu ekornya. Menurut alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini, harga tersebut tergantung dari spesies dan ukuran ikannya. Semakin bagus dan semakin besar ukuran ikan, maka akan semakin mahal nilai jualnya.

Meski sudah menjangkau pasar luar negeri, Lukman tetap menjual koi yang murah yakni di kisaran 10 ribu rupiah. Sehingga masyarakat yang wilayah Probolinggo ataupun daerah lainnya yang suka pelihara koi, namun tidak cukup budget, maka dengan harga terjangkau itulah para penggemar bisa membeli ikan koi untuk dipelihara. "Karena ingin menjangkau pasaran," kata Lukman.

Ikan koi yang di pelihara Lukman ini bukan koi biasa. Selain diminati pasar di luar negeri, ikan-ikan koi miliknya juga pernah mengikuti kontes di beberapa daerah. Di antaranya, lomba Koi Show di Malang pada tahun 2014 dan Lumajang Koi Festival tahun 2019.

Namun usaha budidaya ikan koi yang digeluti Lukman tidak semulus yang dibayangkan. Pasalnya, beberapa kali ikan yang ia pelihara mati sebelum terjual. Salah satunya ikan yang memenangkan lomba di Lumajang Koi Festival. Setelah menang di kontes tersebut, ikan koi itu sudah ditawar Rp 10 juta. Sedangkan Lukman ingin menjualnya seharaga Rp 11 juta.

Karena calon pembeli tersebut enggan membayar 11 juta rupiah, Lukman pun membawa pulang ikan tersebut. Tapi setelah beberapa hari di rumah, ternyata ikan tersebut mati.

Kata Lukman, memang penyakit ikan tidak bisa disangka. Apalagi penyakit ikan yang bernama Aeromonas Hydrophila. Menurutnya, penyakit aeromonas ini mirip seperti penyakit corona, yakni menyerang sistem pernapasan. Jika ikan sudah terpapar penyakit tersebut, maka ikan kesulitan bernapas dan menyebabkan kematian.

Nah, jika ada koi di kolam milik Lukman yang terkena aeromonas, ia langsung memisahnya agar tidak menular kepada ikan lainnya. Barulah ketika sembuh, ikan tersebut bisa dikumpulkan lagi bersama ikan lainnya.

Menurut Lukman, semua penyakit tetap ada obatnya. Berdaasarkan pengetahuan dan pengalaman dari pencinta koi lainnya, penyakit aeromonas itu dapat diobati dengan amoxicillin atau obat yang bernama PK. Termasuk juga dengan menggunakan garam grosok, atau garam asli tanpa campuran yodium. Bahkan garam tersebut cukup ampuh mengobati segala macam penyakit ikan. "Alhamdulilah di Probolinggo tidak kesulitan garam," ujar pria kelahiran Kota Blitar, Jawa Timur ini.

JAWARA: Plakat dan sertifikat juara 1 dalam Lumajang Koi Festival 2019 menjadi salah satu bukti kualitas ikan koi milik Lukman Hakim. Hal itulah yang menjadi alasan koi miliknya mampu menembus pasar ekspor.

Masa Pandemi, Sasar Penjualan ke Luar Negeri

DI masa pandemi covid-19 ini, semua sektor perekonomian terkena imbasnya, tidak terkecuali Sentra Koi milik Lukman Hakim. Saat ini, omset setiap bulannya untuk penjualan di Indonesia masih berkisar Rp 2 sampai 2,5 juta. Jika sebelum pandemi, penjualannya bisa lebih dari angka tersebut.

Di grup lelang koi yang ia ikuti, setidaknya banyak yang mengikuti lelang. Namun kali ini yang mengikuti dapat dihitung dengan jari, bahkan sampai tidak ada yang ikut lelang.

Menurut Lukman, kemungkinan pasar koi di Indonesia sendiri dipengaruhi dari menurunnya ekonomi masyarakat. Sehingga yang awalnya ingin membeli ikan, kini lebih memilih membeli kebutuhan sehari-harinya.

Lukman masih beruntung, karena penjualan ekspornya masih tergolong lancer. Sudah ada beberapa ikan miliknya yang sudah dipesan. Cara penjualan yang dilakukannya yakni secara online, dengan mengirim video serta ukurannya, barulah penentuan harga. Jika calon pembeli sudah sepakat dengan harga yang dipatok, maka akan dilanjut dengan pengiriman menggunakan jasa pengiriman khusus.

Menurut Lukman, lancarnya pasar ekspor ini karena perekonomian di luar negeri masih stabil. Selain itu,  harga ikan koi di Indonesia jauh lebih murah dibanding haraga koi di Jepang. Sedangkan kualitas ikan koi Indonesia tidak jauh berbeda dengan ikan koiJepang. "Kalau ekspor per bulan bisa 5-10 juta rupiah," kata pria yang juga sebagai Ketua KPU Kabupaten Probolinggo ini.

Lukman menyebut koi menjadi salah satu bisnis yang perlu dipertimbangkan oleh masyarakat, khususnya masyarakat Kabupaten Probolinggo. Karena ikan koi mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, dibanding dengan ikan konsumsi. (zr/don)